Bahasa Singkil Dialek Tanoh Alas

Setelah Tanoh Singkil (Alur Singkil) sendiri, yakni wilayah 2 daerah administartif Kabupaten Aceh Singkil dan Kota Subulussalam

Bahasa Singkil Dialek Tanoh Alas
SERAMBI/SAID KAMARUZZAMAN
Pnyuluhan Bahasa Indonesia untuk media massa yang berlangsung di aula kantor BPSDM Aceh, Banda Aceh. 

Oleh : Mulyadi Kombih, (Polyglot, Dewan Pendiri Yayasan Pelestarian Kebudayaan Suku Singkil (Yapkessi), Penulis Kamus Umum Basa Singkil dan buku Pedoman dan Tatacara Penulisan Basa Singkil)

 Setelah Tanoh Singkil (Alur Singkil) sendiri, yakni wilayah 2 daerah administartif Kabupaten Aceh Singkil dan Kota Subulussalam, sebaran terbanyak berikutnya penutur bahasa Singkil adalah Tanoh Alas atau Kabupaten Aceh Tenggara.

Aceh Tenggara merupakan sebuah kabupaten yang dihuni oleh multi etnis. Setidaknya ada 9 (sembilan) etnis atau suku mendiami wilayah ini. Bukan hanya sekedar bermukim dan membaur di Bumi Sepakat Segenep itu, namun uniknya masing-masing etnis tersebut memiliki kute sendiri-sendiri dan tentu secara otomatis adat-istiadat dan bahasa etnis tersebut tetap eksis di masing-masing kute dimaksud. Kesembilan suku tersebut yakni, Alas sang pemilik negeri sebagai mayoritas, lalu ada Gayo, Batak Toba, Singkil, Karo, Jawa, Pakpak, Minangkabau dan

Mandailing. Suku Singkil sendiri merupakan suku dengan penduduk mayoritas pada setidaknya bermukim di delapan belas desa di Aceh Tenggara.

Sebagai etnis yang sudah lumayan jauh meninggalkan tanah leluhurnya, penutur bahasa Singkil di Aceh Tenggara sedikit banyak pasti mengalami perubahan pula dalam bertutur bahasa Singkil. Perubahan dimaksud seperti banyaknya penambahan kosakata diluar kosakata bahasa Singkil asli, dan hilangnya beberapa kosakata asli bahasa Singkil.

Disamping itu yang tak kalah menariknya adalah perubahan dalam dialek dan tata bahasa. Pemakaian Beberapa Kosakata Bahasa Alas Beberapa kosakata yang aslinya tidak ditemui pada

penutur bahasa Singkil di Tanoh Singkil namun biasa terdengar diucapkan oleh penutur bahasa Singkil di Tanoh Alas. Kosakata-kosakata seperti, pot (mau), sen /sén/ (uang), legat /lë -gat/ (lantas), ade /a-dé/ (jika, kalau, jikalau) acap terdengar dituturkan oleh penutur bahasa Singkil di Lembah Alas.

Kosakata-kosakata tersebut merupakan akulturasi dari bahasa Alas, sementara kosakata asli Singkil untuk kata-kata di atas sudah agak jarang dipergunakan, terutama oleh generasi muda yang memang tidak lagi mengenal tanah leluhurnya. Untuk kata mau adalah sekel /sé-kél/ dan tama, untuk kata uang adalah kepeng /ké-péng/ dan untuk kata lantas adalah lanjar /lan-jagh/. Ise oda pot sen dosah mebahan (Basa Singkil dialeg Alas) Ise oda tama kepeng dosah kerajo (Basa Singkil) Siapa tidak mau uang, tidak usah bekerja.

Untuk kata jika, yang dalam bahasa Singkil merupakan kata yang paling banyak variannya, justru bagi orang Singkil di Tanoh Alas lebih terbiasa memakai kata yang berbau Alas. Dalam bahasa Singkil, kata jika, kalau, jikalau terdapat banyak varian yang masing-masing kata tersebut sudah tidak dapak lagi diklasifikasikan penuturnya, baik dari segi domisili penutur maupun dari segi  sia penutur.

Ragam kata untuk kata jika, kalau, jikalau dalam bahasa Singkil yakni; Mala, madi, mati, moda, mola, muda, mudi, mula, muna, ikum, ukum, kum justru bagi penutur bahasa Singkil di Tanoh Alas lebih terbiasa memakai kata ade dan atau kecak. Ade laus Ko me Medan, ulang lupa Kotokorken aku baju (bahasa Singkil dialek Alas) Mola laus mi Medan Ko, ulang lupa tokorken bangku baju (bahasa Singkil)

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved