1 Juta Lebih Warga Aceh Perokok Berat

Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh mengungkapkan ada sekitar satu juta lebih atau 20 persen dari total 5,2 juta jiwa

1 Juta Lebih Warga Aceh Perokok Berat
Serambinews.com
Kejaksaan Negeri Aceh Timur, bersama Pengadilan Negeri Idi, Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Kuala Langsa, memusnahkan 27.210 bungkus rokok illegal, Selasa (15/10/2019). 

BANDA ACEH - Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh mengungkapkan ada sekitar satu juta lebih atau 20 persen dari total 5,2 juta jiwa penduduk Aceh adalah perokok berat. Data tersebut didapat dari hasil survei yang dilakukan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) di Aceh.

Dengan jumlah tersebut, apabila satu orang menghabiskan 1 bungkus rokok dengan harga per bungkus Rp 20.000, maka dalam setahun uang yang dibelanjakan untuk membeli rokok mencapai Rp 7,2 triliun (Rp 7,2 juta/orang/tahun).

Jumlah uang tersebut, kata Kepala Dinkes (Kadinkes) Aceh, A Hanif, hampir mendekati penerimaan dana otonomi khusus (Otsus) Aceh yang sebesar Rp 8 triliun per tahun. “Rp 7,1 triliun itu jika satu orang menghabiskan 1 bungkus rokok. Tetapi jika satu orang menghabiskan 2-3 bungkus rokok, uang yang dihabiskan tentu lebih besar lagi,” kata Hanif pada acara Komitmen Kampanye Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) di halaman Gedung DPRK Simeulue, Minggu (20/10/2019).

Karena itulah, sambung dia, Kemenkes bersama Pemerintah Aceh memberi dukungan cukup besar terhadap program Germas, yang salah satunya bertujuan untuk mengurangi jumlah perokok di Aceh, dan uangnya bisa dimanfaatkan untuk peningkatan gizi keluarga.

“Salah satu faktor angka kemiskinan dan gizi buruk di Aceh masih tinggi, di atas rata-rata nasional, adalah karena jumlah perokoknya masih cukup banyak,” ujar Kadinkes Aceh.

Dalam acara kampanye tersebut juga hadir Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, dr Taqwallah MKes. Dalam kesempatan itu, Sekda menjelaskan tentang program BEREH (Bersih, Estetika dan Hijau), dimana salah satu tujuannya juga untuk menerapkan program hidup bersih dan sehat tanpa rokok.

"Pelaksanaan program BEREH ini bisa membantu mengurangi angka perokok berat di Aceh, sehingga uang belanja rokok bisa dialihkan untuk membeli makanan bergizi bagi anak dan keluarga. Sehingga ke depan anak-anak Aceh tidak lagi mengalami stunting, dan angka kematian ibu dan bayi bisa ditekan,” ujar Taqwallah.

Menanggapi masalah rokok ini, Sekda Simeuleu, Ahmadiyah, mengakui jika diriya termasuk perokok berat. Tetapi mulai saat ini, ia berniat akan menguranginya secara bertahap. Selama ini dia mengaku sering minder saat merokok di ruang publik, seperti di Bandara, Rumah Sakit, dan lainnya, karena kalau ingin merokok harus mojok atau pada ruang khusus perokok.

“Rasanya tidak enak berada di ruang kecil merokok, dilihati orang banyak. Karena itu, kawasan tanpa rokok perlu ditambah, tidak hanya di lingkup kesehatan dan sekolah saja, tapi juga di lingkungan perkantoran pemerintah, rumah sakit, Puskesmas, Polindes, kantor swasta, dan fasilitas umum lainnya,” saran Ahmadiyah.

Penandatanganan Komitmen Kampanye Germas kemarin dilakukan oleh Sekda Simeulue, Kadinkes Simeulue, pimpinan DPRK dan sejumlah Kepala SKPK. Salah satu komitmen yang ditanda tangani adalah penetapan kawasan tanpa rokok di lingkungan perkantoran pemerintah, sekolah, dan fasilitas umum lainnya.

Selain itu sebagaimana disebutkan Kadinkes Aceh, dr Hanif, komitmen lain yang ditandatangani adalah peningkatan kesehatan masyarakat, pengurangan angka kematian ibu dan bayi, menurunkan angka kemiskinan, stunting, dan gizi buruk. “Setiap individu masyarakat bertangung jawab penuh untuk melakukan ke lima poin tersebut di Aceh," ujar dr Hanif.(her)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved