Waspadalah, Musim Banjir Kembali Tiba  

HARIAN Serambi Indonesia edisi Jumat kemarin menempatkan berita bencana banjir yang melanda Aceh sebagai berita utama

Waspadalah, Musim Banjir Kembali Tiba   
SERAMBINEWS.COM/ SARI MULIASNO
Banjir melanda Kabupaten Simeulue, Kamis (24/10/2019). Foto direkam di Desa Abail, Kecamatan Teupah Tengah. 

HARIAN Serambi Indonesia edisi Jumat kemarin menempatkan berita bencana banjir yang melanda Aceh sebagai berita utama (headline) halaman 1. Judul yang diangkat pun sangat humanis, yakni Air Bah Seret Dua Pencari Batu. Peristiwanya terjadi di Sawang, Aceh Utara.

Banjir kali ini bukan banjir biasa, melainkan banjir yang datang tiba-tiba pada Rabu (24/10/2019) sore, menghanyutkan apa saja, dan tingginya mencapai bagian atas pohon. Banjir jenis ini dinamakan banjir bandang.

Banjir ini menyebabkan dua sekawan, Muhibuddin (35) dan Maulidin (40) yang sedang memuat batu ke truk secara manual di tengah Sungai Sawang, Aceh Utara, tak sempat menyelamatkan diri. Nasib Maulidin malah lebih tragis. Ia terseret banjir bandang lebih dari 1 kilometer. Kaki dan hidungnya terluka, iq bahkan sempat pingsan sehingga harus diopname.

Sedangkan Muhibuddin hanya menggigil kedinginan tersapu banjir bandang, namun ia berhasil bertahan dengan memanjat pohon yang kemudian juga terendam banjir bandang. Muhibuddin akhirnya diselamatkan oleh satu tim dengan cara melemparkan pelampung ke arahnya dan kemudian ditarik ke daratan.

Selain di Aceh Utara, banjir juga terjadi di beberapa kabupaten/kota lainnya di Aceh. Misalnya, di Kecamatan Meurahdua, Meureudu, Pidie Jaya. Banjir setinggi 50 ini merendam tujuh desa akibat meluapnya Krueng Meureudu setelah hujan deras mengguyur beberapa jam sehingga menggenangi pemukiman penduduk.

Banjir juga melanda Kabupaten Aceh Barat, Aceh Singkil, dan Simeulue akibat meluapnya sungai di tiga kabupaten itu pascahujan yang mengguyur dalam durasi lama. Banjir, baik banjir bandang maupun banjir luapan tersebut semuanya terjadi dalam dua hari terakhir.

Realitas ini haruslah menyadarkan kita di seluruh Aceh tentang bencana yang mengancam jika musim penghujan tiba, yakni sejak bulan September tahun ini hingga Februari tahun depan.

Untuk lingkup Aceh, musim penghujan ini kerap kalidiperparah oleh kondisi mayoritas sungai-sungai yang sudah sejak lama mengalami pendangkalan, tapi hingga kini belum dikeruk atau dinormalisasi.

Apabila sungai-sungai kita tidak segera dikeruk, maka hujan yang hanya beberapa jam saja, apalagi sampai beberapa hari, hampir dapat dipastikan akan menyebabkan banjir luapan.

Di sisi lain, tingginya laju deforestasi di sejumlah kabupaten dan kota di Aceh otomatis akan menjadi biang kerok terjadinya banjir bandang ketika hujan turun deras di kawasan hutan dan pegunungan.

Dan ironinya itu terjadi ketika Aceh dalam status moratorium logging. Oleh karenanya, diperlukan langkah hukum yang tegas untuk menindak para pembalak hutan. Hutan yang digunduli tanpa ampun pastilah mengundang datangnya banjir bandang. Kerugian yang disebabkan banjir bandang pastilah tidak sedikit.

Jadi, para perambah hutan harus ditindak dan dihukum optimal untuk menimbulkan efek jera, sehingga kemungkinan terjadinya banjir bandang bisa diantisipasi. Bencana jenis ini kita bisa cegah, maka kewaspadaan dan upaya pencegahan harus kita prioritaskan agar banjir tak terulang dan korban bisa kita hindari. Semoga.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved