Opini

Mahasiswa Milenial Kian Malas Membaca  

Sangatlah benar bahwa dalam kenyataannya kehadiran smartphone di era sekarang ini, era digital, telah membuat banyak produk

Mahasiswa Milenial Kian Malas Membaca   
IST
Tabrani Yunis, Praktisi Pendidikan, Tinggal di Banda Aceh

Oleh Tabrani Yunis, Praktisi Pendidikan, Tinggal di Banda Aceh

 "Smartphone layaknya vacuum cleaner yang menyedot aktivitas apa pun yang dilakukan kaum millenial". Begitu salah satu ungkapan yang dituliskan Yuswohadi, dalam bukunya berjudul: Millennials kill everything, terbitan PT. Gramedia April 2019. Sebuah ungkapan yang merupakan realitas kekinian generasi milenial saat ini.

Sangatlah benar bahwa dalam kenyataannya kehadiran smartphone di era sekarang ini, era digital, telah membuat banyak produk, layanan, industri, nilai-nilai serta adat budaya serta tradisi yang dahulunya sangat dijaga ikut mati dan bahkan hilang tanpa jejak. Celakanya pula, budaya membaca yang seharusnya terus meningkat dengan tersedianya smartphone, karena akses terhadap segala sumber bacaan semakin banyak dan semakin mudah diakses, kapan saja dan dimana saja.

Begitu banyak materi bacaan yang tidak kalah menariknya untuk dibaca. Saking banyaknya sumber bacaan yang bisa diakses dengan smartphone tersebut, kita bahkan bisa menyebutkan bahwa saat ini, sumber belajar bagi kaum milenial sebenarnya dalam kondisi banjir bahan atau materi bacaan.

Namun, sayangnya pula, ketika begitu banyaknya tersedia bahan bacaan yang bisa diakses dengan mudah tersebut, tidak diikuti oleh meningkatnya minat membaca, terutama di kalangan mahasiswa yang disebut sebagai kaum milenial tersebut. Malah yang terjadi, para mahasiswa millenial semakin tidak membaca. Benarkah demikian?

Untuk membuktikan benar atau tidak, seharusnya bisa dibuktikan secara ilmiah. Kita tentu membutuhkan data yang bisa membuktikannya. Sayangnya, tidak ada satu universitas pun yang memiliki data kemampuan literasi mahasiswa di universitas masing-masing. Dalam hal ini, idealnya setiap universitas adalah pihak yang memiliki kapasitas dan kepentingan mengetahui kemampuan literasi para mahasiswa. Oleh sebab itu, sudah selayaknya  rektor setiap universitas mau mengeluarkan data tersebut.

Agar data itu tersedia, maka setiap universitas diharapkan mau mengadakan penelitian atau paling kurang survei terhadap minat membaca mahasiswa yang kita sebut sebagai kaum milenial yang masih berstatus mahasiswa di universitasnya. Ini sangat perlu, agar pihak universitas bisa mengukur daya atau kemampuan membaca setiap mahasiswa yang sedang digembleng dengan segala pengetahuan, keterampilan, dan karakter.

Nah, bila ini mau dilakukan, bisa jadi kita akan tercengang membaca hasil penerlitian tersebut. Bahkan pihak universitas akan tidak berani mengeluarkan data itu ke publik, karena bisa mengurangi kredibilitas universitas. Namun demikian, seorang dosen bisa melakukan survei atau penelitian di tingkat unit atau kelas, ruangan kuliah masing-masing. Cobalah lalukan agar bisa mendapat gambaran di tingkat mikro.

Para dosen bisa mendapatkan data secara mikro dengan cara sederhana. Pertanyaan penelitian pun tidak perlu terlalu banyak. Bisa dengan dua atau tiga pertanyaan. Misalnya,"Siapa yang hari ini ada membaca? Bisa buku mata kuliah, bisa surat kabar, bisa pula berita online?" Hitunglah berapa jumlah mahasiswa yang membaca. Pasti jumlahnya sangat sedikit. Kalau dalam satu ruangan ada sekitar 30 mahasiswa, maka yang ada membaca hanya dua atau tiga orang. Selebihnya akan menggeleng dan berkata, tidak.

Pertanyaan lain yang bisa ditanyakan adalah,"Selama Anda kuliah, ada berapa buku yang dibaca secara tuntas? Jangan kaget, hampir tidak ada mahasiswa yang membaca buku habis dan tuntas. Kalau pun ada, hanya satu atau dua orang.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved