Kemenkes Kembali Nilai RSUZA, Sebagai RS Pendidikan Utama

Tim Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI kembali melakukan visitasi ke Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel Abidin (RSUZA)

Kemenkes Kembali Nilai RSUZA, Sebagai RS Pendidikan Utama
Dr dr Azharuddin SpOT K-Spine

BANDA ACEH - Tim Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI kembali melakukan visitasi ke Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh, 11-12 Oktober 2019. Kunjungan itu dalam rangka menilai kembali kesiapan RSUZA sebagai 'RS Pendidikan Utama' Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (FK-Unsyiah). 

Direktur RSUZA Banda Aceh, Dr dr Azharuddin SpOT K-Spine kepada Serambi di sela visitasi kemarin, Jumat (11/10) mengatakan, penilaian oleh pemerintah pusat dilakukan setiap tiga tahun guna mengecek kesiapan RS dalam menyelenggarakan pendidikan. "RSUZA perlu dinilai kembali untuk memastikan kelayakannya sebagai RS pendidikan utama FK Unsyiah," ucapnya.

Menurut Azharuddin, visitasi itu wajib dilakukan untuk menegaskan bahwa instansi tersebut prima dalam memberikan layanan baik sebagai pusat rujukan kesehatan masyarakat maupun wahana utama pendidikan bagi mahasiswa Unsyiah. "Penilaian itu mencakup penelaahan dokumen maupun site visit ke lokasi-lokasi yang mereka pilih secara acak. Selain menilai, tim juga memberikan rekomendasi kepada kami," katanya.

Dia melanjutkan, dalam waktu maksimal 60 hari, tim Kemenkes akan mengumumkan status terbaru RSUZA sebagai RS pendidikan. Azharuddin berharap RS milik Pemerintah Aceh itu dapat kembali menyandang predikat tertinggi (utama) sebagai RS pendidikan. "Dalam tiga tahun terakhir kami terus berbenah dan meningkatkan layanan kepada masyarakat. Insyaallah kita mampu meraihnya kembali," jelas Azharuddin.

Dengan adanya jaminan mutu tersebut, sambung spesialis bedah tulang ini, RSUZA bisa menjadi kebanggaan bagi peserta didik maupun masyarakat Aceh pada umumnya. "Standar-standar yang sudah ditetapkan pemerintah itu harus dapat kita penuhi demi terciptanya layanan dan pendidikan yang berkualitas. Sehingga lulusan FK Unsyiah bisa diandalkan, di mana pun bertugas mereka bisa menjadi pemimpin," harapnya.

Adapun tim Kemenkes RI yang datang untuk menilai RSUZA kali ini yaitu dr Else Mutiara Sihotang SpPK, dr Andi Wahyuningsih Attas SpAn KIC MARS, dr Cisca Kuswidyati SpM MSc, Nuniek Savitri SH MARS, dan Ns Dwi Dharmaningsing Skep. Penyambutan tim oleh manajemen dan pegawai RS berlangsung di Auditorium RSUZA, Jumat (11/10).

Pada bagian lain, Direktur RSUZA Banda Aceh, Dr dr Azharuddin SpOT K-Spine ingin meluruskan anggapan miring masyarakat terhadap RS pendidikan. Karena masih ada yang menganggap bahwa RS pendidikan sebagai tempat 'coba-coba' bagi calon dokter dan paramedis lainnya. "Padahal status RS pendidikan utama ini memastikan bahwa seluruh staf memberikan layanan sesuai dengan kebutuhan pasien," ujarnya.

Azharuddin menjelaskan bagaimana keterlibatan peserta didik dalam penanganan medis di RSUZA yang diatur sangat ketat. Untuk peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) misalnya, mereka dibagi ke dalam tiga tingkat yang ditandai dengan badge nama yang berwarna merah, kuning, dan hijau. "Setiap warna menandakan masa pendidikan mereka di PPDS yang dimulai dari merah hingga hijau. Artinya hanya yang berwenang sesuai level ilmunya yang bisa terlibat dalam penanganan medis," kata dia.

Saat ini, sebutnya, FK Unsyiah sudah memiliki 10 PPDS meliputi bedah, penyakit dalam, kebidanan, anak, anestesi, jantung, paru-paru, saraf, bedah plastik, dan THT.(fit)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved