Salam

Menjadi Turis tak Boros di Malaysia  

Malaysia terus menggarap pasar wisatawan dari Aceh untuk berkunjung ke Kuala Lumpur, Penang, dan kota-kota lainnya

Menjadi Turis tak Boros di Malaysia   
SERAMBI/M ANSHAR
Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Tuan Yang Terutama Datuk Zainal Aidin Bakar (tengah) bersama Perwakilan menteri pariwisata Malaysia, Roslan Othman (kanan) dan perwakilan menteri pendidikan Malaysia Profesor Madya Dr Mior Harris Bin (kiri) berbicara dalam konferensi pers di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, Rabu (23/10/2019). 

Malaysia terus menggarap pasar wisatawan dari Aceh untuk berkunjung ke Kuala Lumpur, Penang, dan kota-kota lainnya di negeri jiran itu. Dua hari lalu, Duta Besar (Dubes) Malaysia untuk Indonesia, Tuan Yang Terutama Datuk Zainal Abidin Bakar bertemu Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah untuk memperat hubungan bilateral antara Malaysia dengan Provinsi Aceh dalam beberapa bidang seperti pendidikan, keagamaan, pariwisata, perdagangan, hingga investasi.

Zainal Abidin Bakar mengatakan pihaknya sangat serius mengembangkan kerja sama tersebut. Menurut Dubes, kedua belah ingin meningkatkan kunjungan wisatawan, baik dari Malaysia ke Aceh maupun sebaliknya. Aceh, kata dia, memiliki potensi mengembangkan peluang itu hanya saja perlu meningkatkan sarana penunjang.

Dia menyampaikan, pada tahun 2018 pelancong Malaysia yang melawat ke Aceh mencapai 24 ribu orang. Begitu juga dengan kunjungan rakyat Aceh ke Negeri Jiran, terutama dalam rangka medical tourism (berobat).  Pelajar Malaysia yang menuntut ilmu ke Aceh, tepatnya ke UIN Ar-Raniry dan Unsyiah terus bertambah jumlahnya. Demikian pula jumlah mahasiswa Aceh yang belajar ke Malaysia juga banyak. Zainal berharap, jumlah kunjungan itu semakin meningkat pada tahun 2020.

Untuk menggaet wisatawan dari Aceh, Malaysia sedang mempromosikan program Rp 1 juta untuk dua hari tiga malam. Ini tentu biaya yang sangat murah bagi warga Aceh yang selama ini memang sudah menjadikan Kuala Lumpur, Penang, serta beberapa kota lainnya di negara tetangga itu sebagai destinasi berobat dan wisata.

Perwakilan Menteri Pariwisata Malaysia, Roslan Othman mengatakan, saat ini Malaysia terus menawarkan berbagai program untuk memancing datangnya wisatawan mancanegara ke negeri tetangga tersebut. Salah satunya promo terbaru Malaysia dalam bidang pariwisata dengan menawarkan paket Rp 1 juta untuk dua hari tiga malam. Uang Rp 1 juta itu sudah termasuk biaya hotel dan transportasi dari bandara.

Program ini mestinya disosialisasikan kepada warga Aceh. Motivasinya bukan untuk membantu secara langsung mengampanyekan pariwisata Malaysia. Akan tetapi, masalahnya, banyak warga Aceh yang berkunjung ke Malaysia untuk berobat sering dananya terbatas. Dengan adanya program itu, pastilah sangat membantu mereka. Catatan selama ini, kamar sederhana hotel atau apartemen di Kuala Lumpur atau Penang, satu malam sekitar Rp 350.000 sampai Rp 650.000 permalam. Pendek kata, uang satu juta rupiah akan sangat sulit mendapat penginapan tiga malam. Nah, ditambah lagi ongkos transport dari bolak-balik ke airport, maka program “memancing” wisatawan oleh Pariwisata Malaysia sangat membantu wrga Aceh, terutama yang ingin berobat. Apalagi, bepergiannya pada musim-musim murah ongkos pesawat.

Kita harus jujur, bahwa sejak beberapa tahun terakhir, ketika tiket pesawat dalam negeri sangat mahal, maka “kiblat” belanja dan wisata warga Aceh adalah Malaysia, khususnya Kuala Lumpur dan Penang. Ada beberapa faktor yang sangat mendorong warga Aceh ke sana. Pertama, jarak tempuhnya sangat dekat. Kedua makanan dan bahasa tidak sulit. Ketiga, ongkos pesawat ke sana jauh lebih murah dibanding harga tiket-tiket pesawat penerbangan domestik. Dan, keempat, kampanye atau promosi yang dilakukan Malaysia di Aceh sangat gencar. Mereka masuk berpromosi ke segala lini dengan berbagai cara yang baik pula. 

Karena kondisi seperti itulah, mestinya ada pihak di daerah ini yang mau membekali warga Aceh tentang bagaimana menjadi turis atau pengunjung yang hemat saat beraktivitas di Mayalsia. Misalnya, harus ada yang memberi pengetahuan jika kita melakukan perjalanan di Kuala Lumpur sebisa mungkin hindari penggunaan taksi dan manfaatkanlah bus GO KL yang gratis. Operasi bus ini ada hingga pukul setengah dua belas malam. Pelajarilah peta Bus GO KL yang bisa kita lihat di halte.

Upaya-upaya seperti ini dilakukan oleh para tour leader Malaysia yang membawa wisatawan ke Aceh. Mereka sangat melarang wisatawannya menggunakan beca penumpang di Aceh. Mereka juga membekali wisatawannya tentang tempat-tempat berbelanja souvenir khas Aceh yang bagus dan murah.

Inti yang ingin kita sampaikan adalah kita harus belajar sekecil dan sesederhana apapun cara-cara yang ditempuh Malaysia dalam memajukan pariwisatanya. Sebab, kita memang pantas belajar ke sana karena mereka sudah berhasil memajukan pariwisatanya.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved