Opini

Strategi Pembangunan Harus Fokus

Saatnya semua orang memikirkan kembali masa depannya. Kontestasi politik yang sempat merenggangkan

Strategi Pembangunan Harus Fokus
IST
Oleh Ishak Hasan, Dosen Unsyiah, Ditugaskan di UTU Meulaboh

Oleh Ishak Hasan,  Dosen Unsyiah, Ditugaskan di UTU Meulaboh

Aura kegaduhan politik harusnya segera usai, musim telah berganti, pesan damai pun telah datang. Saatnya semua orang memikirkan kembali masa depannya. Kontestasi politik yang sempat merenggangkan hubungan kebangsaan kita kini saatnya dirajut kembali. Kita semua patut bersyukur kepada Allah swt karena kedewasaan kita sebagai bangsa telah lulus dari ujian yang amat berat.

Terbukti bahwa nilai-nilai yang kita anut baik yang berlandas keagamaan, sosial, kultur, platform poltik, adat-istiadat, kearifan lokal telah mampu merekatkan kembali bangsa kita dari polarisasi dan keterbelahan akibat kontestasi politik yang keras beberapa waktu lalu. Walaupun diakui mungkin masih ada serpihan-serpihan perasaan yang tersisa bernuansa kurang menyenangkan perlu dikubur dalam-dalam, karena waktu yang tersisa untuk menjempat masa depan semakin cepat berlalu.

Ruang untuk memperbaiki keadaan kita, khususnya di Aceh yang masih berlabel negatif, serba ketertinggalan semakin sempit. Terutama bila kita melihatnya dari sumber pembiayaan otonomi khusus yang kita miliki tinggal hanya beberapa tahun lagi. Karenanya kita perlu fokus dan berpacu untuk merancang masa depan Aceh yang lebih maju dan modern adalah sebuah keniscayaan.

Kita telah bosan dengan citra angka-angka kemiskinan yang tinggi secara nasional, mutu pendidikan yang rendah, tingkat pengangguran yang tinggi, jumlah orang Aceh yang terganggu jiwanya mencapai puluhan ribu orang tertinggi juga secara nasional dan masih banyak yang lainnya. Karena itu semua lapisan kita, baik eksekutif, legislatif, ormas, pers, ulama, pengusaha, mahasiswa sampai rakyat jelata bekerja keras untuk menghilangkan stigma negatif yang mendera Aceh saat ini.

Kita mesti prihatin dengan stigma negatif yang dialamatkan tentang Aceh, yang menusuk martabat kita, yang terlanjur dikenal sebagai bangsa pejuang, modal dasar untuk Indonesia, negeri para ulama besar nusantara, negeri yang diproteksi oleh syariat Islam, dan sumber inspirasi untuk beberapa hal bagi Indonesia. Mestinya Aceh harus berada di depan dalam segala hal di Indonesia. Aceh harus menyiapkan generasi hebat untuk membangun Aceh hebat sebagaimana visi dan misi yang telah dimunculkan oleh pemerintah yang sekarang berkuasa.

Pembangunan ekonomi sosial dan budaya harus benar-benar terukur dan monumental. Selama ini banyak pihak merasa kecewa dengan capaian-capaian yang menunjukkan peningkatan pertumbuhan ekonomi Aceh belum terlihat secara nyata ketika dibandingkan dengan besarnya dana yg digelontorkan ke Aceh dari berbagai sumber dan dalam beberapa tahun terakhir. Kekecewaaan tersebut pantas saja terjadi apalagi di tingkat akar rumput, karena manfaat pembangunan yang mereka terima bertolak belakang dengan besarnya dana yang mereka ketahui ada.

Strategi mendesak

Menurut penulis ada beberapa strategi yang perlu dilakukan secara mendesak agar pertumbuhan ekonomi di Aceh bisa lebih cepat; (1) Perlu komitmen bersama untuk fokus pada RPJM dan RPJP yang sudah ada. RPJM dan RPJP tersebut harus dioperasionalkan sedemikian rupa sehingga indikator capaiannya lebih terukur, (2). Perlu fokus titik berat pembangunan persektor setiap tahunnnya agar dampak dari penggunaan dana yang ada bisa terlihat oleh masyarakat ada pertumbuhannya.

Misalnya untuk tahun 2020-2021 fokus pada pembangunan infrastruktur yang mendukung sektor pertanian dan ketahanan pangan. Khususnya untuk kecukupan pangan di Aceh (kebutuhan telur ayam dan holtikultura), setelah itu untuk orientasi ekspor untuk beberapa komoditi unggulan. Tahun 2022-2024 fokus pada pembangunan infrastruktur sektor pariwisata. Tahun 2025-2026 fokus pada sektor industri berbasis sektor pertanian dan sumberdaya lokal lain yang bernilai ekspor. Tahun berikutnya pembangunan infrastruktur sektor erdagangan dan jasa.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved