Salam

Terowongan Geurutee Jangan Sebatas Wacana  

KETUA Fraksi PAN DPRA, Muchlis Zulkifli ST, mendesak Pemerintah Aceh untuk memprioritaskan pembangunan terowongan Geurutee

Terowongan Geurutee Jangan Sebatas Wacana   
Kendaraan melintasi titik bongkahan batu yang terancam tumpah ke badan jalan di lintas Gunung Geurutee, Kecamatan Jaya (Lamno), Aceh Jaya 

KETUA Fraksi PAN DPRA, Muchlis Zulkifli ST, mendesak Pemerintah Aceh untuk memprioritaskan pembangunan terowongan Geurutee di Kecamatan Jaya, Aceh Jaya, dan mengusulkan kegiatan ini dalam proyek strategis nasional (PSN). Alasannya, karena terowongan tersebut kini menjadi kebutuhan mendesak. "Jalan di daerah itu sempit dan pernah menelan korban jiwa akibat kecelakaan lalu lintas."

Dujelaskan, kondisi jalan yang ada sekarang, terutama di daerah ruas jalan Geurutee tidak layak dilintasi pengendera mobil, khususnya yang berbadan lebar. Sangat sulit dilewati karena jalan tersebut sempit dan juga rawan bencana longsor. Sudah tak terhitung berapa kali peristiwa bebatuan jatuh ke badan jalan dari kaki gunung, yang menghentikan arus lalu lintas. "Kalau dibangun terowongan Geurutee akan memperpendek jarak tempuh dari pantai barat Aceh ke ibu kota provinsi, yakni Kota Banda Aceh dan memudahkan lalu lintas arus barang dan jasa," kata Muchlis.

Wakil rakyat ini berharap Pemerintah Aceh bisa memperjuangkan agar program ini masuk dalam PSN pada era Pemerintahan Jokowi perode kedua ini. Apalagi, wacana pembangunan terowongan Geurutee itu sudah dimasukkan dalam genda rencana pembangunan jangka menengah (RPJM) Aceh. "Pembangunan terowongan Geurutee kita dorong dari dana APBN, makanya Pemerintah Aceh harus sering menyampaikannya ke Pusat dan dewan sangat mendukung." Lintas Geurutee itu merupakan jalan yang sekurangkurangnya untuk melayani sekitar satu juta jiwa warga Aceh bagian barat dan selatan.

Yang paling urgen lintasan itu untuk memperlancar akses masyarakat Barsela ke ibu kota Provinsi Aceh dalam berbagai urusan seperti bidang ekonomi, pendidikan, pelayanan kesehatan, pemerintahan, sosial, dan hal lainnya. Tentu, mayoritas masyarakat Aceh sangat menginginkan  adanya terowongan Geurutee. Sebab, selama ini, setiap kali musim hujan seperti sekarang, jalanan itu paling sering tertutup longsor hingga arus lalu lintas macet total berjam-jam menunggu pembukaan kembali jalan yang sudah tertimbun batu-batu besar, tanah, dan  pepohonan tumbang.

Setiap kali jalanan itu terutup longsor, pastilah banyak sekali warga yang terganggu aktivitas atau mobilitasnya. Para pegawai, anak sekolah, orang sakit, pedagang, dan lain-lain sering sekali mengeluh karena jalan lintas antara Banda Aceh-Lamno itu sering terjadi longsor, khususnya di musim hujan seperti sekarang. Makanya, kita sependapat memberikan dukungan moral kepada Pemerintah Aceh dan DPRA untuk berjuang serius ke Pusat agar rencana pembangunan  erowongan Geurutee itu bisa masuk dalam PSN. Selama ini, entah sadar atau tidak, kita hanya ingat wacana pembangunan terowongan Geurutee hanya pada musim hujan atau ketika jalan lintas Geurutee baru saja dilanda longsor.

Sekali lagi, harus ada usaha keras bersama eksekutif dan legislatif terutama para anggora DPR-RI dan DPD-RI asal Aceh untuk menggoalkan keinginan ini PSN. Selain soal terowongan Geurutee, jalan lintas Jantho- Lamno hendaknya bisa diprioritaskan penyelesaiannya sehingga akan bisa menjadi lintas alternatif kapada masyarakat ketika lintas Geurutee terganggu. Apalagi, proyek jalan dan jembatan lintas Jantho-Lamno itu terbilang sebagai proyek multiyears yang sudah sangat lama seperti terbengkalai.

Sudah puluhan tahun lalu dimulai pembangunan jalan dan jembatan di lintas itu, tapi hingga sekarang belum selesai. Sebab, saat ini bicara Aceh adalah bicara tentang kemiskinan. Dan, bicara kemiskinan tak terlepas dari bicara infrastruktur. Bicara infrastruktur sudah pasti bicara  investasi.

Dan, untuk proyek-proyek infrstruktur seperti jalan dan jembatan, terutama di Aceh, investasinya ya mutlak dari pemerintah. Sangat sulit swasta lokal, nasional, dan internasional mau menanam modal untukpembangunan infrastruktur seperti di Aceh ini. Jadi, kita sangat berharap perhatian dari pemerintah Pusat.

Sebab, anggaran Provinsi Aceh tak kuat untuk membiayai proyek seperti pembangunan terowongan Geurutee. Maka, pandai-pandailah "merayu" Pusat, sebab bagaimana pun masyarakat pantai barat dan selatan Aceh sudah tak sabar menginginkan akses yang lancar dengan ibu kota provinsi ini.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved