Jurnalisme Warga

Tiro Masyhur Masa Konflik, Adem di Masa Damai

Saya berkunjung ke Tiro setelah 14 tahun nota kesepahaman (MoU) damai antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM)

Tiro Masyhur Masa Konflik, Adem di Masa Damai
IST
ZULKIFLI, M.Kom., Akademisi Universitas Almuslim (Umuslim) dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Tiro, Pidie

OLEH ZULKIFLI, M.Kom., Akademisi Universitas Almuslim (Umuslim) dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Tiro, Pidie

Kunjungan saya ke Tiro, Pidie, kali ini merupakan yang kedua setelah pernah  mengunjunginya pada tahun 2003. Saya berkunjung ke Tiro setelah 14 tahun nota kesepahaman (MoU) damai antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ditandatangani tak ada maksud politis apa pun. Semata-mata hanya untuk menghadiri undangan walimatul ‘urs dari seorang sahabat saya yang bermukim di Tiro.

Saat menuju kampung Dr Hasan Muhammad Ditiro, sang deklarator Aceh Merdeka ini, di perjalanan saya berpapasan dengan dumptruck  yang lalu lalang mangangkut bahan galian C (pasir dan batu) serta truk tronton yang mengangkut hasil bumi Kecamatan Tiro.

Tiro merupakan nama sebuah kecamatan di Kabupaten Pidie, membawahi empat kemukiman dan 19 gampong. Topografi wilayahnya sebagian besar berupa pegunungan serta sungai dan persawahan.

Saat Aceh dilanda konflik, nama Tiro begitu meusyeuhu  (terkenal) sampai ke luar negeri, apalagi di kalangan aparat keamanan. Hal ini tidak terlepas dari tertabalnya kata Tiro di belakang nama sang deklarator Aceh Merdeka, Tgk Muhammad Hasan Ditiro atau Hasan Tiro. Nama lain yang juga terkenal bahkan sudah dinobatkan sebagai pahlawan nasional dari kecamatan ini adalah Teungku Chik Ditiro Muhammad Saman. Beliau adalah kakek buyutnya Hasan Tiro dari garis ibu.

Di masa konflik, wilayah yang berada di balik Gle Meulinteung  ini seakan padam dan kelam,  hampir tertutup semak-semak kemiskinan, keterbelakangan, dan keterisoliran. Tak ada gemerlap  pembangunan maupun kerlap-kerlip pemberdayaan masyarakat yang menonjol di sini. Malah daerah ini dulunya terkesan angker karena dijaga dan dipantau oleh banyak aparat keamanan. Pemantauan semakin diperketat terhadap orang per orang atau keluarga yang ada sangkut pautnya dengan Hasan Tiro, baik secara geneologis maupun ideologis.

Saat konflik, kehidupan warga Tiro sungguh tak nyaman dan tidak normal. Mereka tidak bebas beraktivitas. Siang malam diliputi rasa takut.  Gerak-gerik mereka dicurigai, apalagi jika mereka beraktivitas di kebun atau sawah. Bisa saja mereka dituduh menyembunyikan senjata atau peluru atau bahkan mengantar logistik untuk gerilyawan GAM yang bertahan di hutan. Tak jarang pula ujung bedil aparat tertuju kepada mereka karena dianggap punya hubungan dengan para kombatan.

Walaupun tidak semua warga Tiro terlibat atau mendukung perjuangan Hasan Tiro cs, tapi hampir tak ada kecuali masyarakat Tiro dicurigai sebagai pendukung gerakan yang oleh Soeharto diklaim sebagai gerakan separatis itu. Kawasan itu berstabilo merah, apa pun aktivitas dan gerakan tubuh warganya tidak terlepas dari pantauan radar para intelijen negara.

Bahkan secara seloroh ada cerita, saat konflik seorang pemuda gagal mempersunting gadis Tiro karena orang tua laki-laki tak berani pergi untuk melamar ke kawasan tersebut. Begitulah takutnya orang luar berkunjung ke Tiro pada masa konflik.

Malah saat bepergian ke luar daerah, warga Tiro ada yang tak berani menuliskan kata "Tiro" pada kartu identitas atau tanda pengenalnya. Memakai kata Tiro di kartu pengenal atau di surat jalan, seakan siap-siap sajalah menunggu interogasi atau dipersulit saat melewati pos pemeriksaan oleh aparat keamanan. Begitulah kurang lebih kondisi mencekam yang dialami masyarakat Tiro pada masa konflik.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved