Jurnalisme Warga

Perlunya Membangun Kerja Sama Pendidikan

SEBAGAIMANA pernah diberitakan, telah dilakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Kedutaan Besar Republik Indonesia

Perlunya Membangun Kerja Sama Pendidikan
IST
TEUKU CUT MAHMUD AZIZ, S.Fil., M.A., Dosen Prodi Hubungan Internasional FISIP Universitas Almuslim, melaporkan dari Banda Aceh

Di bidang pendidikan tinggi ada lebih dari seratus perguruan tinggi di Myanmar yang tersebar di sejumlah state/division dan region, yaitu di Ayeyarwady Region, Bago Region, Chin State, Kachin State, Kayin State, Kayah State, Magway Region, Mandalay Region, Rakhine State, Mon State, Sagain Region, Shan State, Tanintharyi Region, dan Yangon Region. Umumnya tersebar di Yangon dan Mandalay (Dalam Revolvy.com 2019). Yang termasuk sepuluh besar (ranking 1 hingga 10) di antaranya adalah Yangon University (Kota Yangon), University of Computer Studies (Kota Yangon), Yezin Agricultural University (Kota Naypyidaw), University of Medicine 1 (Kota Yangon), Mandalay University (Kota Maha Aungmye), Yangon Technological University (Kota Insein), Myanmar Maritime University (Kota Thanlyin), University of Foreign Languages (Kota Kamayut), Dagon University (Kota North Dagon), dan Myeik University (Kota Myeik) (Dalam 4icu.org 2019).

Pada 1965 Burma mengganti bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di universitas yang berdampak menurunnya kemampuan berbahasa Inggris di kalangan masyarakat Myanmar. Tapi pengalaman saya dan Dr Ichsan (Dosen Universitas Malikussaleh) dalam pertemuan dengan para rektor di Myanmar Maritime University, Yangon University of Economics, dan Yangon University, terlihat kemampuan bahasa Inggris mereka mumpuni. Dialog dan wawancara kami dengan para dosen rata-rata menunjukkan kemampuan bahasa Inggris yang relatif baik, walaupun ada juga yang tidak bisa berbahasa Inggris.

Penandatanganan MoU dengan KBRI menyangkut kerja sama: pendidikan lanjut untuk para lulusan dan guru the Indonesian International School Yangon (IISY) dan warga negara Myanmar, pelatihan keterampilan untuk warga Negara Myanmar di perusahaan Indonesia di Myanmar, pendidikan, penelitian, dan pelatihan bagi tenaga pengajar perguruan tinggi Myanmar dan peneliti di lembaga penelitian di Myanmar, serta pegawai negeri Myanmar, pendidikan dan penelitian lainnya bagi masyarakat Indonesia dan Myanmar dalam kerangka hubungan bilateral. Semua itu dilakukan dalam kerangka tridarma perguruan tinggi.

Di sini KBRI berperan memfasilitasi dan mengoneksikan. KBRI juga siap menerima jika ada mahasiswa dari Unsyiah, Umuslim, Unimal, dan UIN Ar-Raniry yang bersedia magang di KBRI.

IISY merupakan sekolah internasional terbaik di Myanmar. Muridnya dari berbagai negara. Kami telah melihat langsung, sekolahnya cukup besar, dengan fasilitas lapangan tenis, badminton, basket, dan satu lingkungan dengan Guest House KBRI dan Masjid Al Muhajirin. Malam minggu orang-orang Indonesia pada berolahraga, sedangkan paginya menjadi tempat berkumpul dan berolahraga bagi masyarakat Indonesia disertai makan siang bersama.

Kerja sama pendidikan tinggi dan menengah dengan Myanmar lebih kepada kita memberi daripada kita menerima. Sudah saatnya kita pada posisi seperti ini, karena selama ini jalinan kerja sama pendidikan tinggi di lingkup Asean lebih banyak dilakukan dengan perguruan tinggi yang ada di Singapura, Malaysia, dan Thailand. Di sini posisi kita lebih banyak menerima (ditransfer ilmu). Sedangkan dengan Myanmar, kita yang mentransfer ilmu kepada mereka.

Dubes mengatakan bahwasanya kualifikasi pendidikan tinggi di Myanmar masih berada di bawah Indonesia. “Kita masih lebih tinggi,“ kata beliau. “Dan di sinilah justru peluangnya, memperbanyak mereka belajar di Indonesia dan menjadi investasi kita di masa depan” ungkapnya sembari menambahkan, KBRI sebelumnya telah melakukan MoU dengan Universitas Negeri Padang dan Universitas Brawijaya.

Dilakukannya penandatanganan MoU ini juga tak terlepas dari komunikasi yang terjalin antara Tim Peneliti BPPK Kemlu RI Tahun 2018 (kebetulan saya dan Dr Ichsan) dengan dubes plus jajarannya. Kami telah melakukan penelitian di Yangon tentang Pengembangan Kerja Sama Ekonomi dan Konektivitas antara Indonesia, India, dan Myanmar.

Kami menyampaikan banyak terima kasih kepada Pak Dubes dan jajaran terkhusus dengan Pak Nyoman Gede Putrawan, Sekretaris Pribadi Dubes, seorang perwira polisi (mantan pasukan perdamaian PBB) yang begitu sabar melayani komunikasi yang kami lakukan (jajaran Rektor IV Unsyiah dan tim peneliti). Secara pribadi tim peneliti menyampaikan banyak terima kasih kepada Rektor Umuslim, Rektor Unsyiah, Rektor Unimal, dan Rektor UIN Ar-Raniry yang begitu cepat merespons penjajakan kerja sama ini. Fakta ini memperlihatkan, kita begitu kompak dan bersinergi. Dengan itu pula kita gapai kemajuan.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved