Jurnalisme Warga

Ketika Merokok (Tidak) Membunuhmu 

Dalam program penyakit tidak menular (PTM), saya memberikan penyuluhan tentang bahaya merokok di sejumlah sekolah

Ketika Merokok (Tidak) Membunuhmu 
IST
MUTIA HANUM, S.Kep., Staf Puskesmas Peusangan, Bireuen, dan Mahasiswi Program Ners STIkes Darussalam, Kota Lhokseumawe, melaporkan dari Bireuen

OLEH MUTIA HANUM, S.Kep., Staf Puskesmas Peusangan, Bireuen, dan Mahasiswi Program Ners STIkes Darussalam, Kota Lhokseumawe, melaporkan dari Bireuen

Dalam program penyakit tidak menular (PTM), saya memberikan penyuluhan tentang bahaya merokok di sejumlah sekolah, mulai dari jenjang SD, SMP, hingga SMA di Kecamatan Peusangan, Bireuen. Kepala sekolah yang saya kunjungi rata-rata menyembunyikan fakta bahwa guru dan pegawainya merokok di lingkungan sekolah.

Namun, ada juga sejumlah sekolah yang serius membebaskan sekolahnya dari polusi rokok. Tergantung dari komitmen kepala sekolahnya. Jika kepala sekolahnya bukan perokok, dia akan menyambut baik program sosialisasi kawasan tanpa rokok (KTR). Sedangkan bagi kepala sekolah yang perokok, biasanya mereka hanya sekadar menerima sosialisasi KTR, tapi tanpa diikuti oleh upaya serius dalam memerangi rokok.

Faktanya, saya temukan masih banyak guru laki-laki yang merokok di sejumlah sekolah yang saya kunjungi. Buktinya, asbak di ruangan guru dipenuhi puntung rokok. Ruang publik yang bersih dari paparan asap rokok pun semakin sulit kita ditemui. Sekadar menikmati segelas minuman di warung kopi atau kafe saja, terkadang kita sulit menghindar dari kepulan asap rokok. Di samping kasir pun terpajang rak rokok dengan beragam merek. Belum lagi makin menjamurnya rokok elektrik (vape dan shisa) yang semakin digandrungi oleh kaum milenial.

Sebagai paramedis, saya termasuk yang sangat alergi terhadap asap rokok. Jika ada yang merokok dekat di saya, langsung saya tegur dengan kalimat santun. Memang ada beberapa di antara perorok yang pengertian. Misalnya, begitu ditegur ia langsung matikan rokoknya atau setidaknya menjauh dari saya. Namun, ada juga sebagian perokok yang masa bodoh dan menganggap merokok sebagai perbuatan di ranah privat yang tidak bisa dilarang.

Secara global, kebiasaan merokok telah menyebabkan 6 juta penduduk dunia meninggal tiap tahun. Bahkan diperkirakan pada tahun 2030, kematian akibat merokok bisa 10 juta jiwa per tahun. Menurut World Health Organization (WHO), Indonesia merupakan negara ketiga dengan jumlah perokok terbesar di dunia setelah Cina dan India. Data dari Riset Kesehatan Dasar Indonesia pada tahun 2013 menunjukkan 85% rumah tangga di Indonesia terpapar asap rokok.

Untuk lingkup Aceh lebih gawat lagi, berdasarkan riset WHO bersama Dinas Kesehatan Aceh tahun 2008 ternyata perokok di Aceh merupakan perokok yang di seluruh Indonesia paling banyak mengisap rokok, yakni rata-rata 19,5 batang per hari. Sebagian besar perokok di Aceh justru orang miskin yang untuk membeli susu untuk bayinya saja susah.

Saya juga pernah memergoki sekumpulan anak SMP sedang nyaman merokok saat jam istirahat sekolah. Mereka mencari pojok “aman” agar tidak terpantau oleh guru. Jika saat di sekolah saja mereka berani merokok, apalagi ketika mereka sedang barada di luar lingkungan sekolah. Malah sekarang bukan hal aneh yang lagi jika kita mendapatkan kenyataan, banyak anak-anak usia SD dan SMP, asyik merokok di ruang umum tanpa ada yang menegur. Di sisi lain, rokok adalah gerbang narkoba, maka tak heran saat ini satu dari 100 pelajar Aceh positif narkoba (Riset FKUI dan LIPI).

Para produsen rokok juga punya andil besar dalam menciptakan zona nyaman merokok bagi anak-anak. Mata kita akan dengan mudah memelototi reklame dan display iklan rokok di ruang terbuka publik seperti di sudut-sudut jalan, hingga supermarket dan pusat perbelanjaan. Memang di satu sisi iklan rokok bisa meraup pemasukan pemda dalam menggenjot PAD-nya. Sejumlah kabupeten/kota yang telah memiliki Qanun Kawasan Tanpa Rokok (KTR) misalnya, sepertinya hanya sebatas sloganitas saja, tanpa dibarengi dengan upaya penerapan sanksi bagi perokok.

Mungkin kita bisa mencontoh apa yang dilakukan Pemerintah Kota Bogor dalam upaya pemberantasan kebiasaan merokok dan pengurangan polusi asap rokok yang telah dimulai sejak sepuluh tahun lalu. Perda Nomor 12 Tahun 2009 tentang KTR, lalu disempurnakan dengan memasukkan ketentuan tentang penggunaan vape dan shisa yang tergolong sebagai jenis kegiatan merokok serta perluasan wilayah bebas asap rokok.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved