Breaking News:

Opini

Disleksia; Menyelamatkan Generasi Out of the Box  

Keringat dingin mulai membasahi wajah Zul (10 tahun), seorang murid kelas 2 SD. Ia sedang berusaha keras meringkas pelajaran sejarah

Editor: bakri
Disleksia; Menyelamatkan Generasi Out of the Box   
IST
Dokter Munadia, SpKFR, Ketua Asosiasi Disleksia Indonesia Cabang Aceh

Oleh Dokter Munadia, SpKFR, Ketua Asosiasi Disleksia Indonesia Cabang Aceh

 Keringat dingin mulai membasahi wajah Zul (10 tahun), seorang murid kelas 2 SD. Ia sedang berusaha keras meringkas pelajaran sejarah tentang kemerdekaan. Hampir semua temannya telah istirahat di luar kelas. Tidak mudah baginya menemukan kata yang tepat, menyusun kalimat per kalimat, belum lagi kadang huruf yang dirangkai terbalik urutannya.

Tugas meringkas ini membuatnya sangat lelah, padahal masih jam 10 pagi. Lembaran buku sudah penuh dengan coretan dan terlihat jorok, ingin rasanya merobek lagi, ini sudah lembaran ke-6 yang disobek. Ia semakin cemas saat menyadari hanya dia di kelas bersama ibu guru yang menunggunya.

Dari kejauhan terdengar teriakan teman-teman saling berlarian memasukkan bola ke gawang, padahal jam istirahat ini yang selalu dinanti Zul untuk menyalurkan hobinya, rasanya ingin menangis mengingat seringnya kehilangan waktu istirahat akibat tidak mampu menyelesaikan tugas tepat waktu. Belum lagi sakit perut melilit membayangkan harus membaca hasil karangan di depan kelas nantinya. Timbul hasrat berbuat curang agar cepat selesai atau tidak usah sekolah lagi.

Mengapa aku sangat bodoh? Mengapa teman lain bisa, tapi aku tidak? Bagaimana jika aku nanti tinggal kelas lagi? Pasti ayah bunda akan membenciku. Mengapa tidak ada yang bisa memahami aku? Semua orang lebih suka menertawaiku daripada membantuku. Tuhan, aku tidak suka dunia ini, aku benci hidup, kapankah aku bisa bertemu-Mu?

Kesulitan belajar yang dialami Zul termasuk kesulitan belajar spesifik yang disebut disleksia, namun kita tidak menganggap hal tersebut suatu kesulitan atau masalah. Kebanyakan kita berfikir anak seperti ini tidak pandai, lamban, malas, tidak fokus atau kurang belajar dirumahnya. Penelitian mengatakan prevalensi kejadian anak seperti Zul (disleksia) berkisar 4-17% di USA (Shawitz, 2005), 10% di UK (British Dyslexia Association, 2016) dan 4% di antaranya disleksia level berat.

Artinya jika dalam kelas ada 40 anak, minimal 4 anak mengalami disleksia. Jika dalam 1 sekolah dasar ada 12 kelas, artinya ada 48 anak disleksia di sekolah tersebut. Dan 48 anak tersebut tidak terdeteksi sebagai disleksia.

Pengertian disleksia masih simpang siur, banyak menganggap disleksia hanyalah masalah membaca saja yang bersifat sesaat atau disleksia itu sebenarnya tidak ada. Benarkah seperti itu?

Jutaan tahun lalu manusia hidup dengan bahasa yang minim dan tidak membutuhkan keterampilan membaca. Mereka cukup menggunakan simbol untuk berkomunikasi. Alfabet baru ditemukan di milenium kedua sebelum masehi, jika mengikuti sejarah evolusi membaca, tidak sulit memahami bahwa otak manusia memang tidak disiapkan untuk membaca, yang artinya untuk bisa membaca haruslah belajar bukanlah bisa dengan sendirinya.

Disleksia dikenal dengan istilah buta huruf oleh neurologist (Adolf Kussamaul, 1877), strephosymbolia oleh ophthalmologist (James Hinshelwood, 1895), terbalik-baliknya huruf (mirror writing) oleh seorang dokter (Samuel Orton, 1925), kesulitan belajar spesifik (Ruter, 1970) dan masalah phonologi (Frank, 1979 dan Sally Shaywitz, 1996). Ott 1997 mengklaim bahwa diagnosis disleksia adalah bidang medis karena diturunkan secara genetik.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved