Senin, 11 Mei 2026

Pernyataan Ketua PERKI Cabang Aceh, Mayoritas Pasien Jantung di RSUZA karena Merokok

Mayoritas atau hampir 72 persen pasien di Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh yang menderita serangan jantung

Tayang:
Editor: bakri
SERAMBI/M ANSHAR
Tim dokter mencoba alat bedah jantung Hybrid Cardiac Operating Suite (HCOS), di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh, Selasa (25/2/2014). Kamar bedah jantung tersebut menggunakan sistem hybrid dengan dua tindakan saling terintegrasi yaitu bedah jantung by-pass dan tindakan diagnosis serta pengobatan non-invasif untuk pemasangan ring pada pembuluh darah. 

"Pasien serangan jantung paling muda kita tangani itu di usia 24 tahun. Faktor risikonya adalah perokok. Jadi, hampir mayoritas yang terkena serangan jantung itu adalah perokok dan sudah lebih ke usia muda."

 KETUA Persatuan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Cabang Aceh, dr Adi Purnawarman SpJP (K)-FIHA FasCC mengatakan, mayoritas atau hampir 72 persen pasien di Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh yang menderita serangan jantung merupakan akibat dari merokok.

"Data kriteria pasien yang masuk ke Rumah Sakit Zainoel Abidin menunjukkan hampir 72 persen pasien serangan jantung itu perokok, hanya 20 persen lebih yang bukan perokok," ujar dr Adi di sela-sela memberi materi pada Penyuluhan dan Pencegahan Penyakit pada Peringatan Hari Jantung Sedunia di Banda Aceh, Rabu (16/10/2019).

Dijelaskan, insiden dan prevalensi terhadap penyakit ini makin lama semakin lebih tinggi dan variasi umur masyarakat yang terkena penyakit serangan jantung itu semakin muda. "Pasien serangan jantung paling muda kita tangani itu di usia 24 tahun. Faktor risikonya adalah perokok. Jadi, hampir mayoritas yang terkena serangan jantung itu adalah perokok dan sudah lebih ke usia muda," kata dokter spesialis penyakit jantung yang juga dosen Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) ini.

Wakil Wali Kota Banda Aceh, Drs Zainal Arifin, menambahkan, penyumbang terbesar risiko kematian akibat penyakit jantung disebabkan oleh kebiasaan merokok. Untuk itu, menurutnya, Pemerintah Kota Banda Aceh terus mengampanyekan kepada masyarakat untuk hidup sehat bebas dari asap rokok.

"Dokter tadi menyebutkan bahwa di antara penyebab kematian akibat penyakit jantung karena pola hidup yakni kebiasaan merokok. Itu salah satu penyumbang terbesar," katanya. Zainal menambahkan, Pemko Banda Aceh akan mempersempit ruang-ruang publik yang selama ini digunakan untuk perokok. Pihaknya, kata Zainal lagi, sudah memiliki dasar hukum berupa Qanun Nomor 5 Tahun 2016 dan Peraturan Wali Kota Banda Aceh yang mengatur khusus tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR).

Konsumsi tertinggi

Di sisi lain, penelusuran Serambi menunjukkan bahwa perokok di Aceh merupakan perokok yang menghabiskan rokok paling banyak dibanding perokok di daerah lain se-Indonesia. Per hari, perokok di Aceh rata-rata mengisap 19,5 batang rokok, sebagaimana terungkap dalam hasil riset kerja sama World Health Organization (WHO) bersama Dinas Kesehatan Aceh pada tahun 2008.

Riset itu bertujuan mengungkap perilaku dan pola hidup bersih dan sehat (PPHBS) orang Aceh yang ternyata dari aspek konsumsi rokok menunjukkan angka tertinggi di republik ini. Ironisnya, lebih dari 70 persen perokok di Aceh, adalah orang miskin. Tapi, mereka memaksakan diri untuk membeli satu hingga dua bungkus rokok per hari.

Dalam kondisi uang yang terbatas, ketika dihadapkan pada pilihan membeli rokok atau membeli susu untuk bayinya, perokok itu lebih mengutamakan beli rokok. Sebagian responden menyatakan, untuk susu bayi bisa diganti (disubstitusi) dengan air tajin, air rebusan beras yang agak kental.

Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) dan Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh juga mengklaim bahwa rokok menjadi penyebab utama kenaikan jumlah orang miskin di Aceh, sebagaimana dieskpose BPS Aceh pada Maret 2017. Itu karena, di tengah stok uang yang sangat terbatas, mereka saban hari memaksakan diri untuk membeli satu hingga tiga bungkus rokok, sehingga hampir tak ada uang tersisa untuk ditabung (saving).

Dengan jumlah penduduk miskin di Aceh mencapai 15,68 persen pada tahun 2018, hingga kini Aceh masih merupakan provinsi termiskin di Sumatera dan nomor enam termiskin se-Indonesia. Rekor buruk itu terus bertahan hampir lima tahun terakhir. (republika.co.id/dik)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved