Kaum Ibu Adang Truk PLTU, Tuntut Kejelasan Relokasi

Puluhan warga Desa Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir, Nagan Raya, Kamis (14/11) sekira pukul 10.00 WIB, melancarkan aksi

Kaum Ibu Adang Truk PLTU, Tuntut Kejelasan Relokasi
Serambinews.com
Truk terpaksa parkir dipinggir jalan nasional karena jalur ke proyek PLTU 3-4 di Suak Puntong, Nagan Raya ditutup sejumlah warga, Kamis (14/11/2019). 

SUKA MAKMUE - Puluhan warga Desa Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir, Nagan Raya, Kamis (14/11) sekira pukul 10.00 WIB, melancarkan aksi mengadang truk proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 3-4 di kawasan tersebut. Pasalnya, pihak pemerintah dan perusahaan belum merealisasikan rencana ganti rugi tanah dan rumah mereka untuk direlokasi ke tempat lain.

Aksi yang dilancarkan oleh kaum ibu-ibu dari Dusun Gelanggang Merak, Desa Suak Puntong itu dilakukan dengan menutup jalan menuju proyek PLTU 3-4 yang sedang dalam proses pembangunan. Lokasi PLTU 3-4 tersebut letaknya berdampingan dengan PLTU 1-2 milik PT PLN yang kini sudah beroperasi.

Dampak aksi kaum emak-emak ini mengakibatkan puluhan truk proyek terhenti dan tidak  dapat bekerja. Truk berbadan besar yang biasanya mengangkut material tanah timbun tersebut terpaksa berhenti di pinggir jalan menuju ke lokasi pembangunan PLTU 3-4 karena pagar ditutup oleh  peserta aksi.

Sejumlah aparat kepolisian dan TNI ikut mengamankan lokasi itu. Sempat terjadi negosiasi dengan pihak PLTU tetapi tidak membuahkan hasil. Namun begitu, sekira pukul 14.00 WIB, warga mengakhiri aksi mereka meski tuntuannya belum membuahkan hasil. Setelah aksi berakhir, aktivitas penghangkutan material pembangunan PLTU 3-4 itu kembali normal karena warga sudah membubarkan diri.

Cut Wardah, seorang peserta aksi kepada wartawan mengungkapkan, aksi itu mereka lakukan guna  menuntut sejumlah persoalan yang hingga kini belum direalisasikan. “Kami menuntut sejumlah hal yang dijanjikan kepada kami. Seperti sampai sekarang belum ada kejelasan kapan direlokasi, termasuk ganti rugi tanah dan rumah kami karena direncanakan akan direlokasi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, beberapa waktu lalu, pihak PLTU Nagan Raya 1-2 dan PLTU 3-4 beserta PT Mifa Bersaudara dan PT Bara Energi Lestari (BEL), yang selama ini melakukan aktivitas di wilayah dusun mereka, pernah berjanji akan merelokasi warga ke tempat yang aman dari paparan debu batu bara. Pihak perusahaan itu, beber Cur Wardah, berjanji akan membayar ganti rugi tanah dan rumah warga yang mereka huni selama ini. “Karena selama ini kami terus dikepung debu setiap hari, sehingga tidak memungkinkan lagi tinggal di dusun ini (Dusun Gelanggang Merak),” tandasnya.

Lebih lanjut, Cut Wardah mengungkapkan, pengukuran tanah dan rumah warga yang akan direlokasi dan diganti rugi sudah dilakukan oleh tim gabungan pemerintah dan perusahaan, beberapa bulan lalu. Jumlahnya mencapai 65 unit rumah di Dusun Gelanggang Merak, Desa Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir, Nagan Raya. “Untuk tahap pertama, dijanjikan dibayar 36 unit dulu. Namun kenyataannya, sejauh ini hanya janji dan belum juga direalisasikan,” sergah warga Dusun Gelanggang Merak itu.

Terkait tuntutan aksi pada Kamis (14/11/2019) itu, beber Cut Wardah, pihak PLTU menyatakan kepada warga bahwa mereka akan menyampaikan kepada pimpinannya terkait janji ganti rugi dan relokasi tersebut. “Kami meminta segera direlokasi. Kami terus tersiksa dengan debu,” pungkasnya.(riz)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved