Opini

Pura-pura Baik dan Baik Pura-pura

Penjaga rumah yang melakukan kejahatan (Serambi, 4/9/2019), dan tren kejahatan yang menimpa generasi milenial semakin meningkat

Pura-pura Baik dan Baik Pura-pura
Sulaiman Tripa, Ketua Bagian Hukum dan Masyarakat FH Unsyiah 

Belajar pada kasus

Dalam masyarakat yang baik, seharusnya hukum menjamin dari perilaku orang yang jahat walau berpura-pura baik. Hukum yang ada dalam kehidupan masyarakat, memainkan peran dalam proses pencapaian realitas yang baik itu, bukan yang pura-pura baik. Dilahirkanlah tatanan, baik melalui konsensus secara emansipatif (lewat proses yang buttom up), maupun lewat proses top down menetes dari puncak kekuasaan.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa manusia adalah makhluk yang tidak bisa hidup di luar tatanan. Manusia membentuk hukum sebagai wajah dari tatanan tersebut. Namun semakin hari, konstruksi tatanan semakin ketat terkait dengan kebutuhan yang juga meningkat. Pada saat yang sama, perlawanan terhadap tatanan juga berlangsung. Perlawanan tersebut tidak saja melalui wujud kejahatan. Untuk jenis kasus tertentu, perlawanan juga bisa berlangsung dengan memanipulasi tatanan yang sudah ada.

Kasus di atas, memperlihatkan niat buruk yang diawali dengan perilaku baik, bisa menimpa pada orang yang baru saling kenal. Namun tidak sedikit, kasus terjadi dan dilakukan oleh orang dekat. Orang-orang yang sudah mendapat kepercayaan dari korban, menjadi pihak yang melakukan kejahatan.

Seperti kata pepatah, "pagar makan tanaman". Pelaku kejahatan dengan berbagai bentuk, sudah banyak dilakukan orang yang seharusnya menjaga korban. Orang dekat yang memerkosa. Penjaga rumah yang mencuri. Pembantu rumah tangga yang membawa lari anak majikan.

Kejahatan tersebut berlaku dalam suasana saling percaya antara pelaku dan korban. Orang yang dipercaya, diyakini tidak akan melakukan hal-hal yang sebaliknya. Bisa disebut dengan istilah kejahatan dari orang dekat.

Tatatan di atas, bukan berarti tidak bisa dimanipulasi. Dalam hal ini, hukum sebagai salah satu wujud tatanan, digunakan untuk melancarkan keserakahan manusia. Hukum dipakai untuk melegitimasi persekongkolan dan permufakatan jahat. Orang-orang dengan penampilan menarik dan berwajah lugu, menjadi terhukum karena jatah ilegal, persen proyek, atau menerima suap.

Kejahatan tetap kejahatan

Kondisi ini mengingatkan pada satu tesa lama yang diungkapkan oleh Lambroso, kurang lebih setengah abad yang lalu. Secara sederhana, ia mengaitkan fisik manusia dengan kejahatan. Orang yang memiliki fisik tertentu, berkemungkinan melakukan kejahatan kepada orang lainnya.

Tesa ini dalam waktu yang lama diterima banyak pihak-termasuk pembelajar hukum dan kriminologi. Sehingga orang-orang yang mengetahui tesa ini, akan menjaga jarak dengan orang yang memiliki fisik seperti yang digambarkan.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved