Opini

Umat Islam di Negara Yahudi  

Birahi penjajahan Israel terhadap Palestina tiada henti. Benjamin Netanyahu dari partai Likud Party bersumpah mencaplok Lembah Yordan

Umat Islam di Negara Yahudi   
IST
Drs. Mardin M. Nur, MA, Dosen MPI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Mahasiswa S3 Pascasarjana UIN Ar-Raniry

Oleh Drs. Mardin M. Nur, MA, Dosen MPI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Mahasiswa S3 Pascasarjana UIN Ar-Raniry

 Birahi penjajahan Israel terhadap Palestina tiada henti. Benjamin Netanyahu dari partai Likud Party bersumpah mencaplok Lembah Yordan dan Laut Mati Utara jika menang pada pemilu 17 September 2019, ia kalah. Padahal Netanyahu berhasil membujuk Donald Trump Presiden AS menjadikan Yerusalem ibu kota Israel. Sidang darurat Majelis Umum PBB, Kamis 21 Desember 2017, 128 suara menentang, 35 suara abstain, dan 9 lainnya mendukung. Adakah umat Islam di negeri yang sangat membeci Islam itu dan bagaimana kehidupan mereka?

Israel terletak di sebelah Timur Laut Mediterania, berbatasan dengan Lebanon di sebelah Utara, Suriah di Timur Laut, Yordania di Timur, dan Mesir di Barat Daya. Luas wilayah Israel, 20.770 km2 dibagi enam distrik. Tidak termasuk Yerusalem Timur dan Dataran Tinggi Golan yang direbut pada perang 1967 seluas 1302 km2 dan wilayah Tepi Barat Palestina seluas 5727 Km2. 2,1% wilayahnya adalah air. Hanya 35,58% dari luas Aceh, yang mencapai 58.377 km2. Israel berada 31o47' Lintang Utara dan 35o13' Bujur Timur.

Data statistik 2019, penduduknya diperkirakan 9.080.620 jiwa. Terdiri dari 74.5% etnis Yahudi, 20,9% Arab dan 4,6% lainnya. Populasi terpadat di Yerussalem, 732.100 jiwa dan 70% bertempat tinggal di pesisir Barat. Data pusat intelijen Israel 2016, 74,7% beragama Yahudi, 17,7% Muslim, 2% Kristen, 1,6% Druze, dan lainnya 4%. Sekitar 68% Yahudi Israel dilahirkan di Israel, 22% imigran Eropa dan Amerika, serta 10%-nya Asia, Afrika dan Arab. Afiliasi keagamaan, 55% mengaku tradisional, 20% sekuler, 17% ortodoks, sisanya 8% sebagai Yahudi Haredi.

Lagu kebangsaannya Hatikvah (harapan). Bahasa resmi Ibrani dan bahasa diakui bahasa Arab. Kota metropolitannya Tel Aviv, Haifa dan Beersheba. Topografinya padang pasir, pegunungan, dataran tinggi, lembah dan sungai. Iklimnya dingin, berhujan, panas dan bersalju.

Sejarah berdiri

Ibnu Katsir dalam kitab Qishash al-Anbiya menceritakan, Nabi Ya'qub memiliki empat istri, yaitu Layya, Rahil, Balha, dan Zulfa. Ia memiliki 12 anak laki-laki dan 1 perempuan. Dari Layya, lahir Rubail, Syam'un, Lewa, Yahudza, Yasakhir, Zabilun dan anak perempuan Dina. Rahil lahir Yusuf as dan Bunyamin. Balha lahir Baan dan Naftali. Dari Zulfa lahir Jaad dan Asyir. Nama Yahudi dinisbatkan dari Yahudza putera Layya, karena banyak keturunan.

Dalam perjalanannya, umat Yahudi terpencar dan tidak memiliki tanah air. Mereka menjadi korban pembantaian ketika perang salib. Theodore Hertzl Yahudi Jerman menulis buku De Judesment, menggagas berdirinya Israel. Hertzl mengenalkan ide ini dalam konfrensi di Basel, Swiss kepada tokoh Yahudi di seluruh dunia.

Hertzl berambisi menjadikan Palestina negara Yahudi. Ia menulis surat kepada Sultan Abdul Hamid II, Khalifah Turki Usmani yang menguasai Palestina saat itu dengan imbalan uang. Sultan menolak dan bersumpah tidak akan menyerahkannya walau sejengkal. Mereka lalu memunculkan paham zionisme dengan slogan kembali ke tanah yang dijanjikan Yerusalem. Menghancurkan Khilafah Turki Usmani dengan perang internal, konflik antarbangsa dan paham sekularisasi.

Pada perang dunia I, 1914-1918, Khilafah Turki terpecah menjadi dua. Bangsa Turki bergabung dengan Jerman dan bangsa Arab dengan Inggris, Prancis, dan Rusia. Pada perjanjian Sykespicot, 27 April 1917 Inggris mendapat Palestina, Selatan Irak, dan seluruh negeri yang berbahasa Arab. Prancis mendapatkan Libanon, Syam dan Kepulauan Faratiyah. Istambul, Selat Bosphorus dan Dardanella menjadi bagian Rusia.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved