Opini

Logika Aceh Caroeng  

Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Aceh (BPSDM) mengumumkan beasiswa bagi masyarakat Aceh, baru-baru ini

Logika Aceh Caroeng   
IST
Dr. Damanhur Abbas Alumni Timur Tengah, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Malikussaleh

Dr. Damanhur Abbas

Alumni Timur Tengah, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Malikussaleh

Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Aceh (BPSDM) mengumumkan beasiswa bagi masyarakat Aceh, baru-baru ini. Materi pengumuman tentu saja tidak lahir secara terburu-buru, tetapi sudah melewati serangkaian kajian dari berbagai aspek, sehingga mengejutkan jika masih terdapat beberapa kerancuan di dalamnya, setidaknya berdasarkan pengalaman penulis yang pernah belajar di Timur Tengah.

Pertama, beasiswa tahfiz dan hafiz. Apa sesungguhnya yang diinginkan Pemerintah Aceh untuk kategori ini? Jika Pemerintah Aceh ingin memberikan beasiswa bagi penghapal Alquran, kenapa disyarakatkan hanya 5 juz? Seharusnya sebagai bentuk penghargaan untuk mereka penghapal Alquran 30 juz boleh mendaftar kuliah di mana saja-tidak mesti ke Timur Tengah. Karena orang yang mampu menghafal Alquran 30 juz sudah terbukti daya ingatnya, maka tidak heran kalau kita mendengar tawaran bebas seleksi untuk memasuki Fakultas Kedokteran bagi yang sudah menghafal Alquran 30 juz.

Calon penerima beasiswa bagi penghapal Alquran semestinya harus mengecap pendidikan di perguruan tinggi, agar mereka tidak sekadar menghapal Alquran, tetapi juga harus memahami maknanya, sehingga terjadi sinkronisasi antara apa yang dihapal dengan perbuatan.

Menurut pendapat salah satu pimpinan perguruan tinggi di Aceh, kita terbelakang karena tidak mengamalkan Alquran. Fenomena ini yang kita khawatirkan jika SDM Aceh hanya mampu menghapal namun tidak memahami atau mengamalkan apa yang mereka ketahui. Atau mungkin pimpinan perguruan tinggi tersebut ingin menyindir BPSDM yang berwenang dalam mendesain beasiswa untuk masyarakat Aceh?

Kedua, LoA (letter of acceptence) tidak bisa didapatkan untuk pendidikan di Timur Tengah jika kita tidak dinyatakan lulus dan sudah teregisterisasi pada universitas tersebut. Beginilah sistem pendidikan di Timur Tengah yang terkesan ortodok, namun lebih mengutamakan kualitas lulusan.

Berbeda dengan studi di Eropa dan USA di mana calon pelajar bisa mendapatkan LoA jika perguruan tinggi menilai yang bersangkutan mampu secara akademik dan finansial, walau hanya melalui korespondensi.

Kalau persyaratan ini diwajibkan untuk calon mahasiswa baru tentu tidak akan terserap biasiswa ke Timur Tengah. Hal ini sangat memungkinkan bagi mahasiwa yang sedang studi atau on going, tetapi kendalanya adalah sertifikat TOAFL. Tentunya rancu bila mahasiswa yang sudah kuliah harus mengikuti tes TOAFL, terlebih jika tes tersebut di salah satu universitas di Aceh. Alangkah lebih bijak jika pemerintah Aceh membedakan jenis beasiswa ke Timur Tengah dengan dua kategori beasiswa baru dan beasiswa on going.

Ketiga, jumlah dana yang diterima calon mahasiswa yang akan melanjutkan studi ke Timur Tengah tergolong besar. Dana yang diperuntukkan untuk satu orang dapat digunakan 3 orang mahasiswa. Terlebih jika mereka memilih kulliah adaby (Bidang Agama) maka tidak dibenankan biaya kuliah apapun oleh Universitas Al-Azhar. Namun jika memilih kulliah Ilmy (Bidang Sains) seperti kedokteran, teknik, pendidikan dikenakan biaya selama tidak ada kerja sama dengan Al-Azhar. Untuk pendidikan pascasarjana Al-Azhar baru dikenakan biaya oleh perguruan tinggi sekitar 150 USD per semester.

Halaman
123
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved