Opini

Perlukah Aceh Sekularisasi Agama Untuk Maju?

Berangkat dari kebangkitan Eropa yang berawal dari pemisahan antara orientasi agama dan sains, membuat mereka

Perlukah Aceh Sekularisasi Agama Untuk Maju?
IST
M. Anzaikhan, S.Fil.I., M.Ag, Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry

Oleh M. Anzaikhan, S.Fil.I., M.Ag, Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry

Berangkat dari kebangkitan Eropa yang berawal dari pemisahan antara orientasi agama dan sains, membuat mereka berkembang pesat hingga menjadi model negara maju di dunia. Awalnya, bangsa Barat jauh tercecer dari kemajuan Islam yang memegang peran vital bagi peradaban umat manusia.

Kini seolah roda itu berputar, negara Islam diibaratkan seperti singa yang sakit, kejayaan Islam hanya sebatas sejarah masa lalu di bawah peradaban Barat yang menari-nari di atasnya. Tawa itu kemudian semakin melebar ketika melihat umat muslim saling berperang satu dan yang lainnya.

Hal serupa terjadi juga di Aceh, secara histori Aceh memiliki kejayaan masa lalu yang tak bisa dipandang sebelah mata. Karisma Sultan Iskandar Muda mampu mengangkat martabat rakyat Aceh pada masa itu sehingga sejajar dengan negara-negara elit di dunia. Sekarang, jangankan bicara level internasional, di kancah nasional saja Aceh kesulitan untuk mengulang tinta emas tempo dulu apalagi dengan identitas Aceh yang dinobatkan sebagai salah satu provinsi termiskin di Sumatera.

Barat sejatinya pernah mengalami masa-masa sulit, khususnya pada era Pateristik, dimana pihak gereja memegang otoritas tertinggi dalam agama dan pemerintahan. Masa itu, segala konsep pemikiran yang lahir tidak boleh bertentangan dengan otoritas gereja menjadikan ilmu pengetahuan di Barat menjadi mandeg tak berkembang. Banyak para ilmuan dan filosof menjadi korban keganasan ortodok karena tidak sejalan dengan apa yang pihak gereja gariskan.

Sebagai contoh, Nicolaus Copernicus dengan teori heliosentris-nya dianggap bertentangan dengan pemahaman pihak gereja yang meyakini bahwa matahari yang mengelilingi bumi bukan sebaliknya. Nicolaus kemudian dihukum mati karena tetap kokoh pada teori temuannya. Begitu juga dengan Galilleo Gallilei sebagai penemu teropong. Ia mendukung konsep Nicoulas Copernicus bahwa bumilah yang berputar mengelilingi matahari dengan pembuktian ilmiah yang ada. Kendati pun demikian, pihak gereja tidak setuju karena bertentangan dengan apa yang ditulis dalam al-kitab.

Fenomena serupa seperti di atas kemudian menjadi pemicu lahirnya sekularisme, sebuah paham atau kelompok aliran yang berupaya melakukan pemisahan antara agama dan sains (sekularisasi agama). Gerakan ini kemudian dikenal dengan istilah Renassance yakni masa kebangkitan Eropa atau diistilahkan dengan `kebangkitan sang serigala'. Selanjutnya peran gereja melemah, otoritas yang sebelumnya luas dibatasi oleh orientasi keagamaan semata. Kebijakan agama berdiri sendiri, dan sains berdiri sendiri tanpa ada campur tangan satu dan yang lainnya.

Ternyata, sekularisasi agama yang terjadi di barat berdampak luar biasa. Sains dan teknologi berkembang begitu pesat tanpa dibatasi oleh konsep ajaran gereja yang dogmatis. Realita itu kemudian menjadikan Barat sebagai negara maju menjatuhkan kejayaan Islam yang justru mengalami keterpurukan. Barat dengan bangga memegang peradaban dunia dan menjadi model lifestyle secara gelobal hingga saat ini.

Secara esensial, apa yang di alami Barat pada masa kegelapan mereka memiliki kesamaan dengan apa yang dialami umat Islam saat ini. Otoritas gereja yang mengekang sains berkembang seolah bertransformasi ke negara muslim dengan kemasan yang berbeda. Islam tengah didera oleh kemandegkan sains dan teknologi dengan konsep bid'ah yang membabi buta. Apa-apa yang ditemukan saat ini harus memiliki kolerasi dengan apa yang nabi lakukan, jika tidak, maka dianggap bid'ah, haram, bahkan sesat.

Teori klasik ini, tanpa disadari menutup pintu ijtihad sehingga umat muslim hanya fokus beramal dan ibadah semata. Padahal dalam Ushul Fiqh, berijtihad akan mendapat pahala dua jika benar dan akan mendapat pahala satu jika salah. Artinya, motivasi berijtihad tetap diapresiasi dalam Islam, sebab hal tersebut mendukung terciptanya konsep kemaslahatan terbaru.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved