Sabtu, 9 Mei 2026

Invest In Aceh

Strategi Promosi Aceh Menggaet Investor

"Coba kalau ada industri buat mentega, industri buat sabun, dan lainnya di Aceh, sehingga sawit dari daerah ini tak perlu bawa keluar."

Tayang:
Editor: Mursal Ismail
DPMPTSP Aceh
Kabid Promosi Penanaman Modal DPMPTSP Aceh, Syarifah Zulfa SE 

Strategi Promosi Aceh Menggaet Investor

SELURUH lapisan masyarakat hingga esekutif dan legislatif serta semua pihak harus mendukung investasi di Aceh.

Oleh karena ini menjadi modal berharga untuk masuknya investor ke Tanah Rencong.

Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Aceh terus mempromosikan potensi Aceh untuk menarik minat supaya makin banyak investor datang.

Kabid Promosi Penanaman Modal DPMPTSP Aceh, Syarifah Zulfa SE, menjelaskan program yang dilakukan selama ini untuk mempromosi potensi Aceh.

Supaya makin banyak investor yang datang dan menanamkan modalnya di Tanah Rencong.

Berbagai cara dilakukan termasuk menjalin hubungan dengan media cetak maupun elektronik dan hadir diberbagai forum.

Karena promosi melalui media, sasaran konsumennya bisa lebih banyak terjangkau dari pada membuat pertemuan yang audiennya terbatas.

Tapi kalau melakukan promosi melalui media, maka informasinya lebih banyak orang mendapatkan hal yang dibutuhkan tentang potensi Aceh.

Kemudian dari segi lain juga tetap dilakukan, misalnya mengadakan pameran dan lainnya.

"Selain mempromosikan potensi Aceh melalui media elekronik maupun media cetak. Kita menyediakan informasi dalam bentuk brosur, bentuk pamflet, kemudian dengan mengadakan atau menghadiri forum bisnis. Itu strategis promosinya yang ampuh untuk menarik investor menanamkan modalnya di Aceh," ujarnya.

Media untuk promosi selama ini, kata Syarifah, memang ada media lokal, ada juga melalui media nasional.

Termasuk melalui majalah Garuda Indonesia juga disampaikan informasi supaya terjangkau banyak orang.

Jadi bukan hanya melibatkan media lokal, online untuk promosi potensi Aceh.

"Kalau kita melihat promosi dengan media, tingkat informasinya, jumlah penerima informasinya lebih banyak. Begitu juga dengan website dan lainnya lebih cepat dan lebih banyak terjangkau informasinya," ujarnya.

Selama ini, kata Syarifah, persepsi sebagian orang melihat investasi itu yang besar-besar baru investasi.
Sebenarnya investasi itu setiap modal yang ditanam, UKM itu juga investasi sebenarnya.

Setiap yang mendapatkan keuntungan yang mempunyai modal, pasti itu investasi.

Mempunyai nilai tambah, jadi setiap barang yang mempunyai nilai tambah dia sudah merupakan investasi.

"Cuma persepsi kita kalau bukan yang besar itu bukan investasi," ujarnya.

Memang, kata Syariaf, untuk berhasilnya suatu investasi banyak kendala.

Tidak hanya di DPMPTSP, karena ini bukan instansi yang eksekusi, banyak instansi teknis terkait lainnya. Misalnya investasi ini sangat tergantung pada lahan.

Kalau dia lahan tidak riil, investor tidak mungkin mau masuk.

Bagaimana kesiapan lahan, status lahan, serta masyarakat menerima atau tidak investasi ini.

"Karena kalau investor yang sudah saja, ada demo sana sini, bisa menghambat investasi lain. Kalau kita sudah sepakat sepaham bahwa kita butuh investasi, mungkin yang salah salah ini tinggal kita perbaiki, bukan kita minta dia keluar. Bukan gampang orang untuk masuk. Orang kita saja yang ada uang bisa perginya dan tidak investasi di tempat sendiri, kalau ada kendala dan konflik. Apalagi orang luar saja yang mau masuk lalu disuruh keluarnya," ujarnya.

Bagusnya, kata Syarifah, kalau memang ada yang salah diperbaiki dan dikomunikasikan.

Sehingga turut mendukung untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif.

Kalau tidak ada dukungan sama saja merusak iklim imvestasi.

"Misalnya ngapain kita investasi di Aceh, yang sudah saja bisa keluar. Ini kan satu iklim yang tak baik untuk investor. Kita berhasil itu harus semua mendukung, eksekutif, legislatif, masyarakat, orang di kampung-kampung dan semuanya," ujarnya.

Dikatakan Syarifah, mungkin butuh sosialiasinya mengajaknya bagaimana, pendekatan perusahaan dengan masyarakat.

Kalau di awal-awal pendekatan dengan masyarakatnya bagus, tenaga kerja terserap, maka akan tercipta iklim yang bagus untuk investasi.

Karena sama-sama saling mendukung sehingga perlu ada pendekatan antara perusahaan dengan masyarakat guna ada kenyamanan bagi investor.

"Jadi orang di negeri perang pun masih ada investasi. Cuma bagaimana kadang ada juga investor kasih lahan segini, besok garap sedikit sedikit dan tau-tau sudah memperluas lahannya. Ada juga masyarakat yang melihat ada lahan kosong ditamani, begitu dilarang jadi konflik," ujarnya.

Makanya untuk menciptakan iklim investasi, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Aceh tak akan berhasil kalau jalan sendiri.

Tapi harus saling mendukung bersama-sama untuk mencapai satu tujuan.

Supaya investor masuk dan bisa menanamkan modalnya di Aceh dan masyarakat bisa menikmati dampak positif dari investasi yang masuk.

Menurut Syarifah, percuma saja promosi besar-besaran kalau tidak mendukung dari dalam.
Elemen yang ada di daerah dari legislatif sampai masyarakat kalau tidak mendukung capek juga promosi kemana pun.

Walaupun dipublis melalui media apa pun dengan menarik.

"Kalau waktu datang kemari belum apa-apa sudah lari. Itu bagaimana menciptakan iklim investasi yang kondusif," ujarnya.

Hal ini, kata Syarifah, perlu kerja sama mengatasi masalah untuk mencapai yang diharapkan dari investasi yang masuk ke Aceh.

Karena tenaga kerja bisa diserap, pertumbuhan ekonomi multiplayer efek didapatkan untuk masyarakat Aceh.

Misalnya kalau ada sawit jangan dibawa CPO langsung ke industri di Medan.

"Coba kalau ada industri buat mentega, industri buat sabun, dan lainnya di Aceh, sehingga sawit dari daerah ini tak perlu bawa keluar. Bisa manfaatkan dulu dari Aceh sebelum dibawa ke luar dengan berbagai produk industri," ujarnya.

Sekarang, kata Syarifah, Pemerintah Aceh sudah berinisiatif menggalakkan kawasan.
Lahan di dalam kawasan sudah dicoba diurus supaya tidak menimbulkan masalah.

Tapi yang bermasalah coba memfasilitasi mengclearkan masalah lahan.

Setelah clear barulah undang investor untuk masuk sehingga tak ada masalah lagi dia dengan lahan.

Sekarang sedang digalakkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Lhokseumawe.

"Kadang-kadang kita minta media ini jangan terlalu menegatifkan dalam pemberitaan, coba diangkat juga yang positif sehingga kita mudah. Karena media salah satu alat yang sangat berpengaruh dalam informasi yang diberitakan. Karena ini untuk mendukung informasi yang positif melalui media guna iklim investasi yang diharapkan investor," ujarnya.

Karena bagaimana media bisa menciptakan iklim yang kondusif dengan informasi yang tidak seram.

Jangan sampai belum datang untuk berinvestasi, tapi sudah tidak berani begitu membaca berita ini.

Kawasan Ekonomi Khusus yang lebih digalakkan, kalau dilihat dari kawasan lain, termasuk cepat walaupun masalah difasilitasi.

Kemudian Kawasan Ladong yang masuk ada beberapa perusahaan sudah terdaftar.

"Plt Gubernur Aceh juga kita lihat antusias untuk mendukung itu. Beliau mempercepat semua urusan. Kemudian juga kawasan Lampulo. Makanya diajak semua pihak untuk mendukung investasi di Aceh. Karena kalau satu jalan, satu tendang dari belakang, bakal tidak sampai-sampai dan sulit terwujud," ujarnya.

Makanya, kata Syarifah, promosi ini menciptakan bagaimana pemerintah sudah menyiapkan kawasan kemudian regulasi juga.

Kemudian sistem ini baru ada pelayanan perizinan, dimana sistem baru yang terkoneksi secara online dan terintegrasi dengan semua.

Pemerintah pusat mengimplementasikan sistem ini melalui SDM, infrastrukturnya, dan IT-nya.

"Mudah-mudahan ke depan yang menghambat-hambat investasi bisa dipotong dan bisa lancar," ujarnya.

Saat ini, kata Syarifah, Aceh melakukan pengembangan kawasan.

Kawasan itu akan dipromosikan kalau pun ada forum akan dititipkan informasi tentang potensi Aceh kalau tidak bisa hadir langsung.

Karena ingin membangun image bahwa Aceh terbuka untuk investasi dan ini sudah disiapkan untuk disampaikan kepada para investor.

"Ini salah satu langkah cepat untuk mengatasi berbagai masalah sehingga Aceh bisa mendapatkan banyak manfaat dari kehadiran investor," ujarnya.

Dengan dukungan semua pihak, kata Syarifah, investasi ini akan berhasil dan menciptakan image Aceh ini jangan ada "tidak aman".

Kalau diciptakan pelayanan yang baik, image yang positif, yang didukung SDM sehingga tidak menghambat investasi.

"Potensi tanpa SDM dan teknologi tidak ada harganya. Coba kita selama ini bilang banyak sawit, saya banyak ini, tapi kalau tidak diolah menjadi ekonomi riil, kan dia tak bernilai," ujarnya.

Makanya, kata Syarifah, DPMPTSP Aceh, terus mempromosikan potensi investasi di Aceh untuk menarik investor luar.

Sehingga kedatangan mereka ke Tanah Rencong bisa menambah pendapatan, membuka lapangan kerja sehingga ekonomi tumbuh.

"Kita terus promosikan untuk menarik minat investor. Dari dalam pun harus mendukung supaya kondusif sehingga kehadiran investor dapat memberi manfaat bagi masyarakat Aceh," harapnya. (had)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved