Senin, 8 Juni 2026

Wawancara Eksklusif

Intens Bantu Warga Aceh di Malaysia

Bukhari bin Ibrahim (45) adalah salah seorang tokoh Aceh yang sejak hampir dua tahun lalu konsisten membantu warga Aceh

Tayang:
Editor: bakri
FOTO KIRIMAN JAFAR INSYA REUBEE
Bukhari bin Ibrahim 

Bukhari bin Ibrahim (45) adalah salah seorang tokoh Aceh yang sejak hampir dua tahun lalu konsisten membantu warga Aceh yang mengalami kesulitan dan kemalangan di Malaysia. Bahkan, dalam setahun terakhir, pria kelahiran Dama Pulo I, Idi Cut, Aceh Timur, 25 Februari 1974, ini menjadi salah seorang paling dicari saat ada warga Aceh yang mengalami musibah di negeri jiran tersebut.

Bersama tokoh-tokoh Aceh lain yang tergabung dalam Komunitas Melayu Aceh Malaysia (KMAM) dan anggota DPD RI asal Aceh, H Sudirman (Haji Uma), Bukhari sudah melakukan banyak hal untuk warga Aceh di sana. Mulai dari memfasilitasi pemulangan jenazah, menyelesaikan perkara tabrakan, hingga menangani kasus-kasus penyiksaan dan perdagangan manusia (human trafficking).

“Insya Allah saya akan selalu berusaha, bagaimana pun caranya, saudara-saudara kita jangan sampai mengalami sesuatu yang sangat menyedihkan,” ujarnya kepada wartawan Serambi Indonesia, Zainal Arifin M Nur, yang menemuinya di Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (29/9/2019) lalu. Simak penuturan lengkap Bukhari bin Ibrahim dalam wawancara eksklusif berikut ini:

Sudah berapa lama Anda menetap di Malaysia? Dan apa pekerjaan saat ini?

Saya sudah menetap di Malaysia sejak tahun 1992. Sejak awal saya berdagang. Alhamdulillah, saat ini sudah memiliki beberapa kedai runcit di Kuala Lumpur dan Johor Bahru.

Bisa diceritakan awal mula Anda terlibat dalam kegiatan sosial membantu masyarakat Aceh yang mengalami kesulitan?

Sejak awal 2018 saya terlibat dalam kegiatan sosial membantu masyarakat Aceh. Awalnya, saya merasa prihatin dengan nasib orang Aceh yang seperti tidak tahu harus mengadu ke mana ketika ditimpa masalah. Ini proses alamiah, bukan karena ada sesuatu hal. Saya hanya prihatin ketika makin hari makin banyak orang-orang Aceh yang datang ke sini dan mengalami kesusahan.

Apakah selama ini tidak ada pihak yang menyelesaikan masalah yang menimpa warga Aceh?

Ada, tapi mungkin tidak semuanya mampu mengcover kasus-kasus yang terjadi. Lagipula ada yang dalam istilahnya panas-panas tahi ayam. Maksudnya, begitu menggebu-gebu saat mendengar berita, tapi kemudian tidak ada follow up-nya. Nah, inilah yang kemudian menimbulkan kekecewaan dari orang-orang yang mengalami musibah. Lalu saya hadir dan memasang tekad agar setiap perkara yang saya tangani harus tuntas 100 persen.

Saya melakukan pekerjaan ini secara pribadi dan biasanya diam-diam. Jika kasusnya berat dan merasa butuh bantuan, saya akan mengajak beberapa orang untuk berembuk atau meminta bantuan. Kalau kasus besar, saya biasanya meminta bantu kepada Haji Uma (Anggota DPD RI asal Aceh H Sudirman-red), Datuk Mansyur (Presiden Komunitas Melayu Aceh Malaysia), dan pihak KBRI.

Bagaimana respons KBRI saat Anda melaporkan kasus-kasus itu?

Kalau saya datang sendiri agak slow responsnya. Di sini biasanya saya mengajak Datuk Mansyur atau menghubungi Haji Uma. Biasanya Haji Uma akan menyurati KBRI dengan tembusan kepada Gubernur dan Kementerian Luar Negeri. Sehingga responsnya cepat. Ada beberapa kali Haji Uma menyurati KBRI untuk membantu saya. Jadi nama saya dikenal karena ada beberapa surat dari Haji Uma.

Selama hampir dua tahun terlibat dalam kegiatan ini, sudah berapa kasus yang Anda tangani?

Saya tak ingat pasti, tapi kira-kira ada sekitar 30-an kasus yang pernah saya tangani.

Kasus apa saja?

Ada yang dijual, ada yang dianiaya, ada yang tertahan di rumah sakit karena tidak sanggup membayar biaya perawatan. Ada juga yang meninggal dunia akibat kecelakaan dan kasus-kasus lain. Kemudian kami urus pemulangan jenazahnya ke Aceh. Ada yang suaminya kena tangkap, kemudian istrinya tidak terurus. Ada juga yang terlunta-lunta karena tidak punya pekerjaan.

Kalau yang perdagangan manusia ada berapa kasus yang Anda tangani?

Ada dua, yang pertama menimpa seorang perempuan berusia 45 tahun. Kasus ini terbongkar sekitar 1,5 bulan lalu. Ibu ini dijual seharga 5.000 Ringgit Malaysia (RM). Setiap hari, dia disuruh memandikan anjing oleh majikannya dan tidak boleh shalat. Dia orang Banda Aceh, suaminya sudah meninggal, kemudian merantau ke Medan, bekerja serabutan hingga kawin lagi di Medan. Lalu, atas seizin suami keduanya ia merantau ke Malaysia melalui agen ilegal yang kemudian menjualnya kepada majikan rumah tangga nonmuslim.

Yang kedua adalah yang heboh beberapa hari lalu. Kasus ini menimpa seorang gadis asal Lhokseumawe yang ibu dan ayahnya sudah lama berpisah. Anak ini diajak oleh agen untuk bekerja di Malaysia sekaligus dijanjikan bertemu dengan ibunya. Tapi, sampai di sini ternyata dia juga menjadi korban trafficking. Alhamdulillah, saya bersama beberapa teman di sini berhasil menyelamatkannya dan sekarang dia sudah kembali kepada ibunya.

Kalau kasus yang disiksa bisa diceritakan secara singkat?

Kasus penyiksaan ini dialami oleh Anisa gadis asal Aceh Utara yang berusia 25 tahun. Kasus ini bermula ketika gadis ini pada awalnya berangkat ke Malaysia melalui seorang agen di Aceh. Diperkirakan anak ini terbuai dengan bujuk rayu agen ilegal yang menjanjikannya pekerjaan di Malaysia. Malangnya, ketika anak ini tiba di Malaysia, dia dijual kepada agen lain sehingga kemudian dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga dengan majikan yang berakhlak jahat. Ironisnya, di agen yang memberangkatkan anak ini tidak pernah mencari tahu bagaimana nasib dia selama bekerja di Malaysia. Dia bahkan tidak tahu di mana dan dengan siapa anak ini bekerja.

Anak ini hampir setahun merasakan penderitaan. Setiap hari dia disiksa, dipukul di bagian kepalanya, ditampar, hingga ditonjok di bagian wajah. Sehingga kepalanya tidak lagi normal. Kepalanya mengalami bengkak permanen yang tidak bisa kembali normal seperti sediakala. Dia ditumbuk sampai giginya rontok, disiram air panas. Kita tidak bisa membayangkan kepedihan yang dia rasakan setiap harinya selama satu tahun.

Bagaimana kasus ini terbongkar?

Dia sudah berbulan-bulan mengalami penyiksaan, sampai suatu waktu dia merasakan tidak sanggup lagi menahannya. Sepertinya dia merasakan bahwa hari itu adalah hari terakhir dia hidup, sehingga dia nekat memanjat pagar rumah kemudian lari menyeberang jalan di belakang rumah majikan. Di seberang jalan ada taman, kemudian dia lari lagi menyeberang jalan yang di pinggirnya ada hutan kecil. Nah, di sanalah dia bersembunyi.

Dua malam dia tidur di atas pohon. Saat lapar dia turun dan meminta air putih ke rumah penduduk sekitar. Setelah itu dia kembali ke atas pohon. Pada hari kedua, dia kembali turun dari pohon dan mengetuk rumah warga India Malaysia untuk meminta seteguk air putih. Saat itu, warga keturunan India itu bertanya dan kemudian membawanya ke kantor polisi terdekat. Beberapa saat kemudian, informasi ini sampai kepada majikan dan kemudian Anisa dijemput kembali oleh majikannya. Namun dia tidak dibawa kembali ke rumah, melainkan ditinggalkan di jalan.

Anisa ditemukan oleh seorang TKI yang bekerja pada salah satu hotel. Kemudian dia menghubungi abang iparnya. Kabar ini kemudian beredar cepat melalui grup-grup WhatsApp komunitas Aceh, sehingga kemudian kami mengadvokasi kasus ini. Saya bersama Datuk Mansyur bin Usman, Presiden Komunitas Melayu Aceh Malaysia (KMAM), Mukhtar Abdullah, seorang keluarga Anisa, serta beberapa rekan lain membawa Anisa ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) sekaligus melaporkan kasus ini.

Kami juga membawa Anisa ke rumah sakit untuk divisum. Sehingga kasus ini kemudian berujung ke pengadilan. Informasi yang saya peroleh, pada bulan Oktober ini akan dimulai sidang perdana terhadap kasus ini.

Darimana Anda mendapatkan uang untuk biaya pengurusan kasus-kasus tersebut?

Sebagian saya gunakan uang pribadi. Sebagian lagi, terutama jika kasus besar dan butuh uang banyak, saya menggalang dana melalui kenalan dan grup-grup WhatsApp komunitas Aceh. Alhamdulillah, banyak yang merespons dan memberikan sumbangan sehingga semuanya bisa diatasi. Kita selalu berusaha bagaimana pun caranya agar saudara-saudara kita tidak mengalami sesuatu yang sangat menyedihkan.

Apa kendala terbesar yang Anda alami dalam menangani perkara-perkara ini?

Kendala yang paling terasa, sangat sulit melaporkan kasus-kasus yang menimpa tenaga kerja kita ke KBRI. Setiap kali saya datang ke KBRI, tanggapannya selalu dingin. Sepertinya tidak ada orang khusus yang mengurus persoalan ini. Bukan hanya untuk warga Aceh, tapi juga bagi TKI lain dari Indonesia.

Apa pesan Anda, terutama gadis-gadis Aceh yang ingin bekerja di Malaysia?

Saya mengimbau kepada adik-adik, kakak, dan rekan-rekan di Aceh, janganlah terpengaruh, terpedaya atau termakan dengan bujuk rayu seseorang yang mengajak bekerja di Malaysia.  Sebab, status orang yang mengajak tersebut tidak menentu, tidak pasti. Kemudian hal seperti ini ilegal. Kita tak pernah tahu siapa yang bisa kita pegang dan ke mana tujuannya. Karena itu saya mengimbau kepada seluruh rakyat Aceh untuk tidak lagi termakan rayuan, bujukan, dan cerita-cerita manis untuk ikut agen-agen ilegal untuk bekerja di luar negeri. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved