Opini

Demo Pelajar Harusnya Terpelajar

"Zinahi aku saja! Jangan zinahi negaraku", seperti itulah tulisan pendemo enam mahasiswi Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Banjarmasin

Demo Pelajar Harusnya Terpelajar
IST
M. Anzaikhan, S.Fil.I., M.Ag, Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry

Oleh M. Anzaikhan, S.Fil.I., M.Ag, Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry

"Zinahi aku saja! Jangan zinahi negaraku", seperti itulah tulisan pendemo enam mahasiswi Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Banjarmasin yang kian viral dan mengundang respon bayak kalangan. Entah karena ingin viral atau sekedar ikut-ikutan, yang jelas temuan ini membuat ke-enam mahasiswi tersebut terancam mendapatkan sanksi oleh lembaga etik Uniska.

Sebagai pelajar, seharusnya mahasiswa lebih edukatif dalam menyalurkan aspirasinya. Bukan berarti demokrasi itu dilarang, hanya saja ada batasannya sehingga tidak kebablasan dalam berekspresi. Apalagi pembawa tulisan adalah mereka enam orang perempuan. Seolah menginformasikan minimnya nilai kehormatan dan harga diri mereka (sebagai wanita) yang seharusnya begitu dimuliakan. Tindakan tersebut tentu mereduksi nama baik Uniska itu sendiri selaku kampus yang berlebelkan Islam.

Kita akui, wacana tulisan terkait KPK dan DPR tengah menjadi trending topic akhir-akhir ini. Belum lagi adanya respon rasis terhadap RUU KUHP yang dianggap kontroversi dan salah sasaran. Seperti tulisan beberapa pendemo yang viral; "Bunuh saja mantanku, KPK jangan", "DPR: Dewan Penghianat Rakyat", "Itu DPR atau lagunya Afgan, koq sadis" dan masih banyak lagi. Kata-kata sepanduk seolah menjadi ajang kreativitas, dimana pemenangnya adalah mereka yang berhasil menjadi hightline media melalui narasi teks yang sangat mencolok.

Masyarakat selaku konsumen informasi juga dihadapkan dengan tantangan hoax dan ujaran kebencian yang merajalela. Tidak sedikit isi terkait RUU KUHP yang mengalami proses pemotongan kata atau penambahan dari yang seharusnya. Sehingga membuat keadaan semakin semerawut, padahal negeri ini sedang membutuhkan solusi bukan masalah yang terus meningkat kualitas dan kuantitasnya.

Pada kesempatan lain, sangat disayangkan adanya korban jiwa dalam aksi demo mahasiswa. Penyebabnya beragam, ada yang meninggal karena luka tembak, ada pula karena luka di bagian kepala akibat lemparan batu. Terkait siapa oknum yang menembak, masih dalam proses penyelidikan.

Memang benar, perjuangan mereka patut diapresiasi dalam mengawal roda pemerintahan ini, namun bukan berarti nyawa jadi taruhannya. Mahasiswa sejatinya masih memiliki tanggung jawab dengan orang tua di kampung, bagaimana jadinya jika orang tua yang mengharapkan anaknya pulang membawa topi sarjana, justru pulang tanpa nyawa?

Mahasiswa harus cerdas, jangan sampai terpengaruh oleh elit politik pemilik kepentingan. Apalagi nuansa panasnya pilpres masih kentara dengan terbelahnya bangsa ini menjadi dualisme politik yang kerap bergesekan. Mahasiswa harus paham batasan demokrasi, jangan sampai semangat yang meluap-luap justru menggiringnya ke arah emosional yang tak terkendali. Mahasiswa juga harus objektif, tidak boleh mudah terprovokasi apalagi oleh eksistensi hoax yang kian marak dan mengakar.

Demo beretika

Etika berasal dari bahasa Yunani: "ethikos", yang berarti "timbul dari kebiasaan". Secara istilah merupakan cabang ilmu filsafat yang membahas kualitas atau nilai yang menjadi standar penilaian moral. Orang yang beretika adalah mereka yang dianggap baik secara sosial dan budaya dimana mereka berada. Secara umum, etika memiliki kemiripan dengan akhlak. Perbedaannya, jika etika lebih terfokus kepada penilaian publik, ahklak lebih terfokus pada orientasi ajaran keagamaan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved