Jumat, 10 April 2026

Anggota DPRA Minta Pemerintah Bentuk Tim Khusus Kopi Gayo  

Kabar kopi gayo terkontaminasi racun rumput yang menghebohkan masyarakat Dataran Tinggi Gayo dalam beberapa hari ini

Editor: bakri
SERAMBI/BUDI FATRIA
Petani memetik kopi arabika Gayo di Kampung Jamur Ujung, Kecematan Wih Pesam, Bener Meriah, Rabu (23/10/2019). 

BANDA ACEH - Kabar kopi gayo terkontaminasi racun rumput yang menghebohkan masyarakat Dataran Tinggi Gayo dalam beberapa hari ini juga menjadi perhatian dua anggota DPRA asal Dataran Tinggi Gayo, Hendra Budian dan Bardan Sahidi.

"Bagi saya, pemerintah harus turun tangan untuk meluruskan persoalan ini kepada masyarakat, agar tidak terjadi kegamangan pada petani. Kami juga meminta dinas terkait segera bentuk tim khusus," kata Hendra kepada Serambi, Senin (28/10/2019).

Politisi Golkar itu menyatakan, sudah saatnya pemerintah mengatur regulasi produksi kopi dari hulu hingga hilir. Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh tidak boleh diam. "Kami meminta Pemerintah Aceh untuk segera mencari solusi terbaik," ujar dia.

Jika tidak disikapi dengan bijak dan cepat, sambung Hendra, ditakutkan isu kopi gayo mengandung racun akan menjadi permainan di berbagai tingkatan, sehingga yang dirugikan kemudian adalah petani kopi itu sendiri.

"Karena itu, saya mendesak Pemerintah Aceh melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh untuk meluruskan persoalan itu dan menjelaskannya kepada petani. Selain itu cari solusi agar hal serupa tidak terulang lagi dikemudian hari," ungkap dia.

Anggota DPRA dari PKS, Bardan Sahidi juga tidak membantah adanya perlakuan instan petani kopi dalam membasmi rumput, yaitu dengan cara menyemprotkan herbisida. Akan tetapi, menurut dia jumlahnya sangat sedikit.

"Kalau disebutkan kopi gayo terkontaminasi residu racun, tidak semuanya, jangan mengeneralkan semua kopi gayo," ungkap Bardan Sahidi yang saat dihubungi Serambi, kemarin, sedang berada di Aceh Tengah.

Menurut Bardan, penggunaan racun rumput juga baru belakangan ini terjadi, yakni mulai dari tahun 2000-an. Petani menggunakan racun rumput tersebut tanpa dibarengi edukasi dari pemerintah. Selain itu, regulasi dari pemerintah tentang pola tanam organik juga sangat lemah. “Kita merindukan keberadaan penyuluh pertanian. Sampai saat ini belum pernah penyuluh datang ke kebun," ungkap Bardan Sahidi.

Di samping itu, ia juga menduga bahwa isu ini sengaja dihembuskan oleh pembisnis internasional jelang panen raya kopi gayo pada bulan November dan Desember agar harga kopi gayo jatuh. Sebab saat ini kopi Brazil dan Vietnam sedang terdampak salju. Atau bisa jadi, karena selama ini kopi gayo dikirim via Pelabuhan Balohan, Sumatera Utara.

“Sebelum dikirim, kopi gayo diblending (campur) dengan kopi lain oleh pihak tertentu, sehingga kualitas kopi gayo menjadi beda,” duganya.

Namun apapun yang terjadi, Hendra dan Bardan tetap mendorong Pemerintah Aceh untuk menyikapi persoalan itu dengan segera. Sehingga petani yang sedang menunggu musim panen raya tidak dirugikan dengan isu itu.(mas)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved