Opini

Perlukah Aceh Sekularisasi Agama Untuk Maju?

Berangkat dari kebangkitan Eropa yang berawal dari pemisahan antara orientasi agama dan sains, membuat mereka

Perlukah Aceh Sekularisasi Agama Untuk Maju?
IST
M. Anzaikhan, S.Fil.I., M.Ag, Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry

Secara rasional-ilmiah, tidak mungkin semua perkara yang terjadi masa sekarang pernah terjadi pada masa rasul yang jelas berbeda kultur dan zamannya. Bukan berarti penulis mengkesampingkan Alquran dan hadis, hanya saja nash Alquran perlu diinterpretasikan ulang sesuai zaman dan masanya.

Sebagai contoh, pada masa rasul tidak ada donor darah, berhubung itu adalah sebuah tindakan medis yang krusial, apalagi menyangkut kelangsungan hidup pasien. Para ulama (imam besar) kemudian memfatwakan bahwa donor darah bukan bid'ah dan urgen untuk dilakukan.

Saat ini, bahkan nanti, akan banyak perkara-perkara baru yang muncul seiring perkembangan zaman. Jika umat Islam masih takut berijtihad (mengambil hukum dari sumbernya) karena alasan bid'ah dan sebagainya, maka Muslim akan semakin tertinggal dengan Barat yang terus maju tanpa kekangan agamanya. Jika peradaban dunia dipegang oleh dominasi Barat, secara otomatis umat Islam akan terpinggirkan dengan alasan-alasan politis yang ada.

Belajar dari apa yang terjadi di negara Barat, perlukah Aceh melakukan sekularisasi agama agar maju seperti Eropa? Perlukah Aceh memisahkan lembaga keislaman dan lembaga pemerintah yang bisa disebut sekularisasi pemerintahan? Tentu tidak! Ajaran Islam adalah ajaran universal, bersumber dari sang maha benar yang paham betul situasi dan kondisi apapun juga. Permasalahan saat ini adalah muslim-nya yang sedang melemah, sementara Islam tetap kuat bahkan konsepnya sering diadopsi oleh Barat.

Sekularisme yang terjadi di Barat merupakan bentuk gesekan yang terjadi dari disharmonisnya ajaran agama Keristen saat itu (otoritas gereja) dengan teknologi modern. Agama mereka tidak mendukung sains berkembang sehingga gerakan Rennesaince terjadi. Berbeda ceritanya dengan Islam, ajaran Islam yang bersumber dari wahyu tidak bertentangan dengan perkembangan sains.

Bahkan Alquran bisa menjadi ispirasi terkuaknya fenomena sains yang mungkin belum ditemukan. Apa yang terjadi saat ini lebih pada pengaruh okum di dalamnya, konsep Islam yang sejatinya tidak pernah exfire dipahami secara terbatas.

Barat maju jika meninggalkan agamanya, sedangkan Muslim justru akan mundur jika meninggalkan ajaran Islam. Barat akan mundur jika masih berpegang pada otoritas gereja sementara Muslim akan menjadi maju jika memegang ajaran Islam. Ajaran Islam (jika diimplementasikan secara benar) akan mendukung kemajuan sains dan teknologi, berbeda dengan ajaran Barat yang tidak sejalan dengan perkembangan zaman.

Aceh tidak perlu melakukan sekularisasi agama atau sekularisasi pemerintahan. Kerajaan Aceh tempo dulu berjaya karena menjadikan Islam sebagai agen kontrol, dimana ulama merupakan penasehat yang didengarkan pertimbangannya. Jika Aceh ingin maju, maka harus memaksimalkan fungsi ulama, bukan menjadikan mereka sebatas simbol-simbol sosialita semata.

Bila Aceh dapat mengintegrasikan nilai keislaman secara totalitas, dimana ulama, pemerintah dan rakyat bersatu seirama, maka kemajuan negeri Serambie Mekkah bukanlah sebuah mimpi indah belaka.  

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved