Jurnalisme Warga

Yogyakarta, Kota Kaya Seni dan Sarat Mistis

Hampir setiap saat Jogja--begitu sebutan populer provinsi ini–sangat istimewa sehingga dikunjungi jutaan orang setiap tahun

Yogyakarta, Kota Kaya Seni dan Sarat Mistis
IST
Dr. Sri Rahmi, M.A., Dosen UIN Ar-Raniry dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Daerah Istimewa Yogyakarta

Oleh Dr. Sri Rahmi, M.A., Dosen UIN Ar-Raniry dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Daerah Istimewa Yogyakarta

Bagi saya, Yogyakarta adalah destinasi wisata paling populer dan menyenangkan di Indonesia. Hampir setiap saat Jogja--begitu sebutan populer provinsi ini–sangat istimewa sehingga dikunjungi jutaan orang setiap tahun, termasuk saya yang mendapat undangan untuk mengisi kuliah umum di UIN Yogyakarta. Kesempatan ini saya gunakan untuk menjelajah setiap sudut Kota Jogja yang sarat dimensi mistis dan kaya akan seni.

Penjelajahan saya di Kota Sultan ini dimulai ketika saya diajak pimpinan UIN Sunan Kalijaga (UIN Suka) untuk menikmati makan malam di restoran kenamaan (Raminten). Raminten menyajikan bukan saja beragam jenis makanan dan minuman khas Jogja yang menggugah selera, tapi juga suasana alamiah Jawa bisa langsung kita rasakan begitu memasuki gerbang Raminten.

Disambut oleh penjaga restoran yang memakai blankon dan kain batik yang dililit, saya masuk ke ruang tunggu restoran. Aroma menyengat dari asap dupa langsung tercium. Di ruang tunggu saya disambut patung manekin pemilik restoran dan beberapa patung tokoh wayang yang terkenal seperti Petruk, Bagong, dan abdi dalem Kraton. Hampir di setiap sudut ruangan restoran saya lihat sesajen yang dilengkapi dupa. Saya tak mampu bertahan lama terpapar aroma khas dupa.

Setelah mendapatkan tempat duduk di dalam restoran, pramusaji datang menghampiri meja kami untuk menawarkan beragam menu pilihan yang ada di Raminten. Pramusaji yang menggunakan baju adat Jawa berupa kemben dan batik lilit, mengumbar senyuman manis dan ramah, benar-benar menggambarkan dan mengingatkan saya bahwa saat ini saya berada di Pulau Jawa. Sembari menyantap gudeg (makanan favorit Jogja) dan merasakan kehangatan wedang uwuh (minuman sejenis sekoteng, tapi di dalamnya terdapat berbagai tumbuhan seperti jahe, lengkuas, dan serei) saya ditemani oleh dentingan suara gamelan dengan alunan nyanyian Jawa yang sangat merdu.

Esok harinya, setelah setengah hari mengisi kuliah umum di UIN Yogyakarta, saya dijemput oleh mahasiswa asal Aceh yang sedang menempuh pendidikan S2 dan S3 di beberapa kampus ternama di Jogja. Perjalanan kami mulai dengan mengelilingi Kraton Yogyakarta naik delman. Saat kelilingi kraton, terlihat beberapa abdi dalem patroli menggunakan sepeda ontel. Para abdi dalem benar-benar bekerja dengan keiklasan dan tanpa pamrih. Mereka hanya disediakan rumah oleh sultan untuk tempat tinggal. Ketaatan, kecintaan, dan fanatisme terhadap sultan membuat mereka tak menilai semua pengabdian dengan uang.

Keunikan lainnya yang ada di seputaran kraton adalah pohon beringin kembar dan besar yang berdiri kokoh menghadap kraton. Pohon tersebut juga ada yang menamai pohon cinta. Menurut mitos yang berkembang, siapa saja yang melewati pohon tersebut dan berdoa meminta jodoh maka doanya akan dikabulkan Yang Mahakuasa. Di bawah pohon besar tersebut saya masih melihat sesajen di dalam wadah kecil berisi bunga, buah-buahan, dan tentu saja dupa yang dibakar dengan aroma kemenyan sebagai pengharumnya.

Setelah lumayan lelah mengelilingi Kraton, saya lanjutkan perjalanan menuju jalan yang sangat dikenal oleh seluruh pelancong dalam dan luar negeri. Tak terlalu jauh dari Kraton, yakni Malioboro. Kami berwara-wiri di sini sambil menyambut malam tiba. Malioboro merupakan potret Kota Jogja yang tak pernah tidur. Denyut nadinya selalu mendatangkan wisatawan mulai dari pagi hingga pagi lagi. Saking ramainya banyak tempat wisata yang buka 24 jam.

Setiap sudut di pusat Kota Pelajar ini memang sangat indah, mulai dari bangunan khas Jawa hingga gedung peninggalan Belanda. Belum lagi lampu-lampu jalan yang berwarna kuning semakin menambah kesan romantis wisata malam Malioboro.

Karena waktu makan malam telah tiba, saya cari tempat duduk dari kayu dan sandaran besi yang sangat artistik untuk memesan makanan yang dijual sepanjang Jalan Malioboro. Menikmati suguhan kesenian dari musisi jalanan yang sedang beraksi menjadi kesan tersendiri saat berada di Malioboro. Dengan alat musik seadanya yang mereka bikin sendiri membuat para wisatawan dan pengunjung Malioboro tertegun menikmatinya. Sebelum meninggalkan kerumunan seniman itu, pengunjung tak lupa memberikan duit seikhlasnya ke dalam wadah yang disediakan sang seniman.

Model angkringan menjadi tempat yang paling diminati dan diserbu oleh banyak wisatawan untuk menikmati makanan. Banyak makanan khas Jawa yang tersaji, seperti satai siput, tempe, dan tahu bacem, juga  gudek yang memang merupakan makanan khas Jogja. Malioboro juga menyediakan onde-onde basah dan kering, putu bambu, cenil, klepon, dan bakpia yang dijual kiloan.

Selesai santap makan malam, saya kembali berjalan menyusuri trotoar Malioboro. Tujuan saya adalah masuk ke Pasar Bringharjo. Di sini dijual batik mulai dari harga murah sampai yang tinggi. Pasar ini buka hingga pukul 17.00 WIB, tapi untuk beberapa toko yang berada di sisi luar pasar, bukanya sampai pukul 21.00 WIB. Sepanjang trotoar Malioboro juga tersedia batik berbagai model dan ukuran, termasuk kaus-kaus yang bertuliskan Jogja. Jika ingin mengunjungi toko batik eksklusif yang ada di Malioboro, kita cukup masuk ke Toko Batik Hamzah di ujung Jalan Malioboro. Selain menyediakan batik juga menyediakan kerajinan dengan nilai seni yang tinggi.

Namun, bagi saya tidak selalu bisa berlama-lama berada di dalam Toko Hamzah Batik karena aroma dupa yang sangat menyengat. Irama gamelan yang mengiringi langkah pembeli menambah suasana mistis yang bagi sebagian orang membuat bulu kuduk berdiri.

Setelah selesai berburu batik dan berbagai oleh-oleh lainnya saya menuju Titik Nol Kilometer Kota Jogja. Menjadi muara Jalan Malioboro, suasana di Titik Nol Kilometer tentu tak kalah romantisnya. Pada malam hari banyak sekali anak muda, komunitas, dan penggerak seni yang berkumpul di Titik Nol Kilometer, juga bisa berfoto dengan kostum yang unik di lokasi ini.

Alam Jogja semakin larut dan angin dari Gunung Merapi yang sejuk mulai turun dan menyentuh kulit. Sebelum sampai ke hotel untuk rehat, teman-teman masih mengajak untuk menyeruput kopi arang atau kopi joss di Stasiun Tugu. Ditemani sepiring gorengan yang masih panas, saya coba nikmati sensasi aroma dan rasa kopi arang yang sangat pekat. Bagi sebagian orang menganggap kopi arang ini jauh dari kata bersih, karena arang yang dimasukkan dalam campuran kopi adalah arang yang biasa kita gunakan untuk membakar satai. Namun, bagi saya cita rasa dan aroma kopi arang membuat saya ingin kembali lagi ke Jogja. Keramaian dan keunikan seni dan suasana mistisnya membuat banyak orang rindu untuk kembali ke Yogyakarta. 

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved