Opini

Mencegah Upaya Bunuh Diri  

Riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2018 menyebutkan bahwa prevalensi gangguan jiwa kronis (skizofrenia) Aceh adalah 9 per mil.

Mencegah Upaya Bunuh Diri   
IST
Humaira, Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Unsyiah, Dokter Rumah Sakit Jiwa Aceh

Oleh Humaira, Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Unsyiah, Dokter Rumah Sakit Jiwa Aceh

Riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2018 menyebutkan bahwa prevalensi gangguan jiwa kronis (skizofrenia) Aceh adalah 9 per mil. Ini berarti dari 1.000 penduduk Aceh, terdapat sembilan orang yang mengalami penyakit skizofrenia.

Prevalensi gangguan jiwa kronis Aceh lebih tinggi dari rata-rata nasional yaitu, 7 per mil. Jika diurutkan per provinsi, Aceh  berada di peringkat empat secara nasional. Bila dibandingkan dengan hasil riset kesehatan dasar tahun 2013, prevalensi gangguan jiwa ini di Aceh dan Indonesia meningkat tajam masing-masing sebesar 6 dan 5,3 poin, dari angka 3 per mil dan 1,7 per mil. 

Individu dengan penyakit skizofrenia juga mempunyai kecenderungan memiliki ide-ide bunuh diri. Menurut ahli, para penderita skizofrenia memiliki resiko yang lebih tinggi untuk melakukan usaha bunuh diri, yaitu sebanyak delapan kali lipat dibandingkan orang lain yang tidak menderita skizofrenia. Pencegahan bunuh diri pada seorang penderita skizofrenia lebih sulit dilakukan karena tindakan dan perilaku penderita skizofrenia sulit ditebak dan impulsif.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan kasus bunuh diri di dunia mecapai 800.000 orang per tahun. Artinya, setiap 40 detik terdapat satu kasus orang meninggal karena bunuh diri. Berkenaan dengan kenyataan tersebut, WHO mencanangkan tema "Working together to Prevent Suicide, a day for 40 second of action" (bekerja bersama mencegah bunuh diri, sehari beraksi nyata selama 40 detik) dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang jatuh pada tanggal 10 Oktober setiap tahun.

Bonus demografi

Akhir Agustus yang lalu kita dikejutkan dengan berita di media massa yaitu seorang mahasiswi Aceh, berusia muda dan produktif, diduga meninggal akibat bunuh diri di Krueng Barona Jaya. Hal ini tentu membuat kita prihatin. Masalah yang dihadapi dunia ternyata juga dihadapi oleh nanggroe kita.

Hal yang sama terjadi di tingkat nasional. The Indonesian National Representatif of International Association for Suicide Prevention (IASP) menyebutkan sejak tahun 2003 Indonesia sudah berada di zona merah dalam hal kerentanan terhadap upaya bunuh diri. Angka kejadian bunuh diri di Indonesia tahun 2018 adalah sembilan orang per 100.000 penduduk, dengan usia rentan bunuh diri berkisar 15-29 tahun.

Penduduk usia muda saat ini menghadapi banyak tantangan atau perubahan seperti perkembangan teknologi internet, pornografi, narkoba, dan perilaku yang beresiko lainnya. Keterpaparan terhadap hal-hal tersebut dapat mempengaruhi kesehatan dan ketahanan mental Selain itu, sumber-sumber stres yang tidak segera ditangani menyebabkan timbulnya stressor yang dapat menyebabkan depresi.

Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan struktur usia penduduk Indonesia pada kurun 2010-2035 kategori usia muda adalah 25,2% dari total populasi. Artinya satu dari empat orang penduduk Indonesia adalah berusia muda.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved