Opini

Anak dan Kasih Sayang  

Miris, ketika membaca berita, "Dua Tahun Dipaksa Mengemis, Bocah 9 Tahun Dirantai Orangtua Jika Tak Bawa Rp 100 Ribu

Anak dan Kasih Sayang   
IST
Abd. Halim Mubary, M.Kom.I, Dosen IAI Al-Aziziyah, Samalanga, Penghulu pada KUA Kecamatan Makmur, Bireuen.

Oleh Abd. Halim Mubary, M.Kom.I, Dosen IAI Al-Aziziyah, Samalanga, Penghulu pada KUA Kecamatan Makmur, Bireuen.

Miris, ketika membaca berita, "Dua Tahun Dipaksa Mengemis, Bocah 9 Tahun Dirantai Orangtua Jika Tak Bawa Rp 100 Ribu" (Serambi, 20/9/2019). Nurani kita seperti diaduk-aduk melihat kekejaman orang tua terhadap darah dagingnya sendiri. Hewan saja yang tidak berakal, belum pernah menganiaya anaknya sekeji itu.

Kekerasan secara fisik adalah sebuah tindakan fisik atau perlakuan sewenang-wenang dari orang dewasa terhadap seorang anak yang mengakibatkan si anak mengalamai cedera, luka, cacat, atau trauma secara psikis. Pengabaian hak anak memang jamak terjadi di kantong-kantong kemiskinan di belahan bumi ini.

Bercermin dari kasus di atas, maka kekerasan terhadap anak merupakan fenomena gunung es yang jarang terungkap ke permukaan. Karena bagi sebagian orang tua, terkadang anak boleh diperlakukan sesuka hati, lantaran dianggap masuk ke ranah pribadi. Sehingga ekspolitasi dan ragam kekerasan terhadap anak kian sering terjadi. Kasus kekerasan fisik yang menimpa bocah MS yang baru berusia sembilan tahun di Kota Lhokseumawe, hanyalah secuil kasus yang terangkat ke permukaan. Mestinya di usia belianya, MS masih bergelimang kasih sayang layaknya anak pada umumnya.

Kasus MS yang telah berlangsung selama tiga tahun--merupakan memorebilia pahit kekerasan terhadap anak. Beruntung, bocah MS akhirnya bisa terselamatkan dari "neraka" yang dibuat kedua orang tuanya, atas inisiatif tetangganya yang tak tega melihat kekerasan yang menimpa sang anak. Sehingga ia melaporkan kasus itu kepada personil Babinsa. Karena setelah ditegur oleh tatangganya itu, kedua orang tuanya mengatakan bahwa itu anaknya dan hak dia untuk memperlakukan anaknya sesuka hatinya (Serambi, 23/9/2019).

Orang tua MS malah memanfaatkan uang hasil mengemis anaknya untuk hal-hal negatif. Si ibu yang gandrung narkoba dan si ayah tiri doyan berjudi, bak sebuah sinetron yang mengaduk-aduk emosi penonton. Munculnya kasus-kasus MS, lebih kepada efek retaknya relasi kolegial pasangan suami istri akibat dari buah perceraian ibu kandung MS. MS yang hidup bersama ibu kandung tapi berayahkan tiri, seperti mendapatkan karakter antagonis pada ibu kandung dan ayah tirinya.

Titipan Allah

Anak adalah anugerah titipan Allah Swt, sehingga para orang tua dituntut memberikan yang terbaik kepada buah hatinya dan jangan menyia-nyiakannya. Apalagi sampai menelantarkan dan menganiayanya. Sebagaimana sabda Rasullullah , "Muliakanlah anak-anakmu dan didiklah mereka dengan baik" (HR. Ibnu Majah).

Keberadaan seorang anak selain menjadi tanggung jawab kedua orang tuanya, mulai dari memberikannya kasih sayang, pendidikan, menjaga kesehatan, dan memenuhi segala kebutuhannya, negara juga punya tanggung jawab terhadap anak-anak dengan melindungi hak anak untuk mendapatkan pendidikan misalnya. Dalam pasal 31 ayat 1 UUD 1945 disebutkan, "Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan".

Demikian juga UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, pasal 9 (1) berbunyi, "Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai minat dan bakatnya". Sehingga pengembangan diri anak selain tanggung jawab kedua orang tuanya, negara pun harus berperan dalam menjaga keberlangsungan hidup si anak.  

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved