Pesawat Batal Terbang, Kabut Asap Mulai Selimuti Aceh
Pesawat Wings Air bahkan terpaksa membatalkan penerbangannya dari Bandara Kualanamu, Sumatera Utara, menuju ke Bandara Malikussaleh
* Firefly Alihkan Pendaratan ke Langkawi
LHOKSEUMAWE - Kabut asap yang mulai menyelimuti Aceh, Rabu (18/9), telah menyebabkan gangguan penerbangan. Pesawat Wings Air bahkan terpaksa membatalkan penerbangannya dari Bandara Kualanamu, Sumatera Utara, menuju ke Bandara Malikussaleh, Aceh Utara.
Kepala Tata Usaha Satuan Pelayanan Bandara Malikussaleh, Niswan, menuturkan, sebenarnya jadwal penerbangan Wings dari Bandara Kualanamu pukul 13.30 WIB. Namun sampai dengan pukul 14.30 WIB pesawat belum juga terbang. "Hasil konfirmasi kita, pesawat harus menunda penerbangan akibat kabut asap yang jarak pandangnya tinggal 1,5 kilometer," ujar Niswan.
Sekitar pukul 15.30 WIB pihaknya kembali mendapatkan konfirmasi dari pihak Wings jika pesawat dipastikan tidak bisa terbang ke Bandara Malikusaleh. Padahal, jumlah penumpang dari Bandara Kualanamu sudah penuh, mencapai 72 orang. Sedangkan dari Bandara Malikussaleh telah menunggu sebanyak 64 orang.
"Informasi kita dapat, biaya tiket bagi penumpang akan dikembalikan setelah dipotong 10 persen. Hal ini karena gagalnya terbang pesawat akibat faktor alam," ujar Niswan.
Terkait kabut asap ini, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Malikussaleh Aceh Utara melalui Prakirawan Febrianto Simanjuntak, sebelumnya juga telah mengeluarkan pemberitahuan melalui grup Whatsapp.
"Yth Bapak/Ibu, hari ini terpantau kabut asap mulai memasuki wilayah Aceh Utara. BMKG Malikussaleh Aceh Utara mengimbau masyarakat untuk berhati-hati dalam berkendaraan, seiring potensi menurunnya jarak pandang, menganjurkan untuk menggunakan masker ketika melaksanakan aktivitas di luar ruangan, serta banyak minum air saat beraktivitas di luar rumah untuk menjaga kesehatan," tulis Febrianto.
Selain di Lhokseumawe dan Aceh Utara, kabut asap dilaporkan juga terlihat di Aceh Tamiang, Langsa, Aceh Timur, Bireuen, dan Subulussalam. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tamiang, Syahri, juga membenarkan hal itu.
Syahri mengaku mendapat informasi kemunculan asap dari Direktur Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kebakaran. "Kebetulan saya sedang di Jakarta. Tadi Direktur bilang asap sudah sampai Aceh Tamiang," kata Syahri melalui telepon.
Dia memastikan kondisi ini akan dikoordinasikan dengan sejumlah instansi untuk segera dilakukan pencegahan dini. "Misalnya Dinas Kesehatan. Kita akan lakukan upaya pencegahan agar tidak berdampak negatif kepada masyarakat," ujarnya.
Imbauan juga dikeluarkan Kepala Dinas Kesehatan Bireuen, dr Amir Addani, yang mengajak masyarakat agar waspada terhadap kabut asap yang dapat membahayakan kesehatan. "Kalau ke luar rumah sebaiknya pakai masker, karena kabut asap itu dapat menyebabkan ISPA atau gangguan pernapasan," imbaunya.
Alihkan pendaratan
Sementara itu, pesawat Firefly yang terbang dari Aceh menuju Pulau Pinang, Malaysia, dilaporkan harus mengalihkan pendaratan ke bandara lain. Pesawat tidak bisa mendarat di Bandara Internasional Pinang karena diselimuti kabut asap.
“Pesawat berangkat dari Bandara SIM (Sultan Iskandar Muda) sekitar pukul 10.00 WIB. Tetapi tidak bisa langsung mendarat ke Pinang karena asap. Akhirnya dialihkan ke Langkawi, baru kemudian terbang lagi ke Pinang,” ujar pelaku usaha perjalanan di Banda Aceh, Kiswoyo.
Informasi lain yang diperoleh Serambi, ada juga pesawat dari Kualanamu yang batal mendarat di Pinang pada pukul 16.00 kemarin, sehingga akhirnya pesawat harus balik arah, terbang kembali ke Medan.
Sepanjang sore kemarin, Bandara Internasional Pinang, Malaysia, memang diselimuti kabut asap. Banyak warga Aceh yang dilaporkan mengalami penundaan penerbangan ke Kualanamu. “Cukup banyak warga Aceh berada di ruang tunggu Bandara Pinang karena pernerbangan delay (ditunda sementara), malah banyak penerbangan sudah dibatalkan,” kata seorang warga Aceh di Bandara Pinang, Fajar, kepada Serambi.
Informasi yang diperoleh Fajar, seharusnya keberangkatan ke Indonesia dilakukan pada pukul 14.00 WIB. Namun penerbangan itu ditunda dan para calon penumpang diminta menunggu hingga pukul 18.00 waktu Malaysia.
Selain ke Kualanamu, gangguan penerbangan juga terjadi untuk tujuan ke seluruh wilayah Indonesia. Fajar sendiri mengaku akan berangkat ke Jakarta pada pukul 15.00 waktu Malaysia, tetapi tertunda karena kabut asap. Baru sekitar pukul 19.00 WIB waktu Malaysia, pesawat sudah kembali diizinkan untuk lepas landas.
Seperti diketahui, saat ini sejumlah wilayah di Indonesia dan sejumlah negara tetangga diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan yang terjadi di Kalimantan dan Sumatera.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ada 2.719 titik panas kebakaran hutan dan lahan di seluruh Indonesia pada Rabu (18/9) kemarin. Titik tersebut tersebar di Pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Bali. Sementara total luas lahan terbakar selama Januari hingga Agustus mencapai 328.724 hektare.
Luas kebakaran gambut paling luas di Riau (40.553 hektare), Kalimantan Tengah (24.883 hektare), Kalimantan Barat (10.025 hektare). Karhutla juga terjadi di Jambi, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kalimantan Timur, Aceh, Bangka Belitung, Kalimantan Utara dan Maluku Utara.
Sementara itu, Kepala Seksi (Kasi) Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda (SIM) Banda Aceh, Zakaria, menyatakan, kabut asap yang terjadi di beberapa kabupaten/kota di Aceh kemungkinan merupakan kabut asap dari provinsi lain di Sumatera yang terbawa angin ke sebagian wilayah Aceh.
"Apabila dilihat dari informasi BMKG, selama beberapa hari ini tidak ada titik panas (di Aceh), kemungkinan itu kabut asap dari provinsi lain di Sumatera, dan kalau kita lihat arah anginnya dari Tenggara," jelasnya saat dikonfirmasi Serambi, Rabu (18/9).
Ia mengatakan kabut asap yang melanda beberapa kabupaten/kota di Aceh itu sudah mulai terlihat sejak Selasa (17/9) pukul 16.00 WIB. Menurut Zakaria, kabut asap yang terjadi saat ini sudah sedikit mengkhawatirkan. Berdasarkan informasi yang diperolehnya dari BMKG Lhokseumawe, jarak pandang akibat kabut antara 2-4 kilometer, yang berarti agak pekat.
"Sementara untuk wilayah tengah Aceh masih bagus dengan jarak pandang 10 kilometer, sama halnya untuk wilayah barat selatan juga masih bagus. Wilayah timur dan utara Aceh yang mulai berdampak dengan kabut asap ini, sedangkan untuk di Banda Aceh hingga saat ini belum berdampak," jelasnya.
Zakaria menambahkan, kabut asap yang terjadi di beberapa kabupaten/kota tersebut kemungkinan akan bertahan hingga tiga hari. Namun semakin lama akan berkurang karena diperkirakan Kamis (19/9) akan ada sedikit hujan untuk wilayah utara timur Aceh, termasuk juga wilayah tengah, seperti Bener Meriah, Aceh Tengah dan Singkil. Kemudian Subulussalam, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara dengan curah hujan sedang hingga lebat.
Sedangkan wilayah Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Jaya, Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Nagan Raya diprediksikan hujan ringan hingga sedang. Sementara Sabang dan Simeulue diperkirakan cerah berawan. "Dengan adanya hujan di beberapa wilayah di Aceh, diperkirakan akan mengurangi kabut asap," ujarnya. Ia mengimbau masyarakat agar menggunakan masker ketika keluar rumah, dan perbanyak konsumsi air putih. (nun/mad/zb/bah/c49/c38/din/una)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/kabut-asap-mulai-menyelimuti-kabupaten-bireuen.jpg)