Opini

Memberengus Maksiat di Aceh

Alih-alih menolong seperti kebakaran lainnya di Aceh, mereka malah mengamuk, mengobrak-abrik dan merubuhkan

Memberengus Maksiat di Aceh
IST
Drs. Mardin M. Nur, MA, Dosen UIN Ar-Raniry, Mantan Sekdis Syariat Islam Abdya

Oleh Drs. Mardin M. Nur, MA, Dosen UIN Ar-Raniry, Mantan Sekdis Syariat Islam Abdya

Penomena sungguh menarik baru-baru ini terjadi di Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie. Ratusan ibu-ibu mendatangi lokasi wisata Mantak Tari pada Ahad (8/9) sekitar pukul 5.20 WIB. Alih-alih menolong seperti kebakaran lainnya di Aceh, mereka malah mengamuk, mengobrak-abrik dan merubuhkan puing-puing kios sisa kebakaran yang diiringi dengan sumpah serapah.

Padahal, kebakaran sejumlah kios, baru saja dipadamkan oleh tim pemadam kebakaran Kabupaten Pidie yang dibantu anggota polisi dan koramil setempat sekitar pukul 05.00 WIB. Mereka tidak rela objek wisata tersebut dihidupkan, yang hanya akan mengundang maksiat dan mendatangkan bencana. (Serambi Indonesia, 9/9/2019).

Sudah begitu gerahkah masyarakat di Aceh dengan berbagai maksiat yang selama ini terjadi? Kenapa masyarakat tidak ikut memadamkan kebakaran, malah dengan emosi membara, ikut merubuhkannya? Dimana Wilayatul Hisbah (WH) atau polisi syariat?

Tidak disangkal bahwa berbagai maksiat baik secara tersembunyi, terselubung dan bahkan terang-terangan banyak terjadi di Aceh. Ada perjudian, minum-minuman keras termasuk tuak, narkoba, perbuatan mesum dan bahkan prostitusi online yang baru saja dibongkar pihak kepolisian. Berbagai maksiat hari demi hari terus saja terjadi di Aceh, yang telah memproklamirkan diri sebagai negeri syariat ini.

Terjadinya kemarahan emak-emak di objek wisata Mantak Tari adalah bukti betapa besar kebencian masyarakat terhadap berbagai maksiat di Aceh. Kejadian ini merupakan representasi masyarakat Aceh saat ini. Masyarakat Aceh pada hakekatnya begitu kesal dan marah terhadap berbagai kemaksiatan yang terjadi di Aceh. Selama ini mereka berdiam diri dan hanya membencinya di dalam hati. Kendati ini adalah selemah-lemah iman. Mereka tidak punya power memberengus kemaksiatan di Aceh.

Lihatlah berbagai objek wisata lainnya yang serupa di Aceh. Baik objek wisata yang berada di pinggir-pinggir pantai maupun di daerah perbukitan dan pegunungan. Hampir tidak ada objek wisata di Aceh bebas maksiat. Semuanya seolah memble, melakukan pembenaran dan pembiaran. Bahkan sebagian pengusaha mendesain tempat khusus agar kemaksiatan tidak tampak mata. Padahal, Allah memerintahkan hambanya agar masuk dalam Islam secara kaffah dan tidak mengikuti langkah-langkah syaitan (Qs. 2: 208).

Realitanya, di berbagai objek wisata di atas banyak sekali terjadi maksiat. Sebagian besar mereka melakukan berbagai transaksi birahi. Transaksi birahi yang dilakukan di antaranya bertatap pandang, duduk bermesraan, pengangan tangan, cokeh-cokehan, minum segelas berduaan, makan bersuapan, ciuman, dan bahkan perzinaan.

Terang-terangan

Bukan hanya di objek-objek wisata, sebagian muda mudi dan pasangan nonmuhrim tidak enggan, takut dan malu sedikit pun melakukan berbagai transaksi birahi di depan umum. Mereka melakukannya dengan terang-terangan. Mereka melakukannya di atas-atas sepeda motor dengan cara berpegangan, raba-rabaan, berpelukan, berciuman, dan berbagai maksiat lainnya. Mereka melakukannya tanpa beban, tanpa merasa berdosa dan bersalah. Pemandangan seperti ini dapat disaksikan saban hari tanpa banyak yang peduli.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved