Rabu, 6 Mei 2026

Musim Udang Sabu Tiba, Nelayan dan Warga Rama-ramai ‘Menyerbu’ Pantai

Biasanya, pantai di kawasan tersebut hanya ramai saat akhir pekan atau hari libur karena menjadi destinasi warga melepaskan penatnya bersama

Tayang:
Editor: bakri
SERAMBI/ZAINUN YUSUF
Warga menjemur udang sabu atau udang rebon basah di area Pasar Sangkalan, Kecamatan Susoh, Abdya, Rabu (2/10/2019. 

PEMANDANGAN tak biasa tampak di sepanjang pantai pesisir Kecamatan Susoh, Rabu (2/10/2019). Biasanya, pantai di kawasan tersebut hanya ramai saat akhir pekan atau hari libur karena menjadi destinasi warga melepaskan penatnya bersama keluarga. Tapi kini, di tengah pekan pun, pesisir pantai itu ‘diserbu’ secara beramai-ramai warga. Usut punya usut, membeludaknya warga ke pantai pesisir Kecamatan Susoh itu ternyata karena faktor musim panen udang sabu (udang rebon).

Panen udang sabu yang melimpah hasil tangkapan nelayan jaring pukat ini seperti magnet besar yang menarik warga untuk beramai-ramai turun menuju ke sejumlah pantai seperti Pantai Bali, Lampoeh Ue, Palak Kerambil, sampai Ujong Serangga. Warga yang datang pun bukan saja dari  Susoh, namun tidak sedikit berasal dari Blangpidie dan kecamatan lain.

Mereka berbaur dengan pedagang untuk membeli udang sabu basah yang segar dalam jumlah lumayan besar. Bahkan, ada juga sejumlah warga yang ikut turun langsung menangkap udang rebon dalam ombak dengan alat khusus yang dinamakan tangguk. Udang rebon, baik yang dibeli dalam jumlah besar atau hasil tangkapan sendiri dengan alat tangguk itu, kemudian dijemur sebagai stok rumah tangga atau dijual kembali ke pasar.

Nasruddin, pedagang dari Pantai Bali kepada Serambi, Rabu (2/10/2019) siang, menjelaskan, udang sabu basah yang dibelinya dari nelayan pukat jaring seharga Rp 200 ribu per keranjang. Setelah dijemur selama satu hari, ujarnya, diperoleh udang sabu kering sebanyak 8 kilogram (kg). “Lalu, udang sabu kering ini saya jual ke pasaran dengan Rp 40 ribu per kg,” jelasnya.

Tapi untuk udang sabu basah dalam kondisi agak tua dan ukurannya kecil, harga yang dilepas nelayan lebih murah, antara Rp 70 ribu sampai Rp 100 ribu per keranjang.

Udang rebon yang dipanen nelayan secara besar-besaran itu, sebut Nasruddin, bentuk ukurannya agak besar dari biasanya sehingga sangat menarik bagi penggemar sabu. Hanya saja, beber dia, musim udang sabu itu tak lama hanya berkisar hitungan hari. Sebab itulah, momentum musim panen tersebut betul-betul dimanfaatkan para nelayan dan warga untuk mengais rejeki. “Biasanya musim udang sabu tak lama, hanya sekitar 2 atau 3 hari,” papar Nasrudddin. 

Ya, seperti biasa, ketika musim panen udang rebon tiba, warga yang mendiami kawasan pesisir pantai di Kecamatan Susoh akan disibukkan dengan kegiatan menjemur udang sabu basah, baik di area halaman rumah atau sepanjang kanan kiri jalan desa setempat. Pemadangan warga ramai-ramai menjemur udang sabu terutama terlihat di Desa Rubek Meupayong, Padang Panjang, Ladang, Lampoeh Ue, Palak Kerambil, Kedai Pasie, Ujong Serangga (Padang Baru), sampai ke Desa Pulau Kayu.(zainun yusuf)    

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved