Jadi Menteri, Nadiem Makarim Mundur dari CEO Gojek dan Siap Bawa Inovasi ke Kabinet Kerja Jilid 2

CEO sekaligus founder startup Gojek, Nadiem Makarim, menyatakan mundur dari jabatannya sebagai CEO Gojek.

Kolase Tribun
Nadiem Makarim dan Keluarga 

"Selama ini presiden manyampaikan bahwa ada menteri yang milenials, dan tentun Ngadiem adalah orang yang cocok untuk itu," ujarnya.

Sejauh ini Ngadiem Makarim memang dikabarkan akan menjadi menteri yang akan duduk di bidang pendidikan dan koperasi.

Yunarto pun menjelaskan bahwa jika Ngadiem nanti menjadi menteri tentu banyak masalah yang akan dihadapinya, karena tidak akan sama iklimnya saat memimpin Gojek dan kementerian.

"Akan susah dia nantinya mendobrak budaya-budaya di Kementerian. Kalau di Gojek kan, dia yang bangun dan bertumbuh bersama. Ini dia datang ke tempat yang sudah bertahun-tahun establish," ujarnya.

Lantas, bagaimana profil CEO Go-Jek tersebut?

Berikut profil Nadiem Makarim, dirangkum Tribunnews dari berbagai sumber :

1. Kehidupan Pribadi

Nadiem Makarim memiliki nama lengkap Nadiem Anwar Makarim.

Ia merupakan pria kelahiran Singapura, 4 Juli 1984.

Pria 35 tahun itu adalah anak bungsu dari tiga bersaudara.

Ia lahir dari pasangan Nono Anwar Makarim dan Atika Algadri.

Ayahnya merupakan seorang aktivis dan pengacara.

Sedangkan, ibunya berprofesi sebagai penulis lepas.

Sang ibu merupakan putri dari salah seorang sosok perintis kemerdekaan Indonesia, Hamid Algadri.

Sementara itu, ia menikah dengan sang istri Franka Franklin sejak 2014 lalu.

Nadiem dan Franka telah dikaruniai anak perempuan bernama Solara Franklin Makarim.

2. Riwayat Pendidikan

Nadiem Makarim mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Jakarta.

Ia kemudian melanjutkan pendidikan SMA-nya di Singapura.

Lulus SMA, Nadiem pun memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di jurusan International Relations di Brown University, Amerika Serikat.

Ia mengenyam pendidikan di Brown University dari tahun 2002 hingga 2006.

Tiga tahun kemudian, ia pun melanjutkan pendidikan pasca-sarjana di Harvard Business School dan mendapatkan gelar Master of Business Administration (MBA).

3. Awal Karir

Dilansir TribunStyle, Nadiem Makarim memutuskan untuk bergabung di Mckinsey & Company yang berbasis di Jakarta pada 2006.

Ia direkrut perusahaan itu menjadi konsultan manajemen.

Ia bekerja di perusahaan tersebut selama 3 tahun.

Nadiem juga bekerja di Zalora Indonesia sebagai Co-Founder serta Managing Editor.

Ia kemudian memutuskan keluar dari Zalora dan bekerja di Kartuku sebagai Chief Innovation Officer.

Di tahun 2011, Nadiem Makarim mulai merintis perusahaannya yang kemudian dikenal dengan Go-Jek.

Go-Jek merupakan aplikasi pesan ojek online yang telah berkembang besar di Indonesia.

Perusahaan itu disebut memperoleh pendanaan sebesar USD 550 juta atau setara dengan Rp 7,2 triliun pada 2016 lalu.

Go-Jek pun tak hanya menyediakan jasa pesan ojek online saja, namun juga jasa antar barang (Go-Send), makanan (Go-Food), kebersihan, massage, dan lain-lain.

Kini, aplikasi Go-Jek bahkan telah beroperasi di 50 kota di negara-negara Asia Tenggara.

Yang sebelumnya menjadi startup unicorn, Go-Jek kini menjadi perusahaan decacorn.

4. Jadi Juragan Ojek

CEO Gojek, Nadiem Makarim bersalaman dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. (Dok)
Awal mula Nadiem Makarim menjadi juragan ojek adalah dari kebiasaannya menggunakan ojek untuk pergi ke kantor.

Dilansir Kompas.com, ia mendapat ide untuk mengawinkan jasa ojek dan teknologi.

Dari situ, lahirlah PT Go-Jek Indonesia.

Nadiem bercerita, kebiasaan menggunakan ojek sudah menjadi rutinitas harian.

Saat itu, ia masih bekerja sebagai Co-Founder dan Managing Editor Zalora Indonesia dan Chief Innovation Officer Kartuku.

Setiap berangkat ke kantor, ia selalu menggunakan ojek.

Bukan berarti ia tidak memiliki kendaraan pribadi, seperti mobil atau motor.

Ia lebih memilih menggunakan ojek saat pulang atau pergi ke kantor karena merasa lebih aman.

Menurut dia, tingkat kecelakaan pada pengguna ojek sangat kecil.

Selama menggunakan jasa ojek, ia tidak pernah mengalami kecelakaan.

Lantaran sering menggunakan jasa ojek, Nadiem pun sering ngobrol dengan para tukang ojek langganannya.

Dari hasil obrolan dan pengamatannya, ia mengetahui bahwa sebagian besar waktu tukang ojek banyak dihabiskan untuk mangkal dan menunggu penumpang.

Di tempat mangkal, biasanya mereka giliran dengan tukang ojek lainnya. Sudah giliran, kadang penumpang sepi.

Sementara itu, dari sisi pengguna jasa, keamanan dan kenyamanan ojek belum terjamin 100 persen.

Menjawab semua persoalan itu, ia akhirnya mendapatkan ide membuat inovasi bagaimana orang bisa dengan mudah memesan ojek melalui ponsel tanpa harus repot ke pangkalan ojek.

Terlebih lagi, tidak semua orang lokasinya dekat dengan pangkalan ojek.

Tukang ojek sendiri tidak harus mangkal.

Bagi penumpang, menggunakan ojek juga lebih aman karena jelas dan terdaftar.

Nadiem mengaku, idenya ini juga sejalan dengan salah satu tugas kuliah ketika mengambil master di Harvard Business School.

Saat awal merintis bisnis, ia hanya memiliki 10 karyawan dan 20 tukang ojek.

Bagi Nadiem, awal mendirikan Go-Jek merupakan masa yang penuh dengan tantangan.

Salah satu kendala utamanya adalah sulitnya merekrut para pengojek untuk bergabung.

Maklumlah, saat itu karena brand Go-Jek belum banyak dikenal seperti sekarang ini.

Saat itu, Nadiem pun terjun langsung merekrut tukang ojek.

Ia kerap turun ke jalan, tempat para tukang ojek mangkal

Ia lalu banyak menghabiskan waktu dengan mengobrol hingga membelikan mereka kopi dan rokok.

5. Menyabet Asian of The Year 2018

Dilansir Kompas.com, Nadiem Makarim menjadi orang Indonesia pertama yang menerima penghargaan “Asian of The Year” dari The Strait Times.

Ia menyabet penghargaan bergengsi tersebut pada 2012.

Nadiem menyatakan, penghargaan tersebut diperoleh seiring dengan fokus Go-Jek untuk meningkatkan kesejahteraan sektor informal.

Di saat yang sama, langkah mereka bisa membantu kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia dengan mengubah pasar dan model bisnis yang selama ini berlaku.

Penghargaan “Asian of the Year” diberikan kepada individu atau sekelompok individu yang berkontribusi secara signifikan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di negaranya atau di Asia.

Sejumlah nama besar yang pernah menerima Asian of the Year adalah Lee Kuan Yew, pendiri Singapura (2015); Narendra Modi, Perdana Menteri India (2014); Shinzo Abe, Perdana Menteri Jepang dan Xi Jinping, Presiden China (2013); serta Thein Sein, Presiden Myanmar (2012).

6. Penasihat Kwarnas Pramuka

Nadiem Makarim ditunjuk sebagai Dewan Penasihat Nasional Gerakan Pramuka masa bakti 2018-2023.

Dilansir Kompas.com, dia dilantik oleh Jokowi pada 27 Desember 2018 silam.

Ada tiga mantan Presiden yang menjadi Anggota Dewan Penasihat, yakni Presiden ketiga BJ Habibie, Presiden kelima Megawati Soekarnoputri, dan Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Ada juga mantan Wapres Try Sutrisno.

Selain itu, pengusaha lain yang ditunjuk antara lain CEO Net TV Wishnutama dan pemilik MNC Group Hary Tanoesoedibjo.

Tak hanya itu, ada juga nama besar lain seperti Sri Sultan Hamengkubuwono X, Soekarwo, Mustofa Bisri, Syafi'i Maarif, Siti Hartati Murdaya, Frans Magnis Suseno, Jaya Suprana, Slamet Raharjo, dan Eka Cipta Wijaya.

Diharapkan, Dewan Penasihat di bidang bisnis dapat mengajari anak-anak gerakan Pramuka bagaimana mengelola bisnis.

7. Masuk dalam 50 Sosok Menginspirasi di Dunia versi Bloomberg 2018

Nadiem Makarim masuk ke daftar sosok paling menginspirasi dalam 2018 Bloomberg 50.

Daftar tersebut terdiri dari orang-orang yang terlibat dalam dunia bisnis dan keuangan, entertainment, politik hingga teknologi dan ilmu pengetahuan di mana sosoknya bisa membawa perubahan besar di tahun 2018.

Dilansir Kompas.com, rilis penghargaan itu menyebut, Go-Jek yang dibangun oleh Nadiem telah mengubah kehidupan masyarakat Indonesia dalam waktu yang cepat.

“Tidak ada aplikasi lain yang telah mengubah kehidupan di Indonesia dengan cepat seperti Go-Jek. Kemudian tahun 2015 yang berkembang fokusnya tidak hanya pada pemesanan sepeda motor (ojek), tetapi juga menjadi cara untuk membayar tagihan, memesan makan, atau menjadwalkan pembersihan rumah,” tulis laporan itu.

Dalam keterangannya, 2018 Bloomberg 50 mengatakan bahwa layanan "berbagi aplikasi" Go-Jek yang berbasis di Indonesia juga bisa mendobrak untuk ekspansi ke luar negeri.

Dalam daftar nama tersebut, nama Nadiem masuk bersama para direktur The Fed Jerome Powell, Richard Clarida, John Williams, Randal Quarles dan Lael Brainard.

Peraih nobel bidang fisika Donna Strickland hingga artis Taylor Swift juga masuk ke dalam daftar ini.

8. Harta Kekayaan

Dilansir Tribun Style, nama Nadiem Makarim masuk dalam daftar 5 miliarder terkaya Indonesia dengan usia kisaran angka 30 tahun.

Dirilis dari Globe Asia tahun 2018, kekayaan Nadiem Makarim ditaksir mencapai USD 100 juta atau sekitar Rp 1,4 triliun.

Secara dunia, peringkat Nadiem Makarim dalam daftar tersebut adalah di urutan ke-150.

Innalillahi wa Innailaihi Rajiun, Ketua BKPRMI Aceh Tenggara Meninggal Dunia

Hari Ini, Sidang Gugatan Irwandi Terhadap Tiyong Digelar di PN Banda Aceh

Dinas Kembali Serahkan Dokumen ke ULP

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ditawari Masuk Kabinet Jokowi, Nadiem Makarim Mundur dari Gojek"

Penulis : Yudha Pratomo

Editor: faisal
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved