Jurnalisme Warga

MMQ, Wahana Literasi Qurani

OPENING ceremony Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Ke-34 Provinsi Aceh di Sigli, ibu kota Kabupaten Pidie berlangsung meriah

MMQ, Wahana Literasi Qurani
IST
ADNAN, Pelatih MTQ Ke-34 Cabang MMQ Kafilah Aceh Utara, melaporkan dari Sigli, Pidie

OLEH ADNAN, Pelatih MTQ Ke-34 Cabang MMQ Kafilah Aceh Utara, melaporkan dari Sigli, Pidie

OPENING ceremony Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Ke-34 Provinsi Aceh di Sigli, ibu kota Kabupaten Pidie berlangsung meriah dan reflektif (Sabtu, 21/9/2019).

Ribuan masyarakat Pidie dan sekitarnya tumpah ruah menyaksikan event  bergensi dua tahunan ini yang berpusat  di Gampong Lampeudeu Baroh, Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie, Aceh. Penampilan tarian kolosal tari meusyuhu dan pelepasan 1.000 balon warna putih saat ditekan tombol sirene oleh Plt Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah MT didampingi mantan gubernur Aceh, Prof  Dr Syamsuddin Mahmud, Bupati, dan Wakil Bupati Pidie, Roni Ahmad dan Fadhlullah TM Daud, menambah semarak dan meriah pembukaan MTQ Ke-34 Provinsi Aceh tahun ini.

Lebih lanjut, perhelatan MTQ Ke-34 Provinsi Aceh ini akan berlangsung delapan hari berturut-turut, yakni sejak 20 sampai 28 September 2019 yang diikuti oleh putra-putri terbaik masing-masing cabang lomba dari seluruh kabupaten/kota se-Aceh.

Perhelatan MTQ pun semakin menarik dan meriah karena didukung oleh puluhan stan dan pasar rakyat. Di sini disediakan pelbagai makanan siap saji, ornamen menarik, pakaian, dan pernak-pernik MTQ. Sebuah sambutan meriah dari masyarakat dalam menyambut dan menyukseskan perhelatan MTQ Aceh tahun ini. Di satu sisi perhelatan MTQ dapat menurunkan keberkahan Alquran kepada masyarakat Aceh. Pada sisi lain, event ini juga momentum menghidupkan ekonomi kerakyatan sebagai urat nadi perekonomian bangsa.

Meski demikian, beberapa aspek dalam opening ceremony tersebut perlu dikritisi untuk perbaikan ke depan, semisal terjadinya percampuran penonton antarpria dan wanita (ini berpotensi ikhtilat). Padahal, MTQ merupakan momentum untuk penguatan syariat Islam secara kafah di Aceh. Maka keberadaannya tidak boleh ternodai dengan hal-hal yang bersifat negatif, semisal percampuran penonton pria dan wanita. Maka harapannya dalam proses pembukaan, pelaksanaan, dan penutupan hendaknya panitia memisahkan area bagi para penonton pria dan wanita. Tujuannya untuk mencegah terjadinya ikhtilat dan perilaku melanggar dan mengerdilkan syariat Islam itu sendiri.

Dalam laporannya, Ketua Panitia, Bupati Pidie, Roni Ahmad, memaparkan bahwa MTQ Aceh tahun ini diperlombakan sebanyak tujuh cabang lomba, yaitu tilawatil Quran, tartil Quran, hifzil Quran, tafsir Quran, khattil Quran, syarhil Quran, dan musabaqah makalah Quran (MMQ). Pada tahun ini MMQ diikuti oleh 43 peserta putra dan putri dari kabupaten/kota se-Aceh. MMQ merupakan satu cabang lomba di mana peserta membutuhkan multikemampuan dan ragam disiplin keilmuan.

Di satu sisi peserta harus mampu menguasai teks (nash), meliputi Alquran, hadis, dan kitab tafsir, tapi di sisi lain peserta harus menyajikan secara kontekstual (sesuai tema). Selain itu, keahlian menguasai komputer/laptop dan sistematika penulisan karya ilmiah populer merupakan kemampuan (skill) penunjang yang harus dimiliki oleh peserta untuk mendapatkan bobot nilai terbaik dari dewan hakim.

Untuk itu, MMQ merupakan wahana literasi qurani yang menarik untuk dikembangkan dan terus dimasyarakatkan agar literasi umat Islam terus meningkat. Sebab, realitas menunjukkan bahwa saat ini literasi umat Islam sangat rendah. Hal ini terkonfirmasi dengan data Unesco tahun 2012 di mana dari 1.000 penduduk Indonesia hanya satu orang yang memiliki literasi mumpuni. Hal ini menjadi persoalan besar bagi umat Islam di Indonesia, tak terkecuali Aceh. Maka, kehadiran MMQ diharapkan dapat dimanfaatkan oleh para peserta untuk mencapai tujuan tersebut. Bahkan seharusnya pelbagai program atau pelatihan dalam menjaring, melatih, mengembangkan, dan menyiapkan kader-kader MMQ sudah dilakukan sejak MTQ tingkat gampong, semisal pelatihan rutin layaknya pelatihan cabang tilawatil Quran. Sebab, sejauh amatan saya, peserta MMQ itu diperoleh nyaris tanpa pembinaan sejak dini. Bahkan terkadang dalam pelaksanaan MTQ tingkat gampong atau kecamatan pun tidak dilombakan cabang MMQ, disebabkan oleh ketiadaan peserta. Hal ini menunjukkan bahwa masih sedikitnya kepedulian kolektif kita dalam menyiapkan peserta cabang MMQ. Akibatnya, peserta cabang MMQ sangat minim peminat. Hal ini menjadi tantangan bagi Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) untuk bekerja sama dengan sekolah dan perguruan tinggi dalam menyiapkan kader-kader MMQ agar hasilnya lebih optimal dan meningkat.

Perlu dipahami bahwa peserta MMQ tidak dapat disiapkan dalam jangka waktu hitungan hari, tapi harus didesain sejak lama. Hal ini disebabkan pembinaan dan pelatihan peserta cabang MMQ dituntut untuk menguasai multikemampuan dan disiplin keilmuan serta skill dalam literasi.

Dua tema menarik

Pada MTQ Aceh tahun ini untuk cabang MMQ fokus membahas dua tema besar, yaitu revolusi mental dan ketahanan keluarga. Dua tema ini menarik dikaji secara holistik dalam perspektif Alquran di tengah munculnya pelbagai fenomena mewabahnya hoaks, ujaran kebencian (hate speech), kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) baik yang dilakukan suami atau istri, intoleransi, dan radikalisme. Apalagi data mutakhir menunjukkan bahwa kasus-kasus perceraian di beberapa kabupaten/kota di Aceh terus meningkat, semisal Bireuen, Aceh Tengah, Lhokseumawe, dan Aceh Utara. Maka peserta MMQ diharapkan mampu menemukan solusi qurani untuk mengurai berbagai fenomena tersebut.

Memang harus diakui bahwa revolusi mental dan mewujudkan ketahanan keluarga memiliki banyak tantangan. Apalagi kini telah memasuki era industri 4.0, yakni sebuah masa di mana informasi dengan mudah didapatkan di media online. Berapa banyak keluarga kehilangan kasih sayang disebabkan pasangan kecanduan terhadap game dan media online? Berapa banyak perselingkuhan terjadi yang diawali dari perkenalan di media sosial? Berapa banyak informasi hoaks yang tiap hari beredar di sejumlah grup media online, semisal WhatsApp? Bahkan kadang informasi hoaks telah menjadi informasi benar dalam pandangan masyarakat. Hal ini merupakan tantangan masa kini dalam kehidupan pribadi, keluarga dan sosial yang harus mendapatkan perhatian serius, termasuk dalam mengeksplorasi dan menemukan solusi qurani.

Maka, MMQ merupakan sebuah wahana untuk menemukan berbagai solusi qurani dalam memecahkan persoalan masa kini, baik yang menyangkut persoalan pribadi, keluarga maupun bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta beragama sehingga keberadaan Alquran bukan sekadar pajangan dan bacaan semata, tapi juga mampu mengarahkan dan menunjukkan (hudan) umat manusia dalam memecahkan persoalan yang dihadapi. Dari sanalah konsep Alquran sebagai ‘shalihuz zaman walmakan’ akan tercapai, sebab realitasnya saat ini Alquran hanya dijadikan sekadar  pajangan, bacaan, dan kajian semata oleh umat Islam, belum mampu dimaksimalkan dalam memecahkan problematika keumatan masa kini. Oleh karenanya, pelaksanaan MTQ cabang MMQ merupakan momentum untuk mewujudkan dan merealisasikan cita-cita tersebut.  Semoga! 

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved