Salam

Kita Dukung Tindakan Tegas terhadap Bos Sabu  

Serambi Indonesia edisi Rabu kemarin mengangkat berita utama tentang bos atau bandar sabu-sabu, yakni Ridwan yang tewas

Kita Dukung Tindakan Tegas terhadap Bos Sabu   
SERAMBI/BUDI FATRIA
FAISAL ABDUL NASER, Kepala BNNP Aceh 

Serambi Indonesia edisi Rabu kemarin mengangkat berita utama tentang bos atau bandar sabu-sabu, yakni Ridwan yang tewas dalam perjalanan ke rumah sakit setelah timah panas menembus tubuhnya dalam penyergapan di Bener Meriah, Senin (30/9/2019). Penyergapan dilakukan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh bersama BNN Pusat dan pihak kepolisian.

Menurut Kepala BNNP Aceh, Brigjen Pol Faisal Abdul Naser MH, Ridwan yang tercatat sebagai warga Aceh Timur ditembak petugas karena melawan saat ditangkap dan berusaha kabur naik sepeda motor. Petualangan bos sabu lintas provinsi ini pun berakhir sudah.

Brigjen Faisal mengaku sudah sejak empat bulan ini melacak keberadaan Ridwan. Dia biasa berpindah-pindah dan dilindungi sindikatnya. Dua hari lalu Ridwan kemudian diketahui berada di Bener Meriah. Lalu diuber. Saat dipergoki dia berupaya lari, lalu polisi melakukan pelumpuhan dan sesampai di rumah sakit yang bersangkutan meninggal.

Jenderal bintang satu ini menjelaskan, Ridwan menjadi buron sejak tertangkapnya Muazir dan Riski Ariananda yang tak lain adalah dua rekannya. Muazir dibekuk polisi pada 22 Mei 2019 di jalan terusan tol Jakarta-Merak Km 2, Cikuasa Atas,  Kecamatan Grogol, Cilegon, Banten.

Saat itu, Muazir membawa 36 kg sabu dalam truk bermuatan sayur kol dari Kabanjahe, Sumatera Utara, tujuannya ke Pelabuhan Merak Banten. Polisi yang telah mengendus rencana itu langsung membuntuti dan menangkap Muazir berikut barang bukti. Muazir ternyata mendapat sabu itu dari rekannya, Riski. Hari itu juga Riski yang berada di Langsa dibekuk personel BNNK setempat. Dari hasil pengembangan BNN, ternyata Muazir dan Riski adalah anak buah Ridwan. Dialah pemilik barang haram 36 kg itu yang memerintahkan Muazir dan Riski mengedarkan sabu-sabu ke Jawa. Dari sinilah BNN memburu Ridwan, karena dia memang bosnya.

Menurut Brigjen Faisal, tersangka Ridwan ditembak, selain karena berusaha kabur setelah dilakukan tembakan peringatan ke udara, aparat juga khawatir awalnya tersangka memiliki senjata karena rata-rata bandar sabu di Aceh punya senjata api.

Nah, apa yang dapat kita petik dari peristiwa ini? Pertama, ini adalah sinyal keras yang dikirim oleh BNNP Aceh kepada para bandar atau pengedar sabu yang masih nekat berbisnis narkoba di bumi syariat ini. Bahwa siapa pun yang masih meracuni generasi Aceh dengan narkoba, maka siap-siaplah berhadapan dengan tindakan tegas BNNP dan kepolisian. Nyawa akan menjadi taruhannya!

Sikap tegas aparat penegak hukum seperti ini sangat kita dukung agar memberikan efek jera sejera-jeranya kepada para bandar atau pengedar sabu, termasuk kepada keluarganya. Soalnya, peredaran narkoba di Aceh sudah sangat merisaukan. Korban yang kecanduan narkoba pun terus bertambah, hampir 40.000 orang jumlahnya. Belum lagi di kalangan pelajar, riset FKUI dan LIPI membuktikan bahwa satu dari 100 pelajar Aceh positif narkoba.

Dalam tiga tahun terakhir saja, BNNP Aceh menyita 3 ton sabu-sabu dan ekstasi di Aceh. Satu kilogram sabu-sabu dapat merusak sel saraf 4.000 penggunanya. Bayangkan betapa rusaknya generasi Aceh ke depan jika peredaran dan konsumsi narkoba di Aceh tidak segera dibasmi. Apalagi bisnis narkoba di Aceh sangat menarik minat bandar antarnegara karena harga jual sabu di Aceh tertinggi di Asia, yakni 1,5 hingga 2 miliar rupiah per kilogram. Bandingkan dengan harga jual sabu-sabu di Tiongkok, 1 gram = Rp 25.000, di Iran 1 gram = Rp 50.000, tapi di Aceh 1 gram = Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta. Ini yang membuat sindikat narkoba internasional tertarik berbisnis di Aceh.

Para bandar internasional yang umumnya bermukim di Malaysia dan Thailand itu menunjuk bandar kelas menengah di Aceh. Bandar menengah ini merekrut lagi bandar-bandar kecil bahkan para kurir yang mengedarkan sabu dalam paket kecil hingga ke desa-desa. Mereka seperti tak punya nurani dalam bertindak. Yang penting dapat untung besar, tak peduli bahwa yang mereka rusak itu orang Aceh juga. Jadi, ini bisnis yang sangat kejam. Aceh merusak Aceh.

Nah, daripada jumlah mereka yang rusak akibat narkoba semakin banyak, lebih baik para perusak masa depan generasi Aceh itu saja yang dibinasakan. Tembak mati saja para bandar narkoba jika dia melawan aparat. Itu jauh lebih baik daripada mereka yang menembak aparat, lalu tetap aman melancarkan bisnisnya dalam meracuni generasi muda Aceh.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved