Kisah Warga Aceh di Wamena, Selamat dari Kerusuhan Seperti Surga bagi Kami

Jecky A adalah pria kelahiran Langsa, 16 April 1974, yang sudah 23 tahun merantau dan tinggal di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya

Kisah Warga Aceh di Wamena, Selamat dari Kerusuhan Seperti Surga bagi Kami
SERAMBINEWS.COM/SENI HENDRI
Bupati Aceh Timur, H Hasballah bin HM Thaib SH, mengunjungi Jecky dan keluarga setiba di Peureulak, Aceh Timur, Selasa (8/10/2019). 

Jecky A adalah pria kelahiran Langsa, 16 April 1974, yang sudah 23 tahun merantau dan tinggal di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Di sana ia menikahi perempuan asal Bone, Sulawesi Selatan, bernama Rosnawati (45). Mereka sudah memiliki seorang putri yaitu Cut Wahyuni Aceh Putri (16), yang kini duduk di kelas II SMA. Di provinsi paling timur Indonesia itu, Jecky sehari-hari bekerja sebagai penjual pakaian pada salah satu pasar yang ada di Kota tersebut.

“Di Wamena, kita mudah mencari rezeki dan itu menjadi salah satu alasan saya betah tinggal di sana. Namun, harga bahan pokoknya mahal. Seperti nasi pakai telur 35 ribu rupiah per bungkus dan kalau pakai ikan 50 ribu rupiah per bungkus,” ungkap Jecky.

Ketenangan yang dirasakan Jecky dan keluarganya serta ribuan warga lain yang selama ini tinggal di Wamena, terusik pada pertengahan bulan lalu setelah aksi demonstrasi yang berujung rusuh pecah di kota itu. Menurutnya, saat kerusuhan yang terjadi pada Senin (23/9/2019) lalu, sekelompok orang secara brutal merusak fasilitas publik dan menyerang masyarakat.

Bahkan, sambung Jecky, ada sebagian dari pengunjuk rasa yang memakai seragam sekolah. Tapi, dalam tas mereka berisi bensin yang kemudian digunakan untuk membakar sejumlah fasilitas umum. “Tidak hanya fasilitas publik, setiap orang yang berambut lurus juga diserang. Mereka sangat brutal,” ungkap Jecky.

Ditanya apa yang ditakutkan dari kerusuhan itu, Jecky mengatakan, ia dan keluarganya takut dibunuh. “Kami takut bunuh,” ungkap Jecky seraya menyatakan rekannya yang sama-sama bekerja sebagai pedagang pakaian tak ada yang menjadi korban pembunuhan dalam kerusuhan tersebut.

Setelah kerusuhan itu, menurut Jecky, ia dan istrinya mengumpulkan barang-barang berharga seperti KTP, ijazah, dan surat-surat penting lain agar mudah diamankan jika sewaktu-waktu terjadi kembali hal-hal yang tidak diinginkan. Sedangkan barang dagangan, sambung Jecky, ditinggalkan dalam kios yang sudah digembok. Ia kemudian menitipkan kios tersebut kepada keponakannya, Abdul Muthalib, yang hingga kini masih tinggal di Wamena. Abdul Muthalib bekerja sebagai bilal masjid dan ia saat ini dikawal oleh aparat keamanan.

Karena keselamatan tinggal di Wamena sudah tak terjamin lagi, sambung Jecky, ia dan keluarga akhirnya mengungsi ke Jayapura. Dikatakan, mereka dievakuasi menggunakan helikopter Hercules milik TNI. Seminggu berada di Jayapura, kata Jecky lagi, ia dan sejumlah pengungsi lain dari Aceh atau provinsi-provinsi lain di Sumatera pulang ke daerah masing-masing. “Kami pulang ke Aceh dibiayai oleh Dinas Sosial Aceh. Sekarang, masih ada beberapa lagi warga Aceh yang tinggal di Wamena, termasuk keponakan saya Abdul Muthalib,” ungkap Jecky yang tiba di Aceh Timur pada Senin (7/10/2019) sekitar pukul 23.30 WIB.

Sejak tiba di Aceh Timur, Jecky dan keluarga tinggal di rumah abangnya, H Zakaria, di Desa Dama Tutong, Kecamatan Peureulak. Sebagai bentuk perhatian kepada Jecky, Bupati Aceh Timur, H Hasballah bin HM Thaib, didampingi Kadis Sosial Aceh Timur, Ir Elfiandi, Kabag Humas, Nauli, Kabid Rehabsos, Iskandar, Camat Peureulak, Nasri, dan perangkat gampong setempat, Selasa (8/10/2019) siang, menemui yang bersangkutan. Pada kesempatan itu, Bupati yang akrab disapa Rocky ini menyerahkan bantuan (jadup) serta menepungtawari (peusijuek-red) Jecky dan keluarganya.

Dalam wawancara dengan Serambi seusai disambangi Bupati, Jecky yang tinggal di Wamena sejak tahun 1996 silam itu, mengatakan, bisa tiba dengan selamat di Aceh Timur merupakan anugerah yang tak ternilai baginya dan keluarga. Sebab, menurut Jecky, kerusuhan di Wamena yang terjadi pada pertengahan September 2019 itu sangat ekstrem dan mengancam keselamatan warga pendatang.

“Selamat dari kerusuhan di Wamena, sudah seperti surga bagi kami,” ungkap Jecky sambil menangis terharu di depan Bupati Rocky. Ia mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Aceh dan Pemkab Aceh Timur yang telah membantunya sehingga bisa pulang ke tanah kelahiran dan berkumpul dengan keluarga. Jecky berharap ke depan ada bantuan modal dari pemerintah agar ia bisa memulai usaha baru di Aceh Timur. Sebab, tambah Jekcy, ia takkan kembali lagi ke Papua dan dalam waktu dekat akan mengurus surat pindah ke Aceh Timur.

Sementara Bupati Aceh Timur, H Hasballah bin HM Thaib SH, mengatakan, pihaknya akan berusaha membantu Jecky dan keluarganya yang merupakan warga asli Aceh Timur. Karena itu, Bupati Rocky berharap Jecky segera mengurus surat pindah ke Aceh Timur agar Pemkab bisa membantunya. “Untuk warga Aceh Timur yang hingga kini masih tinggal di Wamena, kita juga siap membantunya. Kami akan berkoordinasi dengan Plt Gubernur Aceh untuk penanganan warga kita yang masih di sana,” pungkas Rocky. (c49)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved