Salam

Banda Aceh Masih Butuh Mall Dan Hotel Berkelas  

Keluhan masyarakat Banda Aceh dan sekitarn7ya yang kekurangan tempat hiburan dan sarana belanja di dalam kota

Banda Aceh Masih Butuh Mall Dan Hotel Berkelas   
SERAMBI/HERIANTO
Walikota Banda Aceh, Aminullah Usman sedang menjelaskan kondisi terminal Labi-Labi Keudah kepada Chairman Nun Group Ahmad Mohd Adnan, yang akan dijadikan lokasi mal dan hotel, Senin (11/11). 

Keluhan masyarakat Banda Aceh dan sekitarn7ya yang kekurangan tempat hiburan dan sarana belanja di dalam kota, kelihatannya akan terjawab dua atau tiga tahun ke depan. Selain adanya Trans Studio Mall yang sedang dibangun di sekitaran Lampineung, sebuah perusahaan Malaysia juga sedang menjajaki pembangunan mall dan hotel di lokasi eks terminal labi-labi, di kawasan Keudah, Kecamatan Kutaraja.

Sebnagaimana diberitakan harian ini kemarin, Nun Group, sebuah perusahaan dari Malaysia yang bergerak di bidang perhotelan dan mall, ingin berinvestasi di Kota Banda Aceh. Chairman Nun Group, Ahmad Mohd Adnan, bersama rombongan seusai melakukan pertemuan dengan Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman, langsung meninjau lokasi rencana pembangunan mal dan hotel yang ditawarkan Wali Kota di bekas terminal angkutan kota itu.

“Dengan luas area hampir 20.000 meter persegi (2 hektare), lahan ini sangat cocok untuk dijadikan lokasi mall dan hotel. Apalagi letaknya sangat strategis di tengah Kota Banda Aceh. Nilai plusnya lagi, view atau pemandangan Krueng Aceh yang sarat nilai sejarah," kata Wali Kota.

Sang calon investor menyatakan sangat tertarik pada lokasi itu. Bahkan dia menyatakan setuju rencana pembangunan mal dan hotel di lokasi itu. Pembicaraan malah sudah sampai ke hal-hal yang sifatnya teknis. “Pemko Banda Aceh usul enam lantai, termasuk parkir bawah tanah (basemant), tapi kami minta 10 lantai,” tutur Ahmad Mohd Adnan.

Daya dorong investasi pengusaha Malaysia itu ternyata selain karena bisnis mall dan perhotelan yang memang sangat menjanjikan, ternyata saat ini setia akhir cukup banyak warga dari negeri jiran itu yang berlibur ke Banda Aceh, Aceh Besar, dan Sabang. “Selain Pemko Banda Aceh sangat wellcome pada kami, sekarang ini banyak warga Malaysia yang berlibur ke Banda Aceh, terutama setiap hari Jumat, Sabtu  dan Minggu,” kata sang calon investor.

Harapan banyak warga Kota Banda Aceh dan sekitarnya adalah cepat hadirnya tempat belanja dan bermain anak di pusat ini. Sebab, dalam beberapa tahun belakangan ini, banyak masyarakat yang sulit mendapat tempat bermain yang nyaman bagi anak-anak mereka. Satu-satunya mal yang ada di kawasan Seutui secara terpaksa menjadi pilihan bagi tempat bermain dan berbelanja setiap akhir pekan.

Mall itu seolah tak sanggup menampung pengunjung. Area parkir yang tersedia hanya sanggup menampung sebagian kendaraan pengunjung. Selebihnya memilih parkir di tepi jalan, halaman masjid, dan lain-lain. Dan, di akhir pekan, jalan depan mall itu sering macet. Tapi, karena tak ada pilihan lain, masyarakat rela bermacet-macet dan antre lama-lama untuk mendapatkan tempat parkir kendaraannya.

Bagi masyarakat kelas menengah, kini cenderung memilih berlibur ke Malaysia, Penang, atau Medan untuk wisata hiburan dan belanja. Di Kuala Lumpur, Penang, atau Medan, biasanya warga Aceh banyak menghabiskan waktu dan duit di mall, tempat-tempat makan, tempat mainan anak, dan bioskop untuk nonton film-film terbaru.

Oleh sebab itulah, adanya minat investor-investor luar untuk menanam modalnya di Aceh harus didukung serta diberi kemudahan, apalagi investasi mereka terkait langsung dengan kebutuhan masyarakat banyak. Masyarakat membutuhkan hiburan, tempat makan yang nyaman, tempat main anak yang bersih, dan lain-lain.

Di sisi lain, pemerintah juga berkepentingan atas kehadiran investasi guna membuka lapangan kerja, menggerakkan sektor riil, dan menambahkan pemasukan pajak. Pemerintah kota-kota besar sudah sangat sadar bahwa mall dan hotel adalah kebutuhan masyarakat. Dan, kehadiran fasilitas-fasilitas itu sudah diantisipasi dampak positif dan negatifnya.

Di sisi lain, masyarakat juga harus diajak berpikir positif bahwa setiap kahadiran mall dan hotel oleh investasi luar, akan mendatangkan manfaat bagi masyarakat luas termasuk pengaruhnya terhadap perekonomian masyarakat dan perekonomian daerah. Makanya, pemerintah harus menjamin setiap kehadiran investasi baru harus bermanfaat terhadap perekonomian masyarakat, terutama menyerap tenaga agar tak terjadi penolakan seperti yang sudah sering terjadi.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved