Opini

Menilik Kepemimpinan Perempuan

Kepemimpinan perempuan menjadi isu publik yang selalu hangat diperbincangkan. Peningkatan peran perempuan bukanlah trend

Menilik Kepemimpinan Perempuan
IST
Dr. Murni, S.Pd,I. M.Pd Wakil Ketua II STAI Tgk. Chik Pante Kulu Banda Aceh

Oleh Dr. Murni, S.Pd,I. M.Pd Wakil Ketua II STAI Tgk. Chik Pante Kulu Banda Aceh

Kepemimpinan perempuan menjadi isu publik yang selalu hangat diperbincangkan. Peningkatan peran perempuan bukanlah trend apalagi fenomena baru. Perempuan sebagai kepala pemerintahan telah ada sejak abad ke-15. Kepemimpinan perempuan mulai bangkit dari tidur panjang sejak isu hak asasi manusia dan persamaan gender secara lantang disuarakan aktivis feminisme. Kiprah perempuan tersebut semakin menonjol pada abad ke-21.

Di berbagai negara, sebagian besar perempuan mengalami perkembangan dalam berbagai sisi kehidupan atau mobilitas vertikal. Sudah banyak kaum perempuan yang dapat mengenyam dunia pendidikan sejajar dengan kaum laki-laki, sehingga dapat menduduki jabatan strategis dalam pemerintahan.

Dalam sudut pandang Islam kedudukan perempuan dan laki-laki sama, khususnya dalam hal memimpin. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Alquran, Allah swt berfirman, "Barangsiapa yang mengerjakan amalan shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan pula kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS. An-Nahl: 97).

Prof. Dr. H. Muhammad Quraish Shihab, MA. juga menjelaskan bahwa di dalam Alquran banyak menceritakan mengenai persamaan kedudukan wanita dan pria, yang membedakannya adalah dari segi ketaqwaanya kepada Allah swt. Tidak ada yang membedakan berdasarkan jenis kelamin, ras, warna kulit, dan suku.

Kedudukan wanita dan pria adalah sama dan diminta saling bekerja sama untuk mengisi kekurangan satu dengan lainnya, sebagaimana dijelaskan dalam surat at-Taubah ayat 71 yang artinya, "Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. At-Taubah: 71).

Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa pria dan wanita saling tolong menolong, terutama dalam satu rumah tangga dan mempunyai tugas dan kewajiban yang sama menjalankan amar ma'ruf, nahi munkar. Pada dalil Alquran yang lain Allah juga berfirman, "Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan ..." (QS. An-Nisaa': 32).

Pemimpin dalam suatu organisasi sangatlah diperlukan. Peran pemimpin bukan hanya menjadi tonggak berjalannya kegiatan, namun juga menjadi pemersatu anggotanya. Normalnya, menganut pada budaya dan norma yang ada di Indonesia, pemimpin adalah jabatan seorang lelaki. Lelaki sudah menjadi simbol kepemimpinan sejak dulu kala dan perempuan selalu identik dengan keindahan, kelembutan atau mungkin kelemahan. Maka tak jarang identitas gen tersebut dijadikan untuk membedakan laki-laki dan perempuan.

Pendapat bahwa perempuan itu tidak berfikir secara logika, mengandalkan naluri, dan irrasionalitas menjadikan perempuan jarang ditempatkan di posisi penting. Ketimpangan yang sering dinamakan "kodrat wanita" ini bahkan menjadi sebuah konstruksi sosial, (Fakih: 1996, hlm.11).

Lalu bagaimana kepemimpinan perempuan dalam perspektif fikih Islam? Terdapat tiga pandangan mengenai kepemimpinan perempuan dalam fikih Islam, yaitu: Pertama, sebagian besar ulama klasik dan kontemporer, memandang wanita memiliki hak berpolitik yang sama seperti laki-laki kecuali memegang pucuk pemerintahan (presiden), dengan beralasan bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan kewajiban yang sama, surah al-Baqarah ayat 228, Allah berfirman,"Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya."

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved