Jurnalisme Warga

Perlunya Membangun Kerja Sama Pendidikan

SEBAGAIMANA pernah diberitakan, telah dilakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Kedutaan Besar Republik Indonesia

Perlunya Membangun Kerja Sama Pendidikan
IST
TEUKU CUT MAHMUD AZIZ, S.Fil., M.A., Dosen Prodi Hubungan Internasional FISIP Universitas Almuslim, melaporkan dari Banda Aceh

OLEH TEUKU CUT MAHMUD AZIZ, S.Fil., M.A., Dosen FISIP Umuslim dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Bireuen

SEBAGAIMANA pernah diberitakan, telah dilakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Republik Uni Myanmar yang berkedudukan di Yangon dengan empat universitas di Aceh, yaitu Universitas Syiah Kuala, Universitas Almuslim, Universitas Malikussaleh, dan UIN Ar-Raniry yang berlangsung di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, pada 25 Juli 2019.

Dari KBRI, acara tersebut langsung dihadiri oleh Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (Dubes LBBP) RI untuk Republik Uni Myanmar, YM Irjen Pol Prof Dr Iza Fadri, sedangkan dari pihak universitas dilakukan oleh masing-masing rektor.

Seingat saya, mungkin ini penandatanganan MoU terbanyak yang dilakukan KBRI di Yangon yang dilakukan sekaligus dengan beberapa universitas dalam satu pertemuan.

Meski terlambat, hal ini perlu saya tulis sebagai bahan informasi dan renungan bahwa membangun kerja sama pendidikan dengan Myanmar memang perlu kita lakukan.

Setelah penandatanganan MoU, dilanjutkan dengan Kuliah Umum dari Dubes bertema “Transformasi Politik di Myanmar dan Masalah Rakhine State.” Tema ini sangat menarik karena dapat membuka cakrawala kita dalam melihat Myanmar, apalagi tema ini disampaikan langsung oleh sang Dubes. Ibarat ‘jembatan’ yang membantu kita menyeberangi dan menemui orang-orang di seberang untuk berkenalan dan menjalin kerja sama. Apalagi selama ini kita banyak disuguhi berita tentang tragedi Rohingya sehingga isu Rohingya mendominasi persepsi kita terhadap Myanmar. Tragedi Rohingya adalah fakta, tapi hal ini tidak boleh menjadi penghalang bagi kita untuk membangun kerja sama.

Secara geografis, Aceh juga tidak terlalu jauh dari Yangon, kota bisnis terbesar di Myanmar. Jika ada penerbangan langsung dari Banda Aceh ke Yangon, mungkin perkiraan waktu tempuhnya sekitar dua jam. Artinya, masih lebih jauh ke Jakarta daripada ke Yangon.

Kita juga memiliki keeratan emosional dengan Myanmar. Pesawat Dakota RI-001 Seulawah yang dibeli dari sumbangan uang rakyat Aceh masih tersimpan di Defence Services Museum di Yangon. Burma (nama sebelum Myanmar) sangat konsisten mendukung kemerdekaan Indonesia dengan mengizinkan pangkalan udaranya dijadikan tempat operasional Dakota RI-001.

Burma juga memberi bantuan radio (mungkin Radio Rimba Raya) untuk alat komunikasi. Kita mungkin masih ingat dengan cerita dari orang tua kita yang mengonsumsi beras Rangoon yang begitu popular di Aceh tahun ‘50-an hingga awal ‘60-an.

Yangon sebelumnya ibu kota Myanmar. Namun, sejak 2005 ibu kota negara tersebut dipindahkan ke Naypyidaw yang berarti Istana Kerajaan. Kantor pemerintahan dan kedutaan besar negara sahabat masih berada di Yangon. Waktu tempuh perjalanan darat dari Yangon ke Naypyidaw sekitar enam jam.         

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved