Santri Dayah Ulee Titi Juara Festival Baca dan Tulis Manuskrip  

Tgk Muhammad Siddiq dari Dayah Ulee Titi, Gampong Siron, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, tampil sebagai juara pertama Festival

Santri Dayah Ulee Titi Juara Festival Baca dan Tulis Manuskrip   
DOK DINAS PENDIDIKAN DAYAH ACEH
Para juara Festival Baca dan Tulis Manuskrip/Kitab Santri Dayah Se-Aceh foto bersama dengan panitia seusai pembagian hadiah di Hotel Mekkah, Banda Aceh, Rabu (5/11/2019) malam. DOK DINAS PENDIDIKAN DAYAH ACEH 

BANDA ACEH - Tgk Muhammad Siddiq dari Dayah Ulee Titi, Gampong Siron, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, tampil sebagai juara pertama Festival Baca dan Tulis Manuskrip/Kitab Santri Dayah Se-Aceh Tahun 2019. Sementara juara kedua dan ketiga diraih Tgk Muhammad Faisal dari Dayah Babussalam Al-Hanafiyyah, Gampong Blang, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara, dan Tgk Amsari dari Dayah Muzammil Al-Aziziyah, Gampong Alukh Nangke, Kecamatan Tanah Alas, Aceh Tenggara.

Atas prestasi itu, juara I, II, dan III, mendapat hadiah berupa uang pembinaan masing-masing Rp 8 juta, Rp 7 juta, dan Rp 6 juta, ditambah trofi. Festival yang dilaksanakan Dinas Pendidikan Dayah Aceh tersebut berlangsung di Hotel Mekkah, Banda Aceh, pada 5-7 November 2019. Kegiatan yang diikuti 23 peserta dari 23 kabupaten/kota se-Aceh, itu ditutup oleh Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, H Usamah El-Madny SAg MM, yang diwakili Sekretaris Dinas, Azhari SAg MSi, pada Rabu (6/11) malam.

Azhari saat membacakan sambutan Kadis Pendidikan Dayah Aceh, antara lain mengatakan, manuskrip merupakan khazanah kekayaan intelektual yang dimiliki bangsa yang kaya dan penuh keragaman ini. Dalam manuskrip, sebutnya, mengandung informasi yang sangat berlimpah, baik petunjuk maupun pedoman dalam keseharian yang mencakup berbagai bidang seperti agama, tata bahasa, sejarah, hukum, adat, dan obat-obatan.

Di Aceh, sambung Azhari, koleksi manuskrip banyak menyebar di ziwayah dan dayah serta koleksi perorangan. Salah satu hal terpenting dan tidak dapat diragukan lagi adalah keterlibatan ziwayah dan dayah di Aceh dalam melahirkan manuskrip-manuskrip sebagai khazanah yang berlimpah, tradisi budaya pendidikan, penulisan dan penyalinan, hingga transfer knowledge (pengajaran keilmuan) sebagai media utama perkembangan intelektual dan khazanah tersebut.

Karena itu, kata Azhari, tradisi tersebut patut dipertahankan dan dikembangkan dalam era kekinian, salah satunya oleh Dinas Pendidikan Dayah Aceh. Ditambahkan, Pemerintah Aceh sangat berharap dengan festival baca dan tulis manuskrip/kitab santri dayah se-Aceh ini akan menumbuhkan minat membaca dan menulis dalam aksara Arab-Jawi di kalangan santri.

Sementara Ketua Panitia, Drs Muhammad Nasir, menjelaskan, maksud dan tujuan festival baca dan menulis manuskrip itu antara lain untuk menumbuhkan minat baca dan menulis dalam aksara Arab-Jawi di kalangan santri, meningkatkan pengetahuan terhadap manuskrip Arab-Jawi dan mendapatkan santri yang unggul dalam bidang tersebut, serta menjadi duta dalam mempromosikan tulisan Arab-Jawi secara khusus di dayah atau pesantren secara meluas di masyarkat.

Adapun peserta festival itu, sebut Muhammad Nasir, adalah 23 santri dari 23 kabupaten/kota di Aceh. "Dewan hakim  yang kita undang pada acara ini adalah Drs Mohd Kalam Daud MAg (ketua), Tgk Tarmizi A Hamid (sekretaris), Hermansyah MTh MHum, Tgk Edi Syuhada SS STH, Tgk Mustafa Husen Woyla SPdI (anggota), serta T Zaini SPd (panitera)," rinci Drs Muhammad Nasir yang juga Kabid Pemberdayaan Santri Dinas Pendidikan Dayah Aceh. (jal)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved