Opini

Mengenal Virus Liberalisme  

Beberapa waktu lalu kita sempat dikejutkan oleh sebuah disertasi yang ditulis Abdul Azis mahasiswa program S3 Universitas Islam Negeri

Mengenal Virus Liberalisme   
IST
Dr. Munawar A. Djalil, MA Pegiat Dakwah, PNS di Lingkungan Pemerintah Aceh

Dr. Munawar A. Djalil, MA

Pegiat Dakwah dan PNS di Lingkungan Pemerintah Aceh

Beberapa waktu lalu kita sempat dikejutkan oleh sebuah disertasi yang ditulis Abdul Azis mahasiswa program S3 Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Jokjakarta. Disertasi ini mengkaji secara ilmiah terkait pemikiran Muhammad Syahrur seorang pemikir "Islam" asal Suriah yang menghalalkan hubungan tanpa pernikahan. Secara substansi Abdul Azis tidak pernah mempermasalahkan sedikit pun pemikiran Syahrur, malah menurutnya, pemikiran Syahrur dapat menjadi dasar "ijtihad" untuk memperkaya khazanah hukum terutama hukum perdata di Indonesia.

Mensikapi hal itu Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 3 September 2019 mengeluarkan pernyataan bahwa hasil penelitian Abdul Azis bertentangan dengan Alquran, As-Sunnah serta ijmak ulama dan masuk katagori pemikiran yang menyimpang dan harus ditolak karena dapat menimbulkan kerusakan akhlak, etika/moral umat dan bangsa. MUI meminta agar umat Islam tidak mengikuti pemikiran tersebut karena sesat dan terjerumus dalam perbuatan yang dilarang syariat agama.

MUI juga menyesali sikap promotor/penguji yang meluluskan disertasi Abdul Azis karena dianggap tidak memiliki kepekaan terhadap perasaan publik karena dapat menimbulkan kegaduhan dan merusak tatanan keluarga serta akhlak bangsa. Demikian antara lain kesimpulan pernyataan MUI berhubungan dengan disertasi tersebut.

Ketika kita mencermati keadaan saat ini betapa kebebasan pemikiran telah begitu meresahkan umat, bahkan telah merusak sampai ke Perguruan Tinggi Islam. Ironi memang sebagai Perguruan Tinggi Islam yang sejatinya menjaga kemurnian dan keoriginalan normatif Islam, justru menjadi lembaga "pelacur" dan penista ajarannya. Selaku orang timur seharusnya penguji/promotor untuk memastikan lulus atau tidaknya sebuah disertasi tidak hanya menilai dari aspek metodelogi dan temuan penelitian semata, namun aspek akhlak dan moral, dampak yang dimunculkan juga mesti mendapat perhatian khusus.

Ada kekhawatiran bila disertasi Abdul Azis tersebut dibaca masyarakat kita, dipastikan akan berdampak buruk bagi akhlak dan moral anak bangsa bahkan akan terjadi "musibah" yang besar bagi akal, pikiran, dan iman sebagai muslim. Kekhawatiran ini semakin mendalam ketika kita mendapati ternyata banyak umat Islam yang mudah terpengaruh bahkan secara tidak sadar mereka akan terpapar virus yang mematikan baik pada dataran pemikiran maupun iman seorang muslim, terutama kalangan "awam" yaitu muslim yang baru belajar tentang Islam melalui buku bacaan dan "mbah google".

Oleh karena itu, agar tidak terpapar virus tersebut, maka sebagai  Muslim sejati sudah sepatutnya kita mengenal ciri-ciri, mengetahui apa dan bagaimana virus tersebut. Salah satu virus yang menghancurkan pikiran dan akidah umat Islam adalah liberalisme.  Liberalisme Islam adalah gerakan pemikiran yang memahami nash-nash agama (Alquran dan As-sunnah) dengan menggunakan akal pikiran yang bebas. Karenanya liberalisme adalah jenis pemikiran yang paling berbahaya yang disebabkan berbagai virus yang mematikan akal dan nalar serta membunuh iman umat Islam. Di antara virus yang dimunculkan liberalisme: Pertama, virus liberal yang memandang semua kebenaran relatif (tidak pasti) sehingga tidak ada kebenaran mutlak, termasuk kebenaran agama Islam (relativisme).

Virus ini menimbulkan penyakit pluralisme yang mendudukan semua agama adalah sama dan benar sehingga tidak boleh suatu umat mengklaim agamanya saja yang paling benar, tetapi juga harus mengakui kebenaran agama lain. Penyakit ini disebut juga inklusivisme atau multikulturalisme mungkin saat ini yang popular "Islam Nusantara".

Kedua, yaitu virus liberal yang meragukan kebenaran agama dan menolak universalitas dan komprehensivitas Islam yang mencakup semua sektor kehidupan, sehingga menurut paham ini agama hanya mengatur urusan ritual ibadah saja (skeptisisme). Virus ini menimbulkan penyakit yang bernama sekularisme yaitu memisahkan urusan dunia dengan agama, agama hanya digunakan untuk mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sedangkan hubungan sesama manusia diatur hanya berdasarkan kesepakatan sosial.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved