Jurnalisme Warga

Peuphon Kitab, Tradisi Menjemput Berkah ala Santri Dayah

DAYAH adalah satu-satunya lembaga pendidikan yang sudah sangat mengakar sejak Islam bertapak di Aceh pada abad pertama Hijriah

Peuphon Kitab, Tradisi Menjemput Berkah ala Santri Dayah
IST
TGK. ARIA SANDRA, S.H.I., M.Ag., Guru Dayah Mahyal Ulum al-Aziziyah dan Dosen Hukum Keluarga Islam STIS NU Aceh, melaporkan dari Sibreh, Aceh Besar

OLEH TGK. ARIA SANDRA, S.H.I., M.Ag., Guru Dayah Mahyal Ulum al-Aziziyah dan Dosen Hukum Keluarga Islam STIS NU Aceh, melaporkan dari Sibreh, Aceh Besar

DAYAH adalah satu-satunya lembaga pendidikan yang sudah sangat mengakar sejak Islam bertapak di Aceh pada abad pertama Hijriah. Dimulai dari pendirian Dayah Cot Kala Langsa, kemudian lembaga dayah menyebar ke berbagai penjuru daerah, bahkan sampai ke Malaysia dan Thailand.

Dewasa ini, keberadaan dayah di Aceh terus berkembang pesat. Generasi muda Aceh banyak yang menimba ilmu di lembaga nonformal ini. Di tengah gencarnya serangan kehidupan bebas (seks bebas, LGBT, dan narkoba) dayah menjadi salah satu lembaga pendidikan yang terus-menerus mendidik karakter generasi islami.

Boleh jadi, selain sebagai laboratorium ulama masa depan, dayah juga berfungsi sebagai benteng masuknya pengaruh negatif ke tengah kehidupan masyarakat.

Sebagai lembaga pendidikan tertua di Aceh, dayah mempunyai perbedaan yang sangat signifikan dengan lembaga pendidikan umum lainya, bahkan juga tedapat perbedaan dengan lembaga pendidikan pesantren terpadu pada umumnya. Ada banyak kekhususan yang dimiliki dayah, salah satu di antaranya adalah  pada pergantian tahun baru Hijriah.

Di kalangan dayah, pergantian tahun Hijriah mempunyai makna tersendiri dalam menjalankan roda pendidikan. Hal ini dikarenakan, selain mempunyai nilai historis dalam tarikh Islam tentang peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad saw, pergantian tahun Hijriah juga merupakan tahun ajaran baru di lembaga pendidikan dayah di Aceh. Dengan pergantian tahun Hijriah, berarti lembaga pendidikan dayah telah masuk pada tahun ajaran baru.

Berbagai macam acara seremonial dilakukan dalam rangka menyambut tahun ajaran baru ini, mulai dari kegiatan yang bersifat wajib sampai pada kegiatan yang bersifat syiar.

Kegiatan yang bersifat wajib misalnya pelaksanaan ujian akhir semester, sebagai ajang penentuan lanjut atau tidaknya seorang santri ke jenjang berikutnya atau tetap bertahan di jenjang semula. Kegiatan ujian ini terkadang berlangsung 10 hingga 12 hari, kerena teknis pelaksanaannya yang berbeda dengan pelaksanaan ujian pada lembaga-lembaga pendidikan umum lainnya. Sebagai contoh, seorang santri harus membacakan matan kitab di hadapan penguji, kemudian dilanjutkan dengan penjabaran surah atau penjelasan tentang matan tersebut, lalu diakhiri dengan isykal atau tanya jawab antara penguji dengan santri.

Saat isykal tersebut sering kali terjadi diskusi panjang, karena santri harus mempertahankan argumentasinya sehingga memakan waktu yang lumayan lama. Setelah ujian selesai, santri pun disibukkan dengan aktivitas seremonial yang lain,  yaitu kegiatan perlombaan antarsantri, untuk menggali potensi atau bakat yang mereka miliki, seperti perlombaan baca kitab kuning, cerdas cermat, hafalan Alquran, dan lain sebagainya dalam rangka untuk memulai aktivitas belajar mengajar pada tahun ajaran baru.

Peuphon kitab

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved