Opini

Aceh di Titik Nol  

Dikatakan muatan politis sering dijadikan isu politis padahal ikut serta dalam menyumbang kemiskinan di Aceh, dikatakan menyalahkan

Aceh di Titik Nol   
For Serambinews.com
Teuku Dadek, Asisten II Setda Aceh 

Oleh Teuku Dadek, Asisten II Setda Aceh

 Pertanyaan seputar kemiskinan Aceh penuh muatan politis, bahkan terkadang menyalahkan. Dikatakan muatan politis sering dijadikan isu politis padahal ikut serta dalam menyumbang kemiskinan di Aceh, dikatakan menyalahkan, seolah kemiskinan di Aceh disebabkan oleh sesorang atau sebuah rezim. Namun, Pemerintah Aceh---segala masa, tidak perlu merasa tak berdaya, tetapi terus mengupayakan agar kemiskinan terus menerus berkurang, baik kuantitas maupun kualitas.

Sejarah kemiskinan

Maret 2000 angka kemiskinan Aceh 15,20 persen, bandingkan dengan sekarang (Maret 2019) 15,32 persen, lebih kurang sama. Angka kemiskinan di Aceh justru melonjak tinggi pada 2002 dari 15,20 persen menjadi 29,38 persen atau naik 14,63 persen, seiring dengan nestapa dan air mata yang harus dikeluarkan rakyat Aceh karena ingin mengubah dan mempertahankan status Aceh menjadi bagian NKRI atau sebuah entitas nanggroe. Inilah dampak konflik lewat penerapan Operasi Militer. Jadi kemiskinan bukan hal yang dicari, dan juga bukan sifat asli orang Aceh jadi mental peminta-minta.

Pada 2004, angka kemiskinan Aceh 28,4 persen, kembali melonjak saat Aceh dirundung satu cobaan yang maha dasyat, gempa dan tsunami sehingga melonjak lagi menjadi 32,6 persen 2005. Gempa dan tsunami telah melahirkan saya dan juga Anda yang menjadi korban gempa dan tsunami sehingga menjadi miskin sebesar 4,2 persen. (baca Dampak Konflik, Tsunami, Dan Rekonstruksi Terhadap Kemiskinan Di Aceh, 2008, World Bank, BRR, dan Pemerintah Aceh)

Aceh baru kembali ke titik nol, titik yang hampir sama dengan tahun 2000, sebuah kerja keras semua pihak untuk menekan angka kemiskinan dari 32,6 persen menjadi 15,32 persen atau "diperangi" oleh pemerintahan dan masyarakat Aceh 17,3 persen selama sembilan belas tahun atau tidak lebih dari rata-rata penurunannya 0,9 persen/tahun walaupun dana rekontruksi dan rehabilitas mencapai total sebesar 7,6 miliar dollar (AS) atau setara Rp 106.400.000.000.000 T, dengan rincian 2,6 miliar dollar dari APBN sedangkan sisanya berasal dari FAIP terdiri dari 428 LSM internasional, 187 LSM nasional, 26 Palang Merah, 24 badan PBB, 72 multi dan bilateral agensi dan 255 lembaga swasta dan komunitas (https://sains.kompas.com, Vika Oktavia, data analis BRR).

Ada sembilan buah FAIP yang terlibat rekonstruksi Aceh-Nias. Yang telah membangun 133.903 rumah. Merelokasi 13.549 keluarga, membangun 1.488 sekolah, 987 bangunan pemerintah, 1.047 fasilitas kesehatan, 273 jembatan, membangun 3.585 km jalan, melatih 154.488 orang, dan sembilan alat sistem peringatan dini tsunami.

Perkembangan jumlah dana Otsus Aceh yang diterima Pemerintah Aceh pada 2008 sebesar Rp 3,59 triliun yang tiap tahun cenderung meningkat, dan pada 2018 sudah mencapai Rp 8,039 triliun. Total dana Otsus Aceh yang diterima Pemerintah Aceh selama 2008-2018 mencapai Rp 64,899 triliun. Rata-rata pertumbuhan dana Otsus Aceh sebesar 8,59%, di mana rata-rata pertumbuhan tertinggi pada 2012 dan terendah pada 2018 ini. Angka kemiskinan di Aceh pada 2007 berada di 26,65 persen (dimulainya dana Otsus 2008) dan kini Maret 2019 berada di 15,32 persen. Jadi, dana Otsus telah ikut membantu menekan angka kemiskinan hingga 11,33 persen.

Jadi, 2000 ke 2019 Aceh sedang menuju ke titik nol positif! Karena hal yang sangat naif jika kita melakukan generalisasi terhadap angka kemiskinan Aceh, ini bukan pembelaan tetapi fakta yang perlu kerja keras dan cerdas. Ini artinya, Aceh bergerak bukan dari titik zero (0) melainkan dari titik minus (-). Jadi, untuk bisa menuju titik plus (+) posisi Aceh harus ditarik dulu ke titik zero (0).

Dengan angka 15,32 persen posisi Aceh baru berhasil ditarik ke titik zero, dan kini Aceh segera bergerak ke titik plus (+). Jadi, dana BRR dan dana Otsus Aceh bukan gagal, tapi telah membantu mengembalikan posisi Aceh ke titik zero.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved