Jurnalisme Warga

Merawat Kemanunggalan TNI-Rakyat di Plu Pakam

Sebelum momen kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) dimulai di gampong ini, referensi tentang Plu Pakam

Merawat Kemanunggalan TNI-Rakyat di Plu Pakam
IST
MUHAMMAD NASIR AGE, ASN di Kantor Bupati Aceh Utara, peminat literasi dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Lhokseumawe, melaporkan dari Lhokseumawe

OLEH MUHAMMAD NASIR AGE, ASN di Kantor Bupati Aceh Utara, peminat literasi dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Lhokseumawe, melaporkan dari Lhokseumawe.

Sebelum momen kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) dimulai di gampong ini, referensi tentang Plu Pakam sangat sedikit di internet. Pada akhir September 2019, misalnya, saya coba membuka mesin searching di layanan Google, akan tetapi minim sekali yang berisi Plu Pakam. Sebagian besar hasil pencarian justru menyebut tentang Lubuk Pakam, sebuah kota di Sumatera Utara. Muncul juga Kota Palu di Sulawesi Tengah. Barangkali Google mengira saya salah mengetik kata. Hendak mengetik Palu, tapi tertulis Plu.

Satu-satunya referensi yang selalu datang setiap mengetik Plu Pakam adalah data dari Wikipedia : Plu Pakam merupakan salah satu gampong yang ada di Kecamatan Tanah Luas, https://id.wikipedia.org/wiki/Tanah_Luas,_Aceh_UtaraKabupaten Aceh Utara, https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Aceh_UtaraProvinsi Aceh. Berikut sebuah peta satelit yang di-close up dari Google Maps. Ya, hanya itu.

Tersebab penasaran dengan keberadaan gampong inilah, maka pada Rabu, 2 Oktober 2019 saya ikut hadir ke acara pembukaan kegiatan TMMD yang dilaksanakan jajaran TNI Kodim 0103/Aceh Utara di Plu Pakam. Meskipun terletak dalam wilayah kecamatan eksplorasi gas alam, akan tetapi nasib Plu Pakam belum seindah hasil buminya.

Terletak di ujung selatan Kecamatan Tanah Luas, paling pedalaman, Plu Pakam berbatasan langsung dengan hutan belantara yang sebagiannya merupakan areal hak guna usaha (HGU), hingga ke batas Kabupaten Bener Meriah.

Tidak ada kendaraan umum menuju ke sana, kecuali ojek RBT yang ongkosnya lebih mahal dari rata-rata. Penyebabnya, selain kondisi jalan, juga karena keterisoliran gampong ini masih cukup terasa.

Dari Lhoksukon, ibu kota Kabupaten Aceh Utara, jarak ke Plu Pakam sekitar 30 km. Dari Keude Blang Jruen, pusat Kecamatan Tanah Luas, jaraknya tak sampai 15 km. Orang yang melawat ke Plu Pakam umumnya mengambil rute dari Keude Blang Jruen ke arah selatan, menyeberang jalan raya Line Pipa milik perusahaan eksplorasi migas, PT Pertamina Hulu Energi (PHE)-NSB, di Simpang Rangkaya. Tempat ini mudah ditandai karena di sebelah kirinya juga terdapat areal Cluster III (kumpulan sumur gas alam) milik PHE yang selalu menyala terang-benderang pada malam hari.

Selepas Simpang Rangkaya melintasi jalan kecamatan yang aspalnya mulai terkelupas di beberapa titik. Ada juga yang koyak agak lebar. Sekitar 5 km mencapai Plu Pakam jalannya masih merupakan jalan dasar. Sepertinya belum ada pengerasan. Di beberapa titik terlihat baru saja diratakan dengan alat berat, supaya bisa dilewati kendaraan roda empat. Permukaannya masih berupa tanah merah. Jika tersiram hujan pasti licin dan tak bisa dilintasi. Apalagi jalannya menanjak.

Di kiri dan kanan jalan terdapat areal perkebunan rakyat. Sawit tidak banyak. Selebihnya pinang, kakao, rambutan, durian, dan langsat. Tak ada rumah di sini. Sekitar 4 km sepanjang jalan itu sepi dari permukiman penduduk. Plu Pakam terasa terpisah. Ia jauh dari gampong-gampong lainnya di Tanah Luas.

Rute lain menuju ke Plu Pakam adalah melewati kecamatan tetangga, yaitu Paya Bakong. Tapi cukup berjarak. Terlebih harus melewati jembatan gantung di gampong paling pedalaman di kecamatan itu, yaitu Gampong Blang Pante, tempat dulu PT Sarena Maju mendirikan pabrik stone chruser untuk mengolah pasir dan batu untuk material konstruksi proyek vital ladang gas Arun era tahun ‘70-an.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved