Dengan Segala Kekurangan dan Keterbatasan, Laksanakan Amanah Rakyat Aceh di Komite IV DPD RI

ANGGOTA DPD RI Perwakilan Aceh Drs Ghazali Abbas Adan mengatakan berdasarkan pamahaman dan keyakinan akan kebenaran firman Allah

Dengan Segala Kekurangan dan Keterbatasan, Laksanakan Amanah Rakyat Aceh di Komite IV DPD RI
IST
Anggota DPD RI Perwakilan Aceh, Drs Ghazali Abbas Adan mendampingi Wakil Ketua MPR RI, Dr Hidayat Nur Wahid saat melakukan kunjungan kenegaraan ke gedung parlemen Inggris beberapa waktu yang lalu. Ikut serta dalam kunjungan tersebut beberapa anggota MPR RI dan Dubes Indonesia untuk Kerajaan Inggris, Dr Rizal Sukma.

“Katakan (hai Muhammad), ya Allah pemilik segala kekuasaan (jabatan), Engkaulah yang memberi kekuasaan (jabatan) kepada siapa saja yang Engkau kehendaki, juga mencabutnya dari siapa saja yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa saja yang Engkau kehendaki, juga sebaliknya. Di tangan-Mu terletak segala kebaikan/kemaslahatan. Sesungguhnya Engkaulah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Quran, Surat Aali Imraan, ayat 26).

Anggota DPD RI Perwakilan Aceh Drs Ghazali Abbas Adan mengatakan berdasarkan pamahaman dan keyakinan akan kebenaran firman Allah tersebut, betapa kekuasaan (suatu jabatan) semua sudah diatur oleh Allah. Dengan keyakinan demikian, bahwa mendapat dan/atau hilangnya suatu kekuasaan/jabatan menjadi lumrah dan normal belaka dan tetap dalam kesyukuran. Dan apabila Allah buka peluang untuk suatu kekuasaan/jabatan, niscayalah diusahakan mendapatkannya dengan cara-cara yang benar, jujur dan halal. Kemudian apakah halal atau haram, jujur atau curang dalam proses mendapatkan suatu jabatan boleh berbohong di mata manusia, tetapi tidak bisa di mata Allah.

 “Ini berbanding lurus bahwa jabatan yang didapatkan dengan cara-cara yang tidak benar, haram dan menyebabkan apapun yang didapatkan dari jabatan itu maka ia adalah pendapatan haram pula. Dengan resiko, mungkin bisa lolos dari jeratan hukum dunia tetapi tidak bisa dari siksa Allah di akhirat, karena Rasulullah SAW dalam satu hadisnya menyatakan kullu lahmin nabata min haraam fannaaru aulaa bih (setiap daging yang tumbuh dari yang haram, maka api neraka paling berhak baginya),” kata Ghazali Abbas.

 Ghazali Abbas menambahkan demikian pula berkaitan dengan tanggungjawab atas amanah dari jabatan itu. Apakah dilakukan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) nya atau sesukanya  dengan adegan dan akting yang tidak berkaitan dengan tupoksinya itu. Boleh mengakalinya, membuat pencitraan, bersandiwara dan bersembunyi dari kesungguhan pelaksanaan amanah itu di mata manusia. Akan tetapi tidak di mata Allah karena Allah itu senantiasa bersama hamba-hambaNya (Quran, Surat An-Nisa’, ayat 108, Al-Hadid, ayat 4, Al-An’am, ayat 3).

 “Dan ketika kekuasaan/jabatan itu berakhir, maka bentuk kesyukurannya adalah menerimanya dengan lapang dada. Karena betapa sangat banyak hamba Allah lainnya tidak pernah mendapatkannya. Akan tetapi dengan izin dan kehendak Allah sudah pernah meraihnya dengan rupa-rupa pengalaman darinya. Terutama pengalaman hangatnya persahabatan dan persaudaraan dengan teman-teman anggota DPD/MPR RI sebangsa dan setanah air Indonesia dalam semangat bhinneka tunggal ika,” kata Ghazali Abbas.

 Amanah Rakyat di Komite IV DPD RI.

Ghazali Abbas merasa sangat bersyukur karena telah menjadi bagian dari Keluarga Besar Senayan. Dan juga telah mendapatkan banyak pengalaman darinya.

 “Alhamdulillah, dengan izin dan kehendak Allah dan atas dukungan masyarakat Aceh, saya telah pernah menjadi keluarga besar Senayan 1992-2004 sebagai anggota MPR/DPR RI dan 2014-2019 sebagai anggota DPD/MPR RI dengan rupa-rupa pengalaman darinya. Khusus sebagai anggota Komite IV DPD RI banyak pengalaman yang saya dapatkan, diantaranya, pertama menjadi tempat belajar dan mendapatkan banyak ilmu baru. Kedua, tempat mengartikulasikan aspirasi masyarakat. Kedua hal ini berbanding lurus dengan bukti profesionalitas pelaksanaan amanah sebagai anggota parlemen di lembaga DPD RI,” ungkap Ghazali Abbas.

 Senator Aceh ini menambahkan sebagaimana yang sering ia paparkan di banyak kesempatan dan tempat, bahwa yang dikatakan profesionalitas/profesionalisme itu sesuai dengan definisinya adalah sifat-sifat (kamampuan, kemahiran, cara pelaksanaan sesuatu dan lain-lain) sebagaimana yang sewajarnya terdapat pada atau yang dilakukan oleh seorang profesional. Profesionalisme sendiri berasal dari kata profesi yang bermakna berhubungan dengan profesi dan memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya (KBBI, 1994). Jadi, profesionalisme adalah tingkah laku, kepakaran atau kualitas dari seseorang yang profesional (Longman, 1987).

 “Adalah anggota DPD RI sebagai anggota lembaga parlemen dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) yang jelas yakni legislasi, anggaran dan pengawasan yang terakumulasi dalam fungsi representasi. Niscaya haruslah mampu bekerja amanah dan profesional, tentu ianya juga harus memenuhi apa yang menjadi definisi profesionalisme tersebut. Omong kosong dan bohong besar bicara kerja keras di perlemen apabila tidak memiliki ilmu sesuai tupoksi, kemampuan berbicara artikulatif, penampilan yang meyakinkan dan apalagi kalau malas ikut rapat-rapat sesuai agenda yang telah ditetapkan di setiap masa sidang berdasarkan  konstitusi serta peraturan dan tata tertib DPD RI,” kata Ghazali Abbas.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved