Disperindag Bahas Optimalisasi Tol Laut di Aceh  

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh, Kamis (19/9/2019), mengadakan Forum Pertemuan Teknis dengan Pelaku Usaha

Disperindag Bahas Optimalisasi Tol Laut di Aceh   
FOTO KIRIMAN ABDUSSALAM
Ketua Kadin Aceh, Vice President PT Pelni Pusat, Kadisperindag Aceh, dan pelaku usaha foto bersama pada pertemuan di Hotel Permata Hati, Desa Meunasah Manyang, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Kamis (19/9/2019).

BANDA ACEH - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh, Kamis (19/9/2019), mengadakan Forum Pertemuan Teknis dengan Pelaku Usaha di Permatahati Hotel and Convention Center, Desa Meunasah Manyang, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar. Pertemuan yang diikuti 50 peserta itu fokus membahas tentang perkembangan dan optimalisasi tol laut di Aceh.

Kegiatan yang mengusu tema ‘Optimalisasi pendistribusian bahan pokok dan barang penting antarpulau’ tersebut dibuka Kadisperindag Aceh, Drs Muhammad Raudhi MSi. Turut hadir Ketua Kadin Aceh, H Makmur Budiman SE, Direktur Utama PT Pelni, serta utusan dinas dan instansi terkait yaitu Biro Ekonomi Setda, Dinas Perhubungan Aceh, Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh, Dinas Perdagangan Banda Aceh dan Aceh Besar, Syahbandar, ASDP Indonesia Feri, PT Pelindo I, PT Pelni, dan Bulog Aceh.

Muhammad Raudhi dalam sambutannya mengatakan, perdagangan antarpulau yang dilakukan pelaku usaha dengan menyeberangkan barang menggunakan tol laut bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara daerah yang surplus dan minus serta memperkecil kesenjangan harga antardaerah/kepulauan. “Visi pemerintah untuk menciptakan kelancaran distribusi barang logistik sebagai upaya menekan inflasi dan disparitas harga antara daerah kepulauan salah satunya adalah melalui kegiatan tol laut,” ungkapnya.

“Di Aceh, pelaksanaan tol laut sudah dimulai sejak Juni 2019 dengan melayani rute Belawan-Lhokseumawe-Malahayati-Sabang-Tapaktuan-Belawan,” ujar Muhammad Raudhi.

Tujuan rapat itu, tambahnya, dalam rangka mendukung tol laut untuk perdagangan antarpulau dan provinsi, khususnya ke daerah terpencil, terluar, dan perbatasan yang akan maksimal apabila dilakukan melalui gerai maritim.

Ketua Panitia, Abdussalam SSos MSi, dalam laporannya mengatakan, pertemuan itu dilaksanakan untuk meningkatkan koordinasi dan menyatukan persepsi antara pemangku kepentingan di bidang perdagangan, khususnya terkait optimalisasi tol laut. Dengan adanya kegiatan ini, sebut Abdussalam, diharapkan terjadinya komunikasi langsung antara semua pihak untuk mengatasi masalah pada kegiatan tol laut.

Pertemuan ini, tambah Abdussalam, juga sebagai pedoman bersama antara instansi terkait dan  pelaku usaha untuk menyukseskan kegiatan tol laut. “Peserta forum ini sebanyak 50 orang yang terdiri atas dari distributor, pelaku usaha, dan dinas terkait. Adapun narasumber yang kita undang yaitu Ketua Kadin Aceh, PT Pelni, dan Disperindag Aceh,” rinci Abdussalam yang juga Kabid Perdagangan Dalam Negeri Disperindag Aceh.

Sementara Ketua Kadin Aceh, H Makmur Budiman, yang ditanyai Serambi, seusai acara kemarin, mengatakan, pihaknya menyambut baik pelaksanaan pertemuan tersebut. “Dalam forum itu antara lain terungkap bahwa selama ini informasi tentang jadwal kapal dan ongkos angkut dari Pelni masih kurang. Hal ini jelas membuat kebijakan Pemerintah Pusat soal tol laut tak terlaksana secara maksimal,” ungkapnya.

Karena itu, menurut Makmur, dalam pertemuan itu dirinya mengusulkan agar dibuat grup WhatsApp (WA) yang memuat tentang jadwal kapal dan ongkos angkut barang. Grup itu, sebutnya, antara lain beranggotakan Pelni, Pelindo, syanbandar, Kementerian Perhubungan, dan pelaku usaha. “Soal barang yang diangkut masih kurang, itu bisa dibahas kembali bagaimana caranya komoditas bisa diperbanyak,” tegas Makmur.

Ditanya apa peran yang akan dilakukan Kadin Aceh dalam rangka optimalisasi tol laut di Aceh, Makmur Budiman mengatakan, pihaknya akan mengontrol partisipasi dari PT Pelni, Pelindo, dan lembaga terkait lainnya dalam menyukseskan program tersebut. “Jika lembaga-lembaga itu kurang berperan kita akan sampaikan ke pusat agar dicarikan solusi,” jelas Makmur yang juga Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Banda Aceh ini. Apalagi, tambahnya, sekarang zaman sudah memasuki era industri 4.0, yaitu zaman dimana menghancurkan pola lama. Kita harus mengubah pola lama, harus ubah cara produksi lama, harus ubah cara mengajar lama, dan lain-lain,” pungkas H Makmur Budiman SE. (jal)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved