Opini

Hilangnya Rasa Hormat Siswa Kepada Guru

Fenomena siswa yang kurang menghormati gurunya sejak beberapa tahun terakhir membuat resah para guru

Hilangnya Rasa Hormat Siswa Kepada Guru
SERAMBINEWS.COM/Hand Over
Dr. Murni, S.Pd,I., M.Pd, Wakil Ketua II STAI Tgk. Chik Pante Kulu Banda Aceh 

Oleh Dr. Murni, S.Pd,I., M.Pd, Wakil Ketua II STAI Tgk. Chik Pante Kulu Banda Aceh 

Fenomena siswa yang kurang menghormati gurunya sejak beberapa tahun terakhir membuat resah para guru, masyarakat di lingkungan sekolah dan juga para orang tua. Bagaimana tidak, guru yang seharusnya menjadi contoh dan sebagai orang tua kedua di sekolah justru menjadi bahan olok-olok bahkan dimaki-maki oleh siswa.

Belum lagi kita menyaksikan di media tv, youtube, media cetak, terjadinya kasus penganiayaan terhadap guru di sejumlah daerah mengundang keprihatinan banyak pihak. Beraneka ragam macam perlakuan buruk yang diterima guru itu mencoreng dunia pendidikan Indonesia.

Ada juga kelakuan siswa yang membuat penulis merasa terkejut secara tidak sengaja melihat ada beberapa siswa duduk santai sambil merokok di kios saat jam belajar. Mungkin mereka tidak masuk sekolah karena telat sehingga memilih tempat yang aman hingga proses belajar mengajar di sekolah selesai baru mereka pulang.

Ada juga yang marah dengan guru ketika pulang sekolah gas sepeda motor diperbesar agar terdengar suara meraung-raung sebagai bentuk protes terhadap guru yang telah menegurnya karena siswa yang bersangkutan sering telat datang ke sekolah. Tidak jarang juga pada saat siswa berpapasan dengan guru lewat saja tanpa menyapa atau tidak senyum. Begitu juga sebagian siswa keluar dari ruang kelas tanpa meminta izin gurunya. Bahkan ada siswa telat datang dan masuk ke kelas tanpa mengucapkan assalamu'alaikum. Ketika ditanya, kenapa tidak mengucapkan?  "Ada saya mengucapkan salam tapi ibu tidak mendengar,"jawabnya. Sang guru pun diam seribu bahasa. Padahal guru itu melihat dengan mata kepala sendiri siswa tersebut masuk tanpa mengucapkan salam.

Fenomena lainnya ada siswa yang berpacaran baik di sekolah maupun di luar sekolah. Berboncengan berdua. Pada saat ditegur dan dinasihati, kedua siswa yang berlainan jenis malah saling bantu-membantu menutupi kesalahan mereka. Bahkan ada yang marah kepada guru dengan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas bahkan cenderung tidak beretika sama sekali.

Peristiwa seorang siswa yang berani mengucapkan kata-kata tidak pantas kepada gurunya merupakan fenomena gunung es. Bisa jadi masih banyak kasus yang tidak tersorot oleh media. Dalam hal ini, keluarga menjadi elemen yang bertanggung jawab atas penanaman sikap sopan santun seorang anak. Bagaimana anak menghormati orang yang lebih tua terjadi dalam keluarga, maupun orang yang tak dikenalnya. Ketika keluarga tidak dapat menjalankan karakter luhur dengan baik dalam keluarganya akhirnya anak-anak zaman now akan kehilangan orientasi berbuat luhur.

Timbul pertanyaan bersama mengapa anak-anak berbuat seperti ini? Ada beberapa penyebab untuk menjawab pertanyaan tersebut. Pertama, kurangnya pengetahuan agama Islam dari orang tua. Akibatnya anak-anak hampir tidak bisa membedakan yang boleh dikerjakan dan yang mana yang tidak boleh dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, tiada contoh teladan. Banyak peserta didik berbuat seperti itu karena tidak ada yang dapat dijadikan contoh yang baik dalam pergaulan sehari-hari, sehingga cenderung bersikap sesuka hati kepada siapa saja termasuk kurang menghormati guru dan orang tua mereka sendiri.

Ketiga, cenderung meniru sosok yang tidak pantas.

Siswa cenderung meniru habis-habisan sosok yang diidolakan seperti bintang film barat, artis top dunia yang suka gonta ganti pasangan yang budayanya sangat bertentangan dengan budaya Aceh. Keempat, suka main game online.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved