Petani Geumpang Terpaksa Begadang
Ratusan petani Gampong Pucok, Kecamatan Geumpang, Pidie, sejak dua minggu terakhir begadang untuk mengusir kawanan gajah liar
* Usir Gajah Agar tak Makan Padi
SIGLI - Ratusan petani Gampong Pucok, Kecamatan Geumpang, Pidie, sejak dua minggu terakhir begadang untuk mengusir kawanan gajah liar agar tak memakan tanaman padi mereka yang siap panen. Petani yang telah mengeluarkan modal besar dan tenaga takut kalau padi yang mereka tanam lebih dulu 'dipanen' hewan raksasa itu.
Keuchik Pucok, Kecamatan Geumpang, Tgk Samsuar, kepada Serambi, Minggu (29/9) mengatakan, gangguan gajah liar sejak dua minggu terakhir semakin meresahkan petani. Mereka khawatir puluhan hektare padi yang siap panen satu minggu ke depan menjadi incaran binatang berbadan besar tersebut.
Untuk menghalau kawanan gajah liar itu, sambung Tgk Samsuar, pihaknya bersama ratusan warga hanya mampu menggunakan mercon. "Kami menggunakan mercon untuk mengusir gajah yang terpaut satu kilometer dari sawah. Penggunaan mercon memang tidak efektif, karena gajah liar itu akan kembali saat bunyi mercon hilang," ujarnya.
Ia menjelaskan, sejak dua minggu ini sekitar 363 kepala keluarga menjaga sawahnya mulai pukul 17.00 WIB. Bahkan pada pukul 22.00 WIB, mereka berkumpul di dekat sawah untuk mengusir gajah bersama-sama. "Kami pantau gajah dewasa itu lebih banyak bertahan di dekat areal sawah Gampong Pucok karena ada tanaman padi," sebutnya.
Menurut Samsuar, warganya sudah lelah mengusir hewan berbadan besar itu. Bahkan timbul niat segelintir warga untuk mencelakakan kawanan gajah, sebab mereka sudah sangat dirugikan. Namun rencana itu urung dilakukan, karena warga bisa berhadapan dengan hukum.
"Seharusnya pemerintah turun tangan, jangan buang badan. Gangguan gajah saat ini sudah sangat mematikan ekonomi masyarakat. Memang petugas BKSDA sudah datang ke Gampong Pucok untuk mengamati tapak gajah dan kerusakan padi petani. Tapi belum ada tindakan untuk menghalau supaya gajah itu kembali ke hutan. Masyarakat sangat sedih dengan sikap pemerintah yang terkesan tidak peduli," jelas Tgk Samsuar.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Pangan dan Pertanian Pidie, Ir Sofyan Ahmad saat dikonfirmasi Serambi, Minggu (29/9) mengatakan, pihaknya tidak berwenang untuk mengatasi gangguan gajah liar. Menurutnya, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) lah yang seharusnya turun tangan. "Dana untuk menangani konflik satwa liar tidak diplot lagi di dinas, semuanya di BKSDA Aceh," jelas Sofyan.
Terpaksa Percepat Panen
Pada bagian lain, Keuchik Pucok, Tgk Samsuar mengungkapkan bahwa tak sedikit petani di wilayahnya terpaksa memanen padi lebih cepat. Padahal waktu ideal untuk panen sekitar satu minggu lagi. Tindakan itu dilakukan petani agar tanaman padinya tidak duluan 'dipanen' kawanan gajah liar.
"Petani mau tidak mau harus memanen padinya lebih cepat agar terhindar dari gangguan gajah. Mereka telah mengeluarkan modal dan tenaga untuk merawat sawahnya," jelas Samsuar. (naz)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/warga-pucok-kecanatan-geumpang-pidie.jpg)