Breaking News:

Destinasi Wisata di Aceh Singkil, Dari Warung Kopi, Pulau Panjang Dikenal Dunia

SEGELAS kopi hitam segera tersaji ketika duduk di bangku kayu menghadap pantai. Asapnya mengepul menghadirkan aroma pengundang

Editor: bakri
Serambinews.com
Peserta Aceh Roverway asal Malaysia serta pengurus Pramuka tingkat nasional dan daerah, duduk di warung kopi Pak Itam, di Pulau Panjang, Kecamatan Pulau Banyak, Aceh Singkil, Jumat (25/10/2019). 

Pulau Panjang, salah satu dari gugusan Pulau Banyak, Aceh Singkil, kini telah menjelma menjadi destinasi wisata dunia. Namun siapa sangka, popularitas Pulau Panjang ternyata diawali dari sebuah warung kopi milik Pak Itam. Warung yang awalnya dibuat warga lokal itu kini telah berubah menjadi tempat nongkrongnya para turis.

SEGELAS kopi hitam segera tersaji ketika duduk di bangku kayu menghadap pantai. Asapnya mengepul menghadirkan aroma pengundang selera menjelang senja. Kopi itu buatan Pak Itam, pengelola objek wisata Pulau Panjang, di Kecamatan Pulau Banyak, Kabupaten Aceh Singkil.

Berawal dari warung kopi Pak Itam itulah Pulau Panjang kini menjelma jadi destinasi wisata yang dikenal dunia. Wisatawan lokal maupun mancanegara terus datang silih berganti setiap hari. Tentu saja demi menyeruput segelas kopi buatan Pak Itam sambil menikmati hamparan pasir putih dan laut biru tosca.

Kopi buatan Pak Itam memang memiliki cita rasa tersendiri. Tak mengherankan banyak warga datang jauh-jauh menyeberangi lautan hanya sekedar untuk menikmati segelas kopi kental made in Pak Itam.

Pak Itam begitulah Mirzal dipanggil sehari-hari, mendirikan warung kopi yang didesain terbuka menghadap ke laut. Warung kopi itu awalnya untuk memenuhi kebutuhan warga lokal yang singgah di Pulau Panjang. Tetapi seiring berjalannya waktu, Pulau Panjang menjadi terkenal. Ini semua berkat sentuhan Pak Itam yang menata apik lokasi warung kopinya sehingga disukai pengunjung.

Konstruksi warung kopi Pak Itam menggunakan kayu bulat sebesar pergelangan lengan yang disusun rapat, dengan bantuk kayu dibiarkan apa adanya. Sedangkan atapnya menggunakan daun rumbia. Alami, sederhana, dan unik.

Karena keunikan inilah wisatawan berbondang-bondong datang, selain tentunya karena pantai Pulau Panjang yang eksotis. Tak terkecuali tiga orang peserta Aceh Roverway asal Malaysia, pengurus pramuka tingkat nasional dan pengurus pramuka tingkat daerah se-Sumatera. Mereka sengaja datang ke Pulau Panjang, Jumat (25/10/2019) jelang petang hanya untuk menikmati pesona alam dan segelas kopi buatan Pak Itam.

Usaha Pak Itam untuk sendiri tidak gampang. Butuh keras dan jalan terjal hingga warung kopinya ramai dikunjungi wisatawan. Pada masa awal perintisan, ayah tiga anak ini harus nyambi mencari ikan ke laut agar tetap bisa menutupi kebutuhan keluarga.

Baru sepulang melaut ia bekerja membangun warung kopi. Warung dibangun sendiri. Begitu juga dengan kursi tempat duduk santai, serta fasilitas pendukung lainnya.

Usaha yang dirintis sejak tahun 2017 tersebut membuahkan hasil. Pendapatan dari warung kopi ia gunakan untuk mengembangkan usahanya. Suami dari Sri Devi itu kini sudah memliki dua cottage yang ditempatkan di sisi barat Pulau Panjang. "Sudah berhenti jadi nelayan, fokus urus warung kopi," kata Pak Itam kepada Serambi.

Pulau Panjang memang dikelola pelaku wisata lain. Akan tetapi nama Pak Itam menjadi catatan tersendiri di hati para wisatawan yang berkunjung ke Pulau Panjang.(dede rosadi)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved