JURNALISMEWARGA

Adat Mendudukkan dalam Pesta Perkawinan di Gostel

Di Kabupaten Aceh Singkil, ada sebuah kemukiman, yaitu Kemukiman Gosong Telaga (Gostel) yang membawahi tujuh desa

Adat Mendudukkan dalam Pesta Perkawinan di Gostel
IST
SADRI ONDANG JAYA, S.Pd., guru dan inisiator pembentukan Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Aceh Singkil, melaporkan dari Singkil

SADRI ONDANG JAYA, Guru dan Inisiator Pembentukan Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Aceh Singkil, melaporkan dari Singkil

Di Kabupaten Aceh Singkil, ada sebuah kemukiman, yaitu Kemukiman Gosong Telaga (Gostel) yang membawahi tujuh desa. Tiga di antaranya berada di ceruk pesisir Samudra Hindia, yakni Desa Gosong Telaga Utara, Gosong Telaga Selatan, dan Desa Gosong Telaga Timur.

Warga ketiga desa ini dalam bertutur sehari-hari, umumnya menggunakan bahasa aneuk jamee (Minang). Begitu pula adat istiadat yang dianut cenderung memakai adat pesisir Minang yang telah berakultrasi dengan adat suku lain. Lazim juga disebut adat  hasil "kreasi baru".

Apabila  ada warga menyelenggarakan pesta perkawinan (walimatul urusy), warga yang berhelat itu harus menggelar beberapa rangkaian acara adat. Salah satu di antaranya, mendudukkan.

Mendudukkan secara terminologi umum adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya. Sedangkan dalam konteks ini, mendudukkan mengandung pengertian, suatu prosesi adat yang dihadiri beberapa elemen masyarakat. Tujuannya adalah ingin ‘mendudukkan’ sesuatu sesuai dengan tatanan adat yang ada.

Elemen masyarakat yang menghadiri acara mendudukkan, terdiri atas kepala mukim, kepala desa,  imam masjid, khatib, bilal, dan kepala lorong. Tak ketinggalan alim ulama nan cerdik pandai, tuan janang, dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya.

Unsur masyarakat yang hadir itu, acap disebut dengan ninik mamak alias komunitas pemangku adat atau “orang-orang tua” nagari.

Menariknya, saat ninik mamak atau “tamu yang dipertuan agung” menghadiri undangan mendudukkan, mereka harus mengenakan pakaian berupa baju lengan panjang, berpeci hitam, dan berkain sarung.

Kendati kain sarungnya tidak dipakai, boleh juga mengenakan celana panjang. Namun, kain sarungnya tetap disertakan. Ia sebagai pelengkap yang diletakkan di paha saat duduk bersila.

Intinya, saat prosesi adat mendudukkan berlangsung, pakaian ninik mamak harus rapi dan bersih. Tidak boleh pakai celana training dan berkaus, apalagi kaus oblong bergambar atau bercoret-moret.

Halaman
123
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved