Salam

Berantas Narkoba Mulai dari Penjara  

TIGA narapidana Rutan Kelas IIB Sabang melarikan diri setelah menyerang dua sipir, Minggu (13/10/2019) tengah hari

Berantas Narkoba Mulai dari Penjara   
FOTO RESKRIM POLSEK RANTAU
Unit Reskrim Polsek Rantau, Aceh Tamiang menangkap Husni Thamrin, salah satu napi yang kabur dari LP Banda Aceh, Kamis (13/12/2018) dini hari. 

TIGA narapidana Rutan Kelas IIB Sabang melarikan diri setelah menyerang dua sipir, Minggu (13/10/2019) tengah hari. Beberapa jam sebelumnya, tujuh tahanan lainnya juga kabur dari sel Mapolsek Peusangan, Kabupaten Bireuen, setelah merusak gembok pintu sel. Namun, dua dari tujuh tahanan yang kabur itu berhasil dibekuk kembali beberapa jam kemudian.

Sedangkan tiga napi yang kabur dari Rutan Sabang, menurut Kepala Kanwil Kemenkumham Aceh, Lilik Sujandi, sedang dalam pengejaran petugas kepolisian. Dijelaskan, saat kejadian, Rutan Sabang hanya dijaga dua sipir. Petugas lain yang baru lulus CPNS sebanyak 25 orang sedang mengikuti pendidikan dasar. Berkurangnya petugas jaga yang seharusnya tujuh orang menjadi hanya dua orang yang standby dimanfaatkan napi untuk kabur.

Kendati demikian, Kemenkumham Aceh tetap akan melakukan evaluasi terhadap Rutan Sabang terkait manajerial penjagaan dengan kondisi petugas terbatas. Selain itu pihaknya juga akan mendalami apakah ada unsur kesengajaan dari petugas melepas napi atau tidak.

Namun, beberapa jam setelahnya, kasus pelarian napi dari Rutan Sabang yang sangat direncanakan ini sudah ditemukan jejaknya oleh aparat kepolisian, terutama mobil yang menjemput mereka setelah keluar dari rutan. Pihak-pihak yang diduga terlibat membantu pelarian ini juga sudah diidentifikasi.

Tiga napi yang kabur dari Rutan Sabang dan tujuh tahanan yang melarikan diri dari Mapolsek Peusangan adalah orangorang yang terlibat kasus narkoba, yakni ganja dan sabu-sabu.

Ya, mayoritas penghuni tahanan dan penjara di Aceh saat ini memang orang-orang yang terlibat narkoba. Makanya, dua hari lalu, Badan Narkotika Nasional (BNN) Banda Aceh bekerja sama dengan Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banda Aceh dalam rangka Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN). Langkah ini difasilitasi Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman.

Kepala BNNP Aceh, Brigjen Pol Faisal Abdul Naser MH mengatakan, tingkat peredaran gelap narkoba dilakukan melalui lingkungan-lingkungan yang dianggap aman, seperti kompleks perumahan, kos-kosan maupun di Lembaga Pemasyarakatan. Modus yang dilakukan juga bermacam-macam, seperti melibatkan perempuan atau istri. Seperti yang dilakukan oknum ASN yang bekerja di Lapas Langsa, baru-baru ini.

Kepala Lapas Kelas IIA Banda Aceh, Ridha Ansari A MdIP SH MSi mengatakan, pihaknya sudah mengimplementasikan Inpres No.6 tahun 2018 dalam hal pencegahan dengan melakukan cek urine seluruh pegawai Lapas. Dia juga menyebutkan salah satu permasalahan Lapas Banda Aceh saat ini adalah terjadinya over-kapasitas. "Kapasitas 350 orang, namun penghuni Lapas sudah mencapai 700 orang lebih, 549 warga binaan tersebut kasus narkoba dari 536 kasus tersebut, 480 adalah kasus sabu dan 69 kasus ganja," jelas Ridha.

Narkoba dan penjara saat ini adalah dua hal yang memprihatinkan. Sebab, peredaran narkoba oleh bandar-bandar besar umumnya dikendalikan dari balik penjara. Ini bukan hanya terjadi di Aceh, tapi juga menimpa penjara Nusakambangan yangtingkat pengamanan begitu berlapis.

Oleh karena itu, model kerjasama antara BNN dengan LP atau Rutan harus benar-benar "ikhlas" sehingga bisa memberi manfaat atau mendukung usaha pemberantasan peredaran narkoba di Bumi Serambi Mekkah ini. Sebagai catatan saja, sejak puluhan tahun silam, sebagian penjara di Aceh menjadi tempat yang aman bagi para penjahat. "Kongkalikong" napi dengan oknum sipir membuat banyak kasus kejahatan sulit terungkap.

Antara lain karena dalam statusnya sebagai narapidana, seorang penjahat bisa melalukan kejahatan baru berulang- ulang. Beberapa tahun lalu, ketika penjara Banda Aceh masih di kawasan Keudah, polisi pernah mengejar seorang  aling, ternyata menghilang ke dalampenjara. Kemudiannya terungkaplahbahwa sang maling sering "beraktivitas" di luar LP meski berstatus sebagai napi.

Yang ingin kita katakan, "kerja sama" napi dengan oknum- oknum di penjara membuat banyak kejahatan bisa terjadi berulang-ulang. Apalagi bandar-bandar narkoba yang bebas mengendalikan bisnis dagang sabunya hanya karena "bebas" menggunakan telepon genggam dan bahkan sering mendapat kesempatan keluar penjara karena sudah berhasil "menaklukkan" oknum-oknum petugas penjara.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved