Mihrab

Santri Lokomotif Penegakan Syariat Islam  

Plt Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah menyebut dayah dan santri ibarat lokomotif dalam pembangunan dan penegakan syariat Islam

Santri Lokomotif Penegakan Syariat Islam   
SERAMBI/M ANSHAR
Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah bersama rombongan ulama dan Forkopimda memasuki lapangan Blangpadang untuk menghadiri upacara peringatan Hari Santri Nasional di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh, Aceh, Kamis (24/10/2019). 

BANDA ACEH - Plt Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah menyebut dayah dan santri ibarat lokomotif dalam pembangunan dan penegakan syariat Islam di Aceh. Bahkan, santri merupakan bagian tak terpisahkan dalam gerakan kebangsaan. Hal itu disampaikan Gubernur saat peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh, Kamis (24/10).

Nova menjelaskan, peran santri di Provinsi Aceh yang melaksanakan syariat Islam jauh lebih besar dan atmosfer Hari Santri di daerah berjuluk 'Serambi Mekkah' ini pun lebih terasa. Bahkan dalam ikrarnya, lanjut Nova, santri sendiri menyatakan diri sebagai bagian tak terpisahkan dari perjalanan bangsa.

Dalam peringatan Hari Santri, terdapat ribuan santri dari berbagai dayah yang mengikuti upacara bendera di Lapangan Blangpadang. Uniknya, semua peserta upacara mengenakan kain sarung dan baju putih, mulai dari Plt Gubernur Aceh, ulama, hingga santri dayah sendiri.  Karena kain sarung merupakan ciri khas santri dan pendidikan dayah.

Plt Gubernur dalam sambutannya memaparkan beberapa alasan santri menjadi bagian penting dalam pelaksanaan syariat Islam. Pertama, formalisasi syariat Islam dan perdamaian di Aceh tidak terlepas dari peran dayah.

"Perjuangan kalangan dayah tidak hanya berakhir sampai di situ. Ketika konflik yang berkepanjangan terjadi di Aceh, para Abu dan pimpinan dayah juga sangat berperan melalui kontribusi pemikirannya untuk menciptakan keharmonisan dan perdamaian," ujarnya.

Kedua, santri memiliki sifat pengabdian (khidmah) yang merupakan prinsip penuh dedikasi kepada guru, lembaga dayah, maupun masyarakat. Ketiga, santri rutin melakukan kajian dan dialog membahas persoalan keummatan, termasuk kajian lintasmazhab. Keempat, dayah dapat memupuk sikap solidaritas, kepedulian, dan kebersamaan antarsesama santri.

Kelima, tradisi berpidato (muhadharah) yang tumbuh di dayah akan mempengaruhi karakter santri, sehingga mereka dapat mengekspresikan pesan syariat Islam dan perdamaian. Keenam, Di era yang semakin pragmatis ini, dayah menjadi ruang yang kondusif untuk menjaga khazanah kearifan lokal sekaligus memperkuat pelaksanaan syariat Islam di Aceh. Terakhir, prinsip kemashlahatan ummat merupakan pegangan tak tergoyahkan di kalangan dayah. Prinsip itu selama ini menjadi spirit tersendiri bagi para santri terutama dalam merawat perdamaian Aceh.

Plt Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah menambahkan, saat ini Pemerintah Aceh sedang mengkaji kemungkinan pendidikan dayah yang berada di bawah pendidikan dayah sebagai inti dari pendidikan di Aceh. Bahkan, ada  kemungkinan secara kelembagaan dinas dayah disatukan dengan dinas pendidikan, yang nantinya akan menjadi inti pendidikan di Aceh.

Menurut Nova, disahkannya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren telah menjustifikasikan eksistensi dayah/pesantren sebagai bagian yang tak terpisahkan dari penyelenggaraan pendidikan nasional.

"Saat ini Pemerintah Aceh sedang mengkaji untuk menerapkan intisari pendidikan dayah sebagai basis penyelenggaraan pendidikan di Aceh. Pendidikan dayah yang selama ini berada di bawah Dinas Pendidikan Dayah Aceh secara kelembagaan akan disatukan dengan Dinas Pendidikan Aceh. Nantinya, kedua Dinas ini akan menjadikan pendidikan dayah sebagai inti atau dasar bagi penyelenggaraan pendidikan di Aceh," ujar Plt Gubernur. (mun)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved