Opini

Berharap Stok Pangan Murah Akhir 2019  

Untuk itu pemerintah dalam jangka pendek harus membuka keran impor dan mendistribusikan ke konsumen melalui operasi pasar

Berharap Stok Pangan Murah Akhir 2019   
IST
Kiswanto, Dosen Universitas Teuku Umar Meulaboh Mahasiswa Doktoral Ilmu Lingkungan Undip Semarang

Oleh Kiswanto, Dosen Universitas Teuku Umar Meulaboh Mahasiswa Doktoral Ilmu Lingkungan Undip Semarang

 Langkah Pemerintah dalam memenuhi stok pangan murah harus fokus menstabilkan harga pangan. Untuk itu pemerintah dalam jangka pendek harus membuka keran impor dan mendistribusikan ke konsumen melalui operasi pasar umum hingga khusus. Upaya jangka panjang yang ditempuh pemerintah adalah membenahi stok, distribusi, dan memperkuat peran Bulog. Hal itu untuk memutus rantai pasok pangan agar lebih efisien.

Data Global Food Security Index (GFSI) yang dirilis The Economist Intelligence Unit menunjukkan peringkat ketahanan pangan Indonesia pada 2014 dan 2015 merosot ke posisi 76 dari 113 negara. Namun, perbaikan mulai nampak di 2016. Data GSFI terbaru yang diumumkan pada 9 Juni 2016 lalu menunjukkan ketahanan pangan Indonesia kini berada di peringkat ke-71 dari 113 negara yang diobservasi. Indonesia memang masih berada di kategori rendah, namun meningkat secara signifikan dibandingkan posisi 2015. Sedangkan nilai importasi beras pada 2017-2018 masih dihitung Menteri Koordinator Perekonomian bekerja sama dengan Perum Bulog.

Para ekonom memperingatkan pemerintah untuk mewaspadai kenaikan inflasi yang dipicu kelangkaan pangan akibat perubahan iklim, terutama di daerah penghasil pangan seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Namun, kenaikan itu tak serta merta menandakan konsumsi masyarakat setempat terakselerasi. Menurut Thomas Lembong, setiap komoditas pangan pokok mempunyai persoalan masing-masing. Persoalan itu terjadi mulai dari hulu hingga hilir. Sehingga diperlukan pembenahan mulai dari penggunaan data yang sama, produksi, pengadaan sarana dan prasarana pascapanen, industrialisasi pangan, serta rantai pasok. Pemerintah juga harus menyeimbangkan neraca ekspor dan impor pangan. Ternyata, selama swasembada belum tercapai 100 persen, apabila terjadi defisit pasokan, maka Indonesia akan mengimpor. Namun, sebaliknya, jika terjadi kelebihan stok, maka Indonesia  akan mengekspor.

Swasembada gagal

Persoalan di pasar sekarang ini terjadinya lonjakan harga bahan pokok yang tidak menentu. Sementara itu, Teguh Boediyana mengatakan, titik pangkal dari persoalan harga adalah kegagalan program swasembada pangan. Daging sapi, misalnya, pemerintah telah mengeluarkan dana sekitar Rp 18 triliun dalam kurun waktu 10 tahun terakhir sejak tahun 2006- 2016, tetapi Indonesia masih belum swasembada daging sapi. Di sisi lain, lemahnya mata uang rupiah terhadap dollar Amerika Serikat ikut berkontribusi dalam pembentukan harga daging sapi. Nilai dollar AS di atas Rp 14.000.

Sementara itu, sampai saat ini berdasarkan data Kementerian Perdagangan per 17 Juni 2018, rata-rata nasional harga daging sapi mencapai Rp 120.000-150.000 per kg, beras medium Rp 11.580 per kg, bawang merah Rp 47.110 per kg, daging ayam ras Rp 32.300 per kg, dan telur ayam ras Rp 24.040 per kg. Harga itu masih jauh di atas target yang ditetapkan presiden.

Untuk harga daging sapi ditetapkan Rp 80.000 per kg, bawang merah Rp 25.000 per kg, beras Rp 9.500 per kg, dan telur ayam Rp 23.000 per kg. Hanya daging ayam ras yang harganya di bawah harga yang diinstruksikan Presiden, yaitu Rp 35.300 per kg. Jika harga-harga bahan pangan itu masih tinggi, ini akan berpengaruh ke inflasi.  Menurut data Bank Indonesia memperkirakan inflasi pada Juni 2017 sebesar 0,6 persen. Diperkirakan pada tahun 2019, inflasi disumbang dari kenaikan harga komoditas kelompok volatile food, terutama daging sapi, daging ayam ras, telur ayam ras, dan minyak goreng. Dalam diskusi itu juga terungkap alasan Presiden Joko Widodo menginstruksikan agar harga daging sapi harus Rp 80.000 per kg. Lembong menuturkan, Presiden ingin harga daging sapi di Indonesia seperti di Malaysia. Sebelumnya, Presiden mengirim utusan ke Malaysia dan Singapura untuk memantau harga daging sapi. Harga daging sapi di pasar modern dan tradisional kedua negara itu Rp 70.000 per kg-Rp 80.000 per kg.

Sejak tahun 2016 hingga 2017, ketahanan pangan Indonesia secara umum diganjar nilai 50,6, naik dari tahun sebelumnya yang hanya 47,9. Peningkatan nilai ini terjadi didukung tiga aspek, yakni: keterjangkauan, ketersediaan, serta kualitas, dan keamanan. Pada poin keterjangkauan, Indonesia di tahun 2016 mendapat nilai 50,3, naik dari sebelumnya 46,8. Ketersediaan juga meningkat menjadi 54,1 dari sebelumnya 51,2. Sementara kualitas dan keamanan naik tipis ke 42 dari sebelumnya 41,9.

Perlunya solusi

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved